Fadli Zon (Foto: Medcom/Rafi)
Fadli Zon (Foto: Medcom/Rafi)

Lindungi Bioskop, Fadli Zon Bakal Atur Jeda Tayang Film Indonesia ke Streaming

Rafi Alvirtyantoro • 02 April 2026 10:29
Ringkasnya gini..
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon siapkan regulasi wajib tayang film Indonesia di bioskop selama empat bulan guna mencegah penutupan layar lebar.
  • Kebijakan ini merespons krisis bioskop global di Eropa dan Korea Selatan akibat dominasi layanan streaming dan perubahan kebiasaan penonton.
  • Pengelola bioskop mulai terapkan strategi konten alternatif seperti siaran olahraga dan konser musik untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
Jakarta: Menteri Kebudayaan Fadli Zon tengah menyiapkan regulasi untuk mengatur jeda waktu penayangan film Indonesia antara bioskop dan layanan streaming digital. Langkah ini diambil guna melindungi industri perfilman nasional dari ancaman penurunan minat menonton di layar lebar.

Ancaman Digitalisasi Terhadap Bioskop

Fadli Zon menyatakan kekhawatirannya terhadap fenomena masyarakat yang mulai beralih menonton film melalui gadget. Menurutnya, jika tren ini dibiarkan tanpa regulasi, eksistensi bioskop di Indonesia bisa terancam.
 
“Bioskop bisa tutup lama-lama kalau orang sudah mulai nonton langsung di gadget,” kata Fadli Zon kepada awak media di Jakarta, Rabu, 1 April 2026.
 
Sebagai bentuk dukungan nyata, ia mengusulkan regulasi yang mewajibkan film Indonesia memiliki masa tayang eksklusif di bioskop selama empat bulan sebelum dirilis di platform digital.

Untuk mematangkan rencana tersebut, Fadli Zon akan segera berdiskusi dengan para produser film di Indonesia.  

Belajar dari Krisis Bioskop Global

Kekhawatiran ini berkaca pada kondisi di sejumlah negara, termasuk Eropa, di mana minat masyarakat untuk pergi ke bioskop menurun drastis hingga menyebabkan banyak penutupan gerai.
 
“Di Eropa orang susah masuk datang ke bioskop lagi, sangat sedikit. Banyak bioskop yang tutup,” tutur Fadli Zon.
 
Ia juga menyoroti situasi di Korea Selatan yang tetap menghadapi tantangan serupa meski industri filmnya sedang naik daun secara global.
 
“Di Korea juga sekarang meskipun filmnya luar biasa kemana-mana tetapi orang yang datang ke bioskop sudah sangat sedikit,” lanjutnya.  

Strategi Bertahan di Tengah Tekanan

Melansir dari Chosun Biz, jaringan bioskop terbesar di Korea Selatan, CGV, telah menutup beberapa cabang di negara asalnya, termasuk empat bioskop pada Maret 2025. Penurunan jumlah penonton pascapandemi dan dominasi layanan streaming membuat bisnis ini semakin tertekan, hingga memaksa puluhan karyawan melakukan pensiun dini.
 
Per Maret 2025, jumlah bioskop CGV di Korea Selatan kini tersisa 192 unit.
 
Kondisi ini memicu munculnya strategi baru guna menjaga keberlangsungan bisnis. Kini, bioskop tidak hanya menayangkan film, tetapi juga merambah ke konten alternatif seperti penayangan pertandingan olahraga hingga konser langsung artis ternama.
 
Langkah inovatif tersebut dinilai sebagai upaya krusial agar bioskop tetap relevan dan mampu bertahan di tengah gempuran layanan digital.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA