Tretan Muslim debut jadi pemeran utama di film FOUFO (Foto: Medcom/Basuki)
Tretan Muslim debut jadi pemeran utama di film FOUFO (Foto: Medcom/Basuki)

Tretan Muslim Kesulitan Belajar Nangis di Film FOUFO, Takut Penonton Malah Ketawa

Basuki Rachmat • 09 Juni 2026 12:53
Ringkasnya gini..
  • Tretan Muslim mengaku tantangan terbesar di film FOUFO adalah berakting menggunakan dialek Madura Pamekasan yang berbeda dari dialeknya.
  • Film FOUFO mengangkat budaya Madura lewat komedi sci-fi, namun Tretan Muslim menegaskan tak berniat mendiskreditkan suku Madura.
  • Debut sebagai pemeran utama, Tretan Muslim mengaku kesulitan menjalani adegan menangis karena khawatir penonton malah tertawa.
Jakarta: Komika sekaligus konten kreator Tretan Muslim membagikan pengalaman dan tantangan terbesarnya saat menjalani debut sebagai pemeran utama dalam film FOUFO. Film garapan sutradara Bayu Skak tersebut mengusung genre komedi fiksi ilmiah (sci-fi comedy) dengan premis unik tentang kisah alien yang terdampar di Madura.
 
FOUFO merupakan hasil kolaborasi rumah produksi Skak Studios dan Sinemart yang mengangkat nuansa budaya Madura secara kental. Menariknya, sekitar 70 hingga 80 persen dialog dalam film ini menggunakan bahasa Madura dan diperankan oleh para pemain yang memiliki latar belakang budaya tersebut.
 
Dalam sesi Content Day film FOUFO yang digelar di SCTV Tower, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juni 2026, Tretan Muslim mengaku tantangan terbesar yang dihadapinya justru datang dari penggunaan bahasa Madura itu sendiri.

Meski lahir dan besar di lingkungan keluarga Madura, Muslim mengaku tidak lagi terlalu sering menggunakan bahasa daerah tersebut dalam kehidupan sehari-hari setelah dirinya merantau ke Surabaya untuk kuliah dan ke Jakarta untuk berkarier sebagai komika.
 
"Kalau saya bebannya karena kan ini Madura, membawa kesukuan gitu. Karena jujur saya lama nggak ngomong Madura sebenarnya. Saya ngomong Madura tuh kalau sama ibu saya doang," tutur Tretan Muslim.
Menurutnya, perbedaan dialek antarwilayah di Madura membuat proses pendalaman dialog menjadi lebih menantang. Naskah film menggunakan dialek Madura Pamekasan, sementara dirinya terbiasa menggunakan dialek Bangkalan.
 
"Jadi pas di film ini saya harus berbahasa Madura itu sampai saya 'emang ada ya bahasa Madura kayak gini?'. Karena script-nya itu konsultan dia Madura-nya kabupaten Pamekasan, saya Bangkalan. Nah itu aja udah beda. Saya bacanya aja ini susah banget ya bahasa Madura. Itu menjadi tantangan," lanjutnya.
 
Tantangan serupa juga dirasakan oleh para pemain lain, termasuk pegiat dakwah sekaligus konten kreator Habib Ja'far yang turut terlibat dalam film tersebut. 
 
Menurut Muslim, perbedaan dialek antardaerah membuat para pemain kerap berdiskusi bahkan berdebat soal penggunaan kosakata yang tepat.
 
"Belum lagi Habib Ja'far dia Madura swasta. Itu dia Madura beda lagi gitu. Jadi kadang kita debat sesama Madura 'Ini bahasa Maduranya apa?', tanya ke Pamekasan, tanya ke Fuad, Fuad orang Kangean Sumenep ini beda, beda lagi. Jadi dia yang paling susah, dia nggak bisa memastikan dialog saya benar apa nggak. Kalau saya ngawur juga dia nggak tahu. Tapi untung ada Faiz yang menjaga," ungkap Muslim seraya tertawa.

Film FOUFO Tak Berniat Mendiskreditkan Suku Madura

Selain soal bahasa, Tretan Muslim juga menyoroti kekhawatiran sebagian publik terkait penggambaran stereotipe masyarakat Madura dalam film ini. Ia menegaskan bahwa FOUFO tidak dibuat untuk mendiskreditkan kelompok tertentu.
 
Menurutnya, film ini justru lebih banyak menampilkan nilai-nilai positif yang melekat pada masyarakat Madura, seperti kuatnya ikatan keluarga dan kehidupan religius.
 
"Kalau lihat trailer doang memang ada adegan soal nyolong besi atau rel kereta. Tapi sebagian besar ceritanya justru menunjukkan keluarga Madura yang kuat, religius, dan punya mimpi memberangkatkan orang tua berhaji," jelasnya.
Muslim mengakui beberapa stereotipe memang diangkat sebagai bagian dari komedi dan realitas sosial yang pernah terjadi. Namun ia menegaskan film tersebut tidak bermaksud menggeneralisasi seluruh masyarakat Madura melalukan aksi tersebut.
 
"Mungkin stereotipe kayak gergaji rel, nggak mau vaksin, ya itu kita nggak memfitnah juga, maksudnya ada memang beberapa oknum, sekitar 4 juta kalau ga salah," kelakar Tretan.
 
"Tapi bukan berarti semua orang Madura seperti itu. Di semua suku pasti ada sisi positif dan negatifnya," ujarnya.

Muslim Harus Akting Nangis di Film FOUFO

Selain harus beradaptasi dengan dialog berbahasa Madura, Muslim juga menghadapi tantangan lain yang tidak kalah berat, yakni melakoni adegan-adegan emosional.
 
Sebagai komika yang selama ini identik dengan humor, ia mengaku sempat khawatir penonton sulit menerima dirinya dalam adegan emosional seperti menangis.
 
"Saya pas akting nangis tuh baru belajar, bahwa nangis itu ternyata nggak cuma keluar air mata doang. Kalau itu sih selebgram juga bisa, wiuwww," canda Tretan.
 
"Yang saya pikirkan itu, orang selama ini lihat saya bercanda dan ngakak. Kalau saya nangis, mereka bisa dapat feel-nya enggak? Udah muka saya mungkin tidak drama ya, ditambah ngomongnya Madura pas nangis. 'Aduh de’remmah bue' ya orang langsung ketawa gitu. Itu yang saya khawatirkan," ungkapnya.
Meski begitu, ia merasa terbantu oleh kehadiran tim pelatih akting dan lawan main yang mampu membangun emosi selama proses syuting. Salah satu sosok yang paling berkesan baginya adalah pemeran sang ibu dalam film tersebut, yakni Ibu Kam.
 
"Shout out untuk pemeran ibu saya, dia bernama Ibu Kam. Dia nangisnya gila banget dia nangis take kedua masih bisa nangis lagi. Saya bilang 'kamu punya kelainan kelenjar air mata atau gimana?'," canda Tretan Muslim.
 
"Karena saya dapat tandem ibu yang luar biasa seperti itu, saya jadi lebih mudah ngebawain feel sedihnya," tutupnya.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA