Pengurus Badan Perfilman Indonesia periode 2026–2030 (Foto: Medcom/Rafi)
Pengurus Badan Perfilman Indonesia periode 2026–2030 (Foto: Medcom/Rafi)

Soal Kritik Delegasi Film Indonesia ke Cannes 2026, Ini Tanggapan BPI

Rafi Alvirtyantoro • 31 Juli 2026 11:32
Ringkasnya gini..
  • Ketua Umum BPI Fauzan Zidni membantah anggapan bahwa seluruh delegasi Indonesia ke Cannes 2026 dibiayai penuh oleh dana negara.
  • Pemerintah kini dinilai lebih selektif dalam memfasilitasi sineas dan program film yang lolos seleksi festival internasional.
  • Kehadiran sineas di festival dunia merupakan bentuk peran negara dalam memajukan kebudayaan nasional sesuai amanat UUD 1945.
Jakarta: Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, memberikan tanggapan mengenai kritik yang ditujukan kepada delegasi Indonesia di Festival Film Cannes 2026.
 
Fauzan menegaskan bahwa anggapan mengenai delegasi Indonesia yang seluruhnya dibiayai negara ke Festival Film Cannes adalah tidak benar. Ia menyebut sejumlah sineas bahkan menggunakan biaya pribadi.
 
“Gak semua orang yang berangkat ke Cannes gitu dapat fasilitasi itu. Banyak juga kayak Mbak Bubu (Nazira C. Noer) berangkat bayar sendiri. Kak Sindy (Sindy Dewiana) berangkat bayar sendiri. EB (Yulia Evina Bhara) bayar sendiri,” kata Fauzan Zidni dalam pertemuan tertutup di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum lama ini.
 

Namun, ia tidak menampik adanya pihak yang mendapatkan pembiayaan dari pemerintah, selama mereka memiliki program di festival tersebut dan kuota masih tersedia.

“Selama ada program, selama filmnya terseleksi, minta fasilitasi. Kalau memang jatah fasilitasinya ada, itu akan difasilitasi,” tambah Fauzan.

Rekam Jejak Pengiriman Delegasi Film di Masa Lalu

Fauzan kemudian mengenang masa ketika sejumlah oknum justru mendapatkan kesempatan berangkat ke luar negeri sebagai delegasi Indonesia di industri perfilman. Mirisnya, sineas lokal justru tidak ada dalam rombongan tersebut.
 
“Ada rombongan 20 orang yang dikirim dan itu rombongan EO dan keluarga. Keluarga dari oknum, istilahnya. Kita protes semua itu sampai dulu demo. Situasinya kayak begitu. Dulu yang difasilitasi oknum. Filmmaker-nya gak ada,” ujar Fauzan.
 
Salah satu kenangan pahit yang masih tersimpan dalam ingatannya adalah keberhasilan film What They Don't Talk About When They Talk About Love yang berkompetisi di Festival Film Sundance pada tahun 2013. Kala itu, perwakilan dari film tersebut harus menggunakan dana pribadi untuk hadir di acara bergengsi tersebut.
 
“Film kami waktu itu, 'What They Don't Talk About When They Talk About Love', terseleksi kompetisi di Sundance, gak dapat dukungan apa-apa. Tahun 2013, bayar sendiri semuanya.,” kenang Fauzan.

Perbaikan Evaluasi Pemerintah dan Dukungan bagi Sineas

Pada kesempatan itu, Fauzan memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah melakukan evaluasi dengan lebih baik terkait dengan pengiriman delegasi Indonesia ke festival film internasional serta aktivasi di dalamnya.
 
“Kalau menurut saya, yang sudah dilakukan sudah cukup bagus. Jadi ketika filmnya terseleksi, itu akan ada istilahnya difasilitasi kepergiannya, beberapa saja,” jelas Fauzan.
 
“Bukan cuman ngomongin festivalnya, tapi ada ngomongin kegiatan-kegiatan di market-nya. Kalau misal ada program dengan market, itu juga akan didukung,” tambahnya.

Peran Negara dalam Memajukan Kebudayaan Nasional

Fauzan Zidni menilai bahwa kehadiran film Indonesia di festival luar negeri merupakan bagian dari amanat Pasal 32 UUD 1945, di mana negara bertugas memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
 
“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Ketika (sineas) dapet dukungan itu adalah peran negara memajukan kebudayaan nasional dunia di tengah peradaban dunia bentuknya adalah fasilitasi seperti itu,” ujarnya.
 
Kehadiran BPI di festival internasional juga dinilai penting untuk mempermudah pertemuan dengan berbagai lembaga atau agensi film dunia, termasuk CNC Prancis. Salah satu contoh nyatanya adalah kerja sama dengan CNC yang menghasilkan bantuan tenaga ahli untuk membantu pembentukan kelembagaan BPI.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA