Sejak trailer resminya dirilis, film tersebut menuai respons positif di media sosial. Sejumlah warganet menilai perpaduan horor dan komedi dalam film ini terasa segar, bahkan kerap disandingkan dengan film-film horor-komedi Asia Tenggara yang dikenal mampu menyeimbangkan unsur teror dan tawa.
Sorotan utama tertuju pada kolaborasi Dodit Mulyanto dan Angga Yunanda sebagai Hestu dan Akbar. Perbincangan mengenai kemiripan keduanya ramai diperbincangkan, disertai julukan-julukan kreatif dari warganet.
Perbedaan latar belakang akting keduanya justru memperkuat dinamika cerita. Hestu digambarkan serius dan memendam amarah, sementara Akbar tampil polos, santai, serta memiliki kedekatan emosional dengan sang Nenek.
“Kontras Dodit dan Angga membuat cerita terasa lebih manusiawi dan menghibur,” ujar Fajar Martha selaku sutradara.
Ia juga menjelaskan bahwa keseimbangan antara horor dan komedi menjadi pendekatan utama sejak awal penggarapan.
“Saya ingin horor dan komedi berjalan beriringan, bukan saling meniadakan. Ketegangan tetap dibangun, tetapi karakter memberi ruang untuk tertawa,” kata Fajar.
Produser Sunil Samtani menegaskan bahwa film ini merupakan bagian dari komitmen Rapi Films mengembangkan horor-komedi berbasis budaya lokal sekaligus memberi ruang bagi talenta baru.
“Film ini memadukan mitos kematian, konflik keluarga, dan komedi karakter dalam satu cerita yang utuh. Sebelum Dijemput Nenek juga menjadi debut penyutradaraan Fajar Martha Santosa,” ujarnya.
Ia berharap penonton bisa tertawa, tegang, lalu tertawa lagi dan pulang dari bioskop dengan perasaan terhibur.
Selain pemeran utama, film ini diperkuat oleh deretan karakter pendukung dan cameo yang dirancang menyatu dengan alur cerita. Kehadiran Oki Rengga, Wavi Zihan, Nopek Novian, serta sejumlah cameo seperti Eri Pras dan Tante Ernie disebut memberi kejutan sekaligus warna komedi.
(Maulia Chasanah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News