Drama Korea Perfect Crown (Foto: Disney+)
Drama Korea Perfect Crown (Foto: Disney+)

Industri Drama Korea Alami Krisis: Biaya Membengkak, Jumlah Produksi Merosot

Rafi Alvirtyantoro • 06 November 2026 13:20
Ringkasnya gini..
  • Produksi drama Korea merosot drastis akibat lonjakan biaya produksi dan pemangkasan slot tayang di TV utama.
  • Gabungan 12 organisasi mendesak pemerintah menambah alokasi anggaran dan menyelamatkan ekosistem K-drama.
  • Pelaku industri mendorong pengurangan ketergantungan modal asing untuk membangun skema produksi mandiri khas Korea.
Jakarta: Korea Selatan sedang mengalami krisis produksi drama Korea. Kondisi ini mendorong 12 organisasi industri terkait untuk mendesak pemerintah dan parlemen agar segera mengambil langkah penyelamatan.

 

Penurunan Produksi dan Slot Tayang


Berdasarkan data Asosiasi Produser Drama Korea (KODA), jumlah drama yang diproduksi merosot drastis dari 141 judul pada 2022 menjadi 30 persen lebih sedikit dalam dua tahun terakhir. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya slot tayang drama di tiga stasiun TV utama, dari 91 judul pada 2012 menjadi 32 judul pada 2023. Bahkan, beberapa saluran telah menghentikan penayangan drama pada hari kerja.

Situasi tersebut dipicu oleh kombinasi lonjakan biaya produksi, menurunnya kemampuan investasi stasiun penyiaran, serta semakin sulitnya rumah produksi mengamankan hak kekayaan intelektual (IP) maupun potensi keuntungan jangka panjang.

Kondisi ini berdampak langsung pada pemangkasan lapangan kerja dan penyempitan ruang bagi tenaga kreatif baru. Kesempatan bagi penulis pemula untuk merilis karya kedua, aktor pendukung untuk mendapat peran utama pertama, hingga staf pendamping untuk memulai debut sebagai sutradara sangat bergantung pada keberlanjutan proses produksi.

"Ekosistem produksi yang sudah terlanjur runtuh tidak akan bisa pulih begitu saja meskipun kondisi pasar membaik kelak,” ujar organisasi yang hadir di Konferensi Pers Bersama Penanganan Krisis Industri K-Drama, dikutip dari Maeil Business, pada Jumat, 6 November 2026.
   

Kontradiksi Nilai Ekspor dan Pemotongan Anggaran


Sebagai salah satu komoditas utama pendorong ekspor budaya, dukungan kebijakan pemerintah dinilai sangat mendesak. Data Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata serta KOFICE menunjukkan total nilai ekspor terkait Hallyu mencapai 18,975 miliar dolar AS (Rp343,03 triliun) pada 2025, dengan kontribusi barang konsumsi dan pariwisata sebesar 8,788 miliar dolar AS (Rp158,87 triliun). Fenomena ini membuktikan peran penting drama sebagai motor penggerak dampak ekonomi nasional.

Namun, alokasi anggaran dukungan pemerintah untuk sektor penyiaran dan audiovisual justru mengalami penurunan. Dalam rancangan anggaran tahun 2027, anggaran Kementerian Kebudayaan untuk sektor ini dipangkas sebesar 4,5 miliar won menjadi 87,3 miliar won. Sementara itu, anggaran promosi konten dari Komisi Komunikasi dan Penyiaran Media turun 4,4 miliar won menjadi 12,4 miliar won.
   

Tiga Rekomendasi Kebijakan Utama


Pihak industri berpendapat bahwa penambahan anggaran secara parsial tidak akan cukup untuk mengatasi krisis secara menyeluruh. Oleh karena itu, gabungan organisasi mengajukan tiga rekomendasi kebijakan utama:
  1. Menjadikan pemulihan jumlah drama tahunan sebagai kebijakan negara untuk menjaga lapangan kerja dan regenerasi talenta, mencakup proyek skala besar hingga menengah-kecil.
  2. Membentuk dana awal (seed money) untuk menghidupkan ekosistem industri (investasi hingga distribusi) bersama pemerintah, penyiar, dan platform OTT.
  3. Mendorong kementerian terkait bekerja sama dengan praktisi lapangan serta mendesak parlemen mengalokasikan anggaran 2027 bagi karya menengah-kecil dan kreator muda.

Di samping menuntut dukungan pemerintah, para pelaku industri berkomitmen untuk melakukan pembenahan internal dengan merasionalkan struktur biaya produksi dan menetapkan standar kerja yang adil.

Keputusan organisasi-organisasi industri untuk bersatu menyuarakan tuntutan ini dilandasi oleh kondisi genting yang dihadapi saat ini. Mereka menekankan pentingnya berfokus pada strategi jangka panjang untuk 10 tahun ke depan, dibanding sekadar terpukau pada pencapaian masa lalu.
   

Ketergantungan pada Platform Global


Pesatnya ekspansi platform OTT global juga dinilai telah melonjakkan biaya produksi hingga menyebabkan ketidakmampuan rumah produksi lokal untuk membiayai proyek secara mandiri. Oleh karena itu, diperlukan langkah tegas untuk mengurangi ketergantungan pada modal asing.

"Masuknya platform OTT global memang membawa perubahan besar bagi pasar drama Korea. Kita meraih popularitas global, tetapi biaya produksi melonjak sangat tinggi hingga tidak ada lagi rumah produksi lokal yang mampu berproduksi mandiri,” jelas penulis Park Hae-young, yang dikenal lewat drama My Mister dan My Liberation Notes.

“Sebelum terlambat, kita harus memutus rantai ketergantungan pada modal raksasa asing dan membangun skema produksi mandiri khas Korea,” lanjutnya.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA