Disutradarai Ruben Adrian, film ini mengikuti perjalanan sekelompok anak-anak disabilitas yang tinggal di Rumah Istimewa dan memiliki ikatan erat dengan sosok Pak Mahendra yang mereka anggap sebagai ayah.
Konflik bermula ketika Pak Mahendra tiba-tiba menghilang. Kepergian sosok yang selama ini menjadi tempat mereka pulang membuat anak-anak memutuskan meninggalkan rumah untuk mencarinya. Perjalanan tersebut membawa mereka menghadapi berbagai tantangan sekaligus bertemu orang-orang baru yang mengubah cara pandang mereka tentang keluarga dan kehidupan.
Film Istimewa coba menempatkan anak-anak disabilitas sebagai tokoh utama yang menggerakkan cerita. Masing-masing karakter hadir dengan kepribadian, keberanian, dan impian yang berbeda sehingga penonton dapat melihat mereka sebagai individu yang utuh, bukan sekadar pelengkap cerita.
Baca Juga :
Ernest Prakasa Ungkap Alasan Film Operasi Pesta Pora Ganti Judul Jadi Operasi Pesta Copet
Ruben Adrian mengatakan bahwa proses kreatif film ini lahir dari berbagai pengalaman nyata yang dibagikan langsung oleh anak-anak disabilitas. Cerita-cerita tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah kisah yang diharapkan mampu menyentuh hati penonton dari berbagai kalangan.
"Sejak awal kami ingin menghadirkan film yang bisa mengubah cara pandang seseorang dan dinikmati semua kalangan. Ada tawa, ada petualangan, ada momen-momen yang hangat, tetapi di saat yang sama penonton juga diajak mengenal anak-anak ini sebagai manusia yang utuh. Yang membuat Istimewa begitu berarti bagi kami adalah karena film ini lahir dari berbagai kisah nyata yang kami dengarkan langsung dari teman-teman Istimewa," kata Ruben Adrian.
"Kisah-kisah itu kemudian kami rangkai menjadi sebuah simfoni perjalanan yang penuh harapan, keberanian, dan kasih sayang. Melalui perjalanan mencari Ayah, kami berharap penonton ikut merasakan bahwa rumah dan keluarga bisa hadir lewat penerimaan, kasih sayang, dan orang-orang yang memilih untuk tetap bersama, dengan berpijak pada nilai saling memaafkan dan saling mengasihi," lanjutnya.
Trailer resmi yang baru dirilis memperlihatkan suasana hangat di Rumah Istimewa sebelum cerita berkembang menjadi petualangan yang penuh kejutan. Adegan-adegan yang ditampilkan memadukan humor, persahabatan, dan emosi ketika anak-anak berusaha menemukan sosok ayah yang sangat berarti dalam hidup mereka.
Sementara itu, poster resmi film menampilkan seluruh penghuni Rumah Istimewa berdiri bersama di depan rumah yang selama ini menjadi tempat mereka tumbuh. Visual tersebut menggambarkan bahwa makna rumah tidak selalu berkaitan dengan bangunan, melainkan tentang kehadiran orang-orang yang saling menerima dan menyayangi.
Aktor senior Mathias Muchus yang memerankan Pak Mahendra mengaku langsung tertarik dengan cerita yang diusung film ini. Menurutnya, Istimewa membawa pesan sederhana yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
"Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan,” kata Mathias Muchus.
Salah satu pemeran anak, Aldi, berharap kehadiran Istimewa dapat memberikan semangat baru bagi anak-anak disabilitas di Indonesia. Ia bangga karena kisah yang dialaminya menjadi inspirasi dalam film tersebut.
"Aku bangga bisa jadi bagian dari Istimewa. Aku senang kisahku diangkat ke dalam film ini. Semoga film ini bisa jadi motivasi untuk anak-anak disabilitas kembali bangkit meraih mimpi masing-masing, dan membuktikan bahwa teman-teman Istimewa juga mampu berkarya. Semoga Istimewa ditonton seluruh masyarakat Indonesia dan dunia,” ujar Aldi.
Film Istimewa dibintangi Mathias Muchus, Yanni Melwani, Mustofa, Niatus Sholihah, Zulfadli Aldiansyah, Rein, Bambang Ceper, Salsabila Bella, Ricky Komo, Fauzan Nasrul, Ajil Ditto, Agus Kuncoro, dan Ence Bagus.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda