Bagi Ruben, Istimewa bukan hanya sebuah tontonan yang mengandalkan konflik dan perjalanan cerita. Film tersebut dirancang sebagai refleksi bagi penonton untuk melihat kembali makna hubungan keluarga dan pentingnya saling menyayangi.
Ruben Adrian mengatakan film Istimewa menjadi ruang untuk mengajak penonton memahami bahwa kasih sayang dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Hubungan antara ayah dan anak menjadi inti emosi yang ingin ia bangun sepanjang film.
"Iya, buat saya film Istimewa itu film yang menjadi refleksi, menjadi cermin buat kita hidup, film yang menjadi cermin ketika kita harus belajar untuk saling mengasihi dan saling memaafkan. Jadi buat saya ini film tentang cinta, tentang cinta seorang ayah dan anak-anaknya dan cinta seorang anak-anak kepada ayahnya. Itu," ungkap Ruben Adrian di Jakarta,
Kuatnya emosi yang dibangun Ruben rupanya tidak hanya dirasakan penonton dalam film, tetapi juga oleh para pemain selama proses produksi. Ajil Ditto mengaku melihat langsung bagaimana sang sutradara begitu tenggelam dalam cerita hingga beberapa kali menangis ketika berada di lokasi syuting.
Menurut Ajil, reaksi emosional Ruben justru menjadi salah satu hal yang membantu para pemain ikut merasakan suasana cerita. Ia menilai keterlibatan emosional sang sutradara menjadi modal penting untuk menghasilkan adegan yang mampu menyentuh penonton.
"Mas Ruben selama syuting dia nangis melulu. Jadi menurut gue, iya, jadi menurut gue kalau sutradara sudah nangis duluan di set, nanti pas dimasak di ruang editing, harusnya bisa bikin nangis juga, dan benar ternyata semuanya nangis pas lagi syuting," kenang Ajil.
Selain Ajil Ditto, Yanni Melwani juga merasakan kedekatan emosional yang kuat selama terlibat dalam produksi Istimewa. Pengalaman Yanni selama lima tahun berada di lingkungan anak-anak berkebutuhan khusus turut membantunya memahami pesan yang ingin disampaikan film tersebut.
Yanni melihat Istimewa sebagai cerita mengenai ikatan yang tidak selalu terbentuk karena hubungan darah. Baginya, kasih sayang dan kepedulian dapat menyatukan orang-orang dengan latar belakang berbeda hingga membentuk sebuah keluarga.
"Kalau dari saya, ‘Istimewa’ ini di mana teman-teman istimewa yang tidak tidak punya ikatan darah tapi disatukan oleh hati. Jadi mungkin kalau kita belum nonton, ini ceritanya mau ke mana ya? Tapi setelah kita nonton, kita akan tahu bahwa di dalam film ini banyak pesan yang bisa membuat kita, teman-teman yang bukan istimewa, itu punya motivasi dari teman-teman yang istimewa," jelas Yanni Melwani.
Keterlibatan Yanni dalam proyek film Istimewa juga memiliki latar belakang yang cukup dekat dengan kehidupan nyata. Sebelum film tersebut dibuat, ia telah aktif dalam kegiatan di yayasan yang menjadi tempat bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Baca Juga :
Dian Sastro Ungkap Tantangan Jadi Dokter Bedah di Film Descendants of the Sun Versi Indonesia
Film Istimewa berpusat pada kehidupan anak-anak yang tinggal di Rumah Istimewa. Mereka menjalani hari-hari dengan penuh kebersamaan dan mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah bernama Pak Mahendra.
Kehidupan mereka berubah ketika Pak Mahendra tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan kabar. Kepergian tersebut membuat anak-anak di Rumah Istimewa berusaha mencari keberadaannya dengan melakukan sebuah perjalanan penuh petualangan.
Perjalanan tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai rintangan, tetapi juga menjadi ruang bagi mereka untuk mempererat persahabatan. Gelak tawa, kebersamaan, keberanian, dan berbagai pengalaman selama perjalanan menjadi bagian penting dalam kisah Istimewa.
Film Istimewa menghadirkan sejumlah aktor dan aktris, di antaranya Mathias Muchus, Agus Kuncoro, Ajil Ditto, Yanni Melwani, Ricky Komo, Salsabila Bella, Bambang Ceper Reyn, Niatu Solihah, Maksim Mustofa, dan Zulfadli Ardiansyah.
Istimewa dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.