Sesi press screening film Memburu Pemangsa (Foto: Medcom/Basuki)
Sesi press screening film Memburu Pemangsa (Foto: Medcom/Basuki)

Epstein Files Jadi Inspirasi Umay Shahab Garap Film Memburu Pemangsa

Basuki Rachmat • 21 September 2026 23:20
Ringkasnya gini..
  • Sutradara Umay Shahab resmi merilis film Memburu Pemangsa yang menggabungkan genre horor, crime, dan action.
  • Film ini terinspirasi dari maraknya kasus kekerasan seksual pada anak serta pengalaman personal Umay sebagai mantan artis cilik.
  • Umay berharap tagar #JagaAnakAnak dan pesan perlindungan anak dalam film ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat luas.
Jakarta: Produser sekaligus sutradara Umay Shahab kembali menghadirkan karya terbaru bersama Sinemaku Pictures. Kali ini, ia menggarap film bergenre horor, crime, dan action bertajuk Memburu Pemangsa yang mengangkat isu kekerasan terhadap anak.

Film ini mengikuti kisah perburuan terhadap predator anak yang digambarkan bekerja sama dengan iblis dan memangsa sejumlah anak demi kepentingan pribadinya. 

Bagi Umay, Memburu Pemangsa menjadi salah satu karya yang memiliki kedekatan personal. Film ini menjadi medium baginya untuk menyuarakan keresahan terhadap isu kekerasan terhadap anak sekaligus menghadirkan pendekatan sinematik dengan skala produksi yang lebih besar dibandingkan karya-karyanya sebelumnya.

Film ini dibintangi empat aktris sebagai pemeran utama, yakni Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem. Keempatnya terlibat dalam perjalanan penuh ketegangan untuk memburu predator yang memangsa anak-anak.

Selain keempat pemeran utama tersebut, Memburu Pemangsa turut menghadirkan Teuku Rifnu Wikana, Andri Mashadi, Septian Dwi Cahyo, Shareefa Daanish, dan Jordan Omar.

Saat ditemui Medcom.id di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin, 21 September 2026, Umay mengungkapkan bahwa kemarahannya terhadap para pelaku kekerasan terhadap anak menjadi salah satu dorongan utama dalam pembuatan film ini.

"Kami di sini ingin menggambarkan bahwa pemangsa anak itu lebih iblis daripada iblis. Bahkan iblis saja minder gitu sama mereka. Ada amarah yang begitu besar yang tersimpan di aku gitu yang disampaikan melalui film Memburu Pemangsa," ujar Umay.

Menurut Umay, kegelisahan tersebut juga berangkat dari data mengenai kasus kekerasan terhadap anak yang masih menunjukkan angka tinggi.

"Berdasarkan data yang dikumpulkan ada 21.000 kasus kekerasan terhadap anak di 2025 dan 12.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak di tahun 2025 dan angkanya selalu bertambah setiap tahunnya," terangnya.
   

Berangkat dari Pengalaman Pribadi sebagai Artis Cilik

Umay mengaku pengalaman masa kecilnya sebagai artis cilik turut membentuk perspektifnya dalam melihat isu kekerasan terhadap anak. Ia menyadari bahwa anak-anak yang berada di lingkungan orang dewasa dapat menghadapi berbagai situasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

“Aku kan dulu mantan artis cilik. Di sini Prilly juga, Yasamin juga, ada Jordan juga gitu. Jadi maksudnya kita pasti ketika masih kecil pernah mungkin merasakan hal-hal yang tidak nyaman yang terjadi gitu atau mungkin pernah di lingkungan orang dewasa yang akhirnya kita harus menyamakan frekuensi kalau yang Yayas pernah sampaikan di the making of film Memburu Pemangsa gitu," ucap Umay.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Umay merasa perlu membawa isu tersebut ke layar lebar. Ia menyebut ada pengalaman personal yang memunculkan kemarahan terhadap para pelaku kekerasan terhadap anak.

"Jadi, pada saat itu kalau aku personal, aku ada momen-momen yang terjadi yang membuat aku jadi punya amarah yang begitu besar gitu terhadap para pemangsa anak yang aku rasa kayaknya perlu disampaikan dalam medium film bioskop," ungkapnya.

Selain pengalaman pribadi, Umay juga terinspirasi dari berbagai kasus kekerasan terhadap anak yang menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah kemunculan grup di media sosial yang diduga menyebarkan konten tidak pantas terkait hubungan incest antara orang tua dan anak.

"Kita sebagai perwakilan dari generasi muda juga ngerasa kayaknya penting sekali untuk dibahas isu ini. Karena kalau ada yang ingat tahun lalu tuh di salah satu aplikasi sosial media ada grup yang isinya tuh grup inses bapak dan anak yang mereka mengunggah foto-foto atau video-video yang tidak seharusnya diberikan ke atau tidak seharusnya difoto juga gitu," terangnya.

Menurut Umay, kasus tersebut mencuat ketika proses penulisan Memburu Pemangsa tengah berlangsung. Pada periode yang sama, muncul pula pemberitaan mengenai dokumen kasus Jeffrey Epstein yang kemudian turut menjadi perhatian dalam pengembangan cerita film.

"Jadi kayak itu pun juga saat itu ramai, kita juga lagi dalam proses penulisan film ini. Lalu dalam proses penulisan film ini ada Epstein files yang tiba-tiba keluar semua datanya di akhir tahun lalu," jelas Umay.

Kondisi tersebut membuat Umay merasa isu yang diangkat dalam Memburu Pemangsa bukan hanya menjadi keresahan di Indonesia, tetapi juga menggambarkan kegelisahan yang dirasakan masyarakat di berbagai belahan dunia.

"Jadi kita ngerasa bahwa saat ini juga seluruh dunia juga lagi merasakan kegelisahan dan keresahan yang sama. Jadilah akhirnya 115 menit nampolin para pemangsa anak. Itulah tadi filmnya," ujarnya.

Melalui Memburu Pemangsa, Umay berharap film tersebut tidak berhenti sebagai tontonan horor dan aksi semata. Ia ingin pesan mengenai pentingnya perlindungan terhadap anak dapat terus dibicarakan dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan seksual terhadap anak.

“Pastinya cuma bisa bilang alhamdulillah karena filmnya sudah jadi, sudah bisa ditonton, dan semoga di luar apapun itu yang paling penting adalah isu tentang kekerasan seksual terhadap anak ini bisa lebih menjadikan bisa menjadi awareness yang lebih lagi di Indonesia dan tagar kita di film Memburu Pemangsa yaitu #JagaAnakAnak bisa menjadi sesuatu yang digaungkan," tutup Umay Shahab.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA