Peluncuran JAFF Market 2026 (Foto: Medcom/Rafi)
Peluncuran JAFF Market 2026 (Foto: Medcom/Rafi)

JAFF Market 2026 Kembali Hadir, Dorong Ekosistem Sinema Indonesia ke Pasar Global

Rafi Alvirtyantoro • 26 Juni 2026 18:05
Ringkasnya gini..
  • JAFF Market 2026 kembali digelar di Yogyakarta pada 28–30 November untuk membangun ekosistem sinema yang integratif dan berkelanjutan.
  • Industri film Indonesia terbukti tangguh dengan rekor 13 film lokal yang berhasil menembus satu juta penonton pada paruh pertama 2026.
  • JAFF Market dan Amar Bank bersinergi dengan BPI serta asosiasi profesi untuk meningkatkan standar kompetensi pekerja film nasional.
Jakarta: Perkembangan industri sinema tanah air yang kian kompetitif dan melaju pesat mendorong Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) untuk kembali menyelenggarakan JAFF Market. Acara ini bakal digelar di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, pada 28–30 November 2026.

Mewujudkan Ekosistem Sinema Berkelanjutan

Pada gelaran tahun ketiga ini, JAFF Market akan mewujudkan ekosistem sinema yang lebih integratif, berkelanjutan, serta kompetitif di kancah global. Acara ini memiliki misi untuk mempertemukan seluruh elemen industri, mulai dari sineas, produser, penanam modal, distributor, hingga lembaga penyokong.
 
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengatakan bahwa Kementerian Kebudayaan terus mendukung JAFF Market sebagai wujud nyata komitmen negara dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional.
 
"Kita tidak hanya ingin menjadi pasar bagi film-film dunia, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi, distribusi, dan pembiayaan agar semakin banyak karya Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional," kata Fadli Zon, di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, pada Jumat, 26 Juni 2026.

Fadli Zon menjelaskan bahwa sinergi antarsektor menjadi fondasi utama demi menjaga napas industri layar lebar domestik. Ia berharap ekosistem perfilman Indonesia bisa berkembang secara inklusif dan berkelanjutan.
 
JAFF Market sendiri telah memegang peran strategis dalam menyediakan ruang interaksi yang efektif untuk memperluas jaringan, menciptakan terobosan baru, dan membuka jalan bagi sineas lokal di pasar global.  

Daya Tahan Industri di Tengah Tantangan Ekonomi

Meski situasi ekonomi global sedang mengalami perlambatan, dunia sinema Indonesia terbukti tetap tangguh. Merujuk data tulisan Cinepoint bertajuk Industry Trends and Performance in H1 2026, tercatat ada 13 film lokal yang sukses menembus angka satu juta penonton sebelum paruh pertama tahun ini usai.
 
Rekor tersebut menjadi pencapaian paling kilat dibanding periode serupa pada tahun-tahun sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa karya anak bangsa kian diminati oleh masyarakat luas.
 
Market Director JAFF Market, Linda Gozali, menilai perkembangan yang terjadi itu menjadi sinyal bahwa industri film Indonesia memasuki fase yang semakin matang. Menurutnya, tantangan industri saat ini tidak lagi hanya menghasilkan lebih banyak film, tetapi juga memastikan setiap proyek memiliki akses terhadap pembiayaan, pasar, serta peluang kolaborasi yang lebih luas.
 
"Di sinilah JAFF Market mengambil peran sebagai market hub. Kami melihat semakin banyak proyek menemukan mitra pendanaan, talenta memperoleh peluang pengembangan, dan IP Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas,” ucap Linda Gozali.
 
“Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap platform industri seperti JAFF Market terus meningkat, seiring semakin besarnya minat investasi dan kolaborasi di sektor perfilman," lanjutnya.  

Infrastruktur untuk Kolaborasi dan Pengembangan Bisnis

Selaras dengan tanggapan tersebut, Festival Director JAFF, Ifa Isfansyah menyampaikan bahwa lonjakan industri harus dibarengi dengan pembenahan sistem yang mampu mempertemukan para kreator dengan target pasar serta investor.
 
“Indonesia memiliki talenta dan kekayaan intellectual property (IP) yang besar, namun masih membutuhkan infrastruktur industri yang mampu memperluas peluang kolaborasi and pengembangan bisnis secara berkelanjutan,” jelasnya.
 
Guna merealisasikan target tersebut, JAFF Market 2026 kembali menghadirkan deretan program inti yang menyentuh seluruh rantai produksi. Program-program tersebut meliputi Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film Lab, Film & Market Conference, Market Screening, Company Showcase, Networking Events, hingga JAFF IP Connection (yang sebelumnya bertajuk JAFF Content Market).
 
Sebagai langkah konkret membenahi ekosistem dari sektor hulu ke hilir, JAFF Market 2026 merangkul Badan Perfilman Indonesia (BPI) beserta deretan asosiasi profesi seperti APROFI, IFDC, PILAR, INAFEd, ICS, dan ACI untuk meningkatkan standar kompetensi pekerja film lokal.
 
Melalui kemitraan strategis ini, para pelaku industri diharapkan bisa mengeksplorasi pemanfaatan teknologi baru serta strategi bisnis modern demi mendongkrak daya saing sinema Indonesia di skala regional maupun global.
 
Di sisi lain, JAFF Market aktif membawa nama Indonesia ke panggung internasional lewat keterlibatan di berbagai forum bergengsi dunia, seperti Marché du Film di Cannes, Asian Contents & Film Market di Busan, serta Asia TV Forum & Market (ATF) di Singapura. Eksistensi global ini dibangun demi mempromosikan kekayaan intelektual (IP) lokal sekaligus membuka keran investasi baru bagi industri film tanah air.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA