Fauzan mengatakan bahwa keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia membuat ruang penayangan film menjadi sangat terbatas.
“Kita perlu pahami bersama bahwa layar kita memang kurang. Kebutuhannya mungkin 10.000 layar, sekarang kan baru 2.500. Dengan layar yang keterbatasan itu juga akhirnya kan daftar yang harus tayang itu juga limited,” kata Fauzan Zidni di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, pada Jumat, 26 Juni 2026.
Tantangan Keterbatasan Layar Bioskop
Akibat keterbatasan tersebut, antrean film yang siap tayang di bioskop menjadi cukup panjang. Namun, Fauzan menilai bahwa industri tidak bisa hanya bergantung pada investasi penambahan layar baru yang membutuhkan waktu lama.“Makanya kalau dilihat antriannya masih cukup panjang segala macam, itu hal yang perlu kita admit. Tapi kan juga nggak bisa nunggu investasi layar lebih banyak karena biayanya besar sekali,” jelas Fauzan.
Fauzan Zidni, yang pernah menjabat sebagai Produser Eksekutif untuk produksi orisinal Disney+ hingga Februari 2024, menggunakan pengalamannya untuk menegaskan bahwa bioskop dan platform streaming digital atau Over-the-Top (OTT) sebenarnya saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan.
“Ini dua-duanya bukannya substitutif, tapi saling melengkapi. Film-film yang sangat sukses di bioskop, itu akan sangat sukses di OTT,” tutur Fauzan.
Pengaruh Kesuksesan Bioskop terhadap Nilai OTT
Menurut Fauzan, kesuksesan sebuah film di bioskop akan mendongkrak nilai lisensi yang diberikan oleh platform streaming digital. Kesuksesan di layar lebar menjadi indikator kuat bagi performa film tersebut di platform digital.“Kalau misalnya angka penontonnya jutaan, harga licensing fee-nya juga lebih tinggi di OTT, karena bagaimanapun itu akan men-drive penonton,” ucap Fauzan.
“Kalau di OTT itu yang dilihat berapa banyak orang sign-up karena judul itu, berapa banyak orang yang menonton judul itu, berapa menit film itu ditonton,” lanjutnya.
Fauzan kembali menegaskan bahwa kehadiran platform streaming digital bukanlah ancaman bagi industri bioskop. Sebaliknya, platform streaming justru mengandalkan rekam jejak kesuksesan film di bioskop sebelum memutuskan untuk menayangkannya.
“Gak bisa cuman misalnya film, 'Oh karena nggak dapet tanggal tayang di bioskop, dia akan ke OTT,' karena OTT juga nggak akan beli yang seperti itu. Dia akan mencari film yang sukses di bioskop,” ungkap Fauzan.
Pengaturan Jeda Waktu Penayangan
Dalam kesempatan tersebut, Fauzan juga menyoroti pernyataan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengenai pentingnya pengaturan jeda waktu (window) penayangan film dari bioskop ke platform streaming digital.“Ini kan tinggal bagaimana kita mengatur antara window dari bioskop ke OTT. Nggak bisa juga terlalu lama tapi juga kalau terlalu cepat akan membunuh industri bioskopnya, seperti itu,” pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda