Konferensi Pers Film Foufo (Foto: Medcom/Ratu)
Konferensi Pers Film Foufo (Foto: Medcom/Ratu)

Bayu Skak Nekat Rekrut 90 Persen Aktor Madura untuk Film Foufo

Elang Riki Yanuar • 03 Juli 2026 23:13
Ringkasnya gini..
  • Bayu Skak menghadirkan film berbudaya Madura pertama di Indonesia. Foufo diperkuat 90 persen pemain lokal berdarah Madura.
  • Foufo menggabungkan komedi, fiksi ilmiah, dan budaya Madura. Sekitar 80 persen dialog film menggunakan bahasa Madura.
  • Bayu Skak berharap Foufo membuka lebih banyak peluang bagi talenta daerah lewat proses casting dan produksi film yang lebih inklusif.
Jakarta: Skak Studios dan Sinemart mempersembahkan film berbudaya Madura pertama di Indonesia bertajuk Foufo. Film komedi fiksi ilmiah garapan Bayu Skak ini mengusung drama keluarga tentang arti berbakti dan mewujudkan mimpi orang tua.
 
Untuk menjaga keotentikan budaya, Foufo menghadirkan jajaran pemain yang hampir semuanya berdarah Madura. Mereka turut direkrut lewat sesi audisi terbuka (open casting) yang melibatkan lebih dari dua ribu peserta.
 
Bayu Skak menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan representasi budaya Madura secara autentik. Hal itu ia sampaikan dalam sebuah konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/7).  

“Anda-anda semuanya bisa melihat bahwa di film Foufo ini benar-benar berani sekali ya, selayaknya kami ini orang Jawa Timur, ini orang-orang Madura berani untuk unjuk gigi. Ini, teman-teman, 90% pemainnya adalah dari lokal semuanya,” ucapnya.  

Alasan Gandeng Aktor Madura

Film ini berkisah tentang sebuah UFO yang jatuh di Madura. Alien yang berada di dalamnya kemudian bertemu sebuah keluarga dan berusaha membantu mereka keluar dari himpitan ekonomi.
 
Namun, Tretan Muslim sebagai karakter utama bercita-cita memberangkatkan ibunya, Saiqona (Siti Kam), pergi haji.
 
Sutradara asal Malang ini mengaku bahwa ia keluar dari zona nyaman demi menggarap film Foufo. Bayu menilik fenomena maraknya tayangan luar negeri yang dikonsumsi oleh penonton Indonesia. Berangkat dari hal tersebut, ia terdorong untuk membuat film bertema universal tapi tetap kental dengan budaya lokal.
 
“Kalau misalnya jenengan semuanya nonton film ya, Anda tahu bahasa Korea enggak sebenarnya? Kan enggak tahu juga kan. Kenapa kok kita juga mau nonton Korea? Karena ya kita nuansa yang diberikan itu ya universal. Kayak ini tadi film,” ucap Bayu.
 
“Bahasanya bahasa Madura. Saya pun, teman-teman, saya tidak berbahasa Madura. Tapi kenapa saya berani? Karena yang diluangkan itu adalah sesuatu yang universal. Cinta terhadap ibu,” sambungnya.
 

80% Dialog Berbahasa Madura

Dono Pradana mengaku langsung tertarik ketika pertama kali ditawari untuk terlibat dalam proyek tersebut. Menurutnya, ide tentang alien yang mendarat di tengah masyarakat Madura sudah terdengar lucu bahkan sejak pertama kali dijelaskan.
 
“Jadi tentang Alien terus Crash Landing di daerah Surabaya Utara, yang di mana Surabaya Utara itu banyak teman-teman Maduranya, ya. Itu sudah lucu. Dari premis sudah lucu,” ceritanya. 
 
Meski tertarik dengan konsep ceritanya, Dono sempat dibuat khawatir ketika mengetahui sebagian besar dialog film menggunakan bahasa Madura. Ia pun langsung menanyakan bagaimana proses produksi akan mengatasi kendala tersebut.
 
“Bahasa Madura kita pakai sekitar 80%... Ini aku enggak bisa sama sekali bahasa Madura loh. Terus habis itu, Bayu bilang, ‘Tenang kita pakai dialect coach.’ Konsultan bahasa Madura dapat di situ,” ucap Dono.
 
Untuk memastikan dialog terdengar alami, para pemain menjalani proses persiapan yang cukup panjang. 
 
Selama sekitar dua bulan, mereka mengikuti karantina intensif guna mempelajari bahasa Madura, khususnya dialek Bangkalan, sekaligus mendalami gestur dan kebiasaan masyarakat setempat.
 
“Dua bulan di-gembleng benar-benar mulai dari nol. Mulai belajar dari bahasa, gerakan, sama, sampai nanti di lokasi, apa yang harus fokus dan apa yang harus diperbuat. Teman-teman ini tuh benar-benar totalitas sekali,” puji sang co-director.

Berharap Jadi Jalan bagi Talenta Daerah

Terakhir, Bayu Skak berharap bahwa film Foufo dapat menjadi contoh bahwa industri film Indonesia bisa lebih banyak melibatkan talenta dari berbagai daerah. 
 
Menurutnya, jika film ini berhasil, pendekatan serupa dapat diterapkan pada proyek-proyek berikutnya melalui proses casting yang melibatkan sumber daya manusia lokal, sehingga industri perfilman tidak lagi hanya terpusat di satu wilayah.
 
Ia juga berharap Foufo dapat menghadirkan warna baru di perfilman Indonesia lewat perpaduan genre science fiction comedy dengan budaya Madura. Bagi Bayu, premis tentang alien yang bertemu masyarakat Madura sudah terasa unik sejak awal dan diharapkan mampu menjadi tontonan hangat yang mengangkat nilai kekeluargaan.
 
“Jadi harapannya ini bisa menjadi sesuatu nantinya di perfilman kita di Tanah Air. Jadi ini adalah nuansa yang berbeda yang bertajuk Science Fiction Comedy,” harap Bayu.
 
“Ini kan sesuatu yang nampaknya wow sekali ya kan. Di mana UFO kok ketemu sama orang-orang Madura nih. Jadi dari premis saja sudah lucu sekali dan harapannya ini juga bisa menjadi tontonan yang hangat,” pungkasnya.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA