Teuku Rifki Wikana (Foto: dok. Publicist)
Teuku Rifki Wikana (Foto: dok. Publicist)

Perankan Predator Anak di Memburu Pemangsa, Teuku Rifnu Wikana Didampingi Psikolog

Agustinus Shindu Alpito • 21 September 2026 20:07
Ringkasnya gini..
  • Teuku Rifnu Wikana menyebut Memburu Pemangsa sebagai proyek film terberat sepanjang kariernya hingga mengalami beberapa cedera.
  • Memerankan predator anak, Teuku Rifnu Wikana mendapat pendampingan psikolog untuk menghadapi beban karakter secara emosional.
  • Umay Shahab menerapkan ethical filmmaking untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pemain selama produksi Memburu Pemangsa.
Jakarta: Aktor Teuku Rifnu Wikana mengungkapkan pengalaman berat selama menjalani proses syuting film horor-crime-action Memburu Pemangsa. Film garapan produser sekaligus sutradara Umay Shahab bersama rumah produksi Sinemaku Pictures tersebut disebut menjadi proyek terberat sepanjang kariernya di dunia seni peran.

Dalam Memburu Pemangsa, aktor yang akrab disapa Wika itu memerankan salah satu karakter utama, yakni sosok manusia keji yang menjadi predator anak-anak. Karakter tersebut bekerja sama dengan iblis untuk memangsa sejumlah anak demi membangkitkan kembali putrinya yang telah meninggal dan membuatnya hidup abadi.

Peran tersebut tidak hanya menuntut Wika menjalani berbagai adegan laga dengan intensitas tinggi, tetapi juga mengharuskannya mendalami sisi psikologis karakter yang digambarkan begitu keji. Beratnya proses produksi bahkan membuat Wika beberapa kali mengalami cedera.
 

"Ini adalah syuting terberat sepanjang saya berkarier di dalam film. Dan karena beratnya itu, maka saya sampai beberapa kali cedera. Yang kepala kena botol lah, yang kaki harus di-MRI lah, harus di-CT scan lah," tutur Wika saat ditemui Medcom.id di Epicentrum XXI, Jakarta Pusat, Senin, 21 September 2026.

Bagi Wika, tantangan tersebut tidak berhenti pada persoalan fisik. Ia mengaku harus berhadapan dengan beban psikologis karena karakter yang diperankannya sangat bertolak belakang dengan nilai moral yang ia pegang sebagai manusia, terlebih dirinya juga merupakan seorang ayah.
"Ini kan peran yang berat banget buat saya yang punya anak juga, yang secara psikologi memang benar-benar keganggu banget," lanjutnya.

1000159258
Sesi press screening film Memburu Pemangsa (Foto: Medcom/Basuki)

Untuk membantu proses pendalaman karakter, pihak produksi bahkan menghadirkan psikolog yang mendampingi Wika selama menjalani proses syuting. Ia beberapa kali melakukan sesi konsultasi untuk memahami batas antara dirinya sebagai aktor dan karakter yang harus diperankan.

"Syukurnya psikolog ini memang coba merunut kira-kira tujuan saya itu apa sebenarnya dari sini, coba mengajak saya ngobrol," tutur Wika.

"Psikolog secara real ada dihadirkan Umay, dan itu ada beberapa kali pertemuan, sampai dia kadang-kadang lihat saya sendiri takut, dan akhirnya dia pulang. Terakhirnya saya minta ke 'Psikolog' saya yang paling tinggi lagi (Tuhan)," ungkapnya.

Wika kemudian menjelaskan bahwa doa menjadi salah satu pegangan utamanya selama menjalani peran tersebut. Ia berharap karakter yang dimainkannya tidak sekadar menjadi sosok antagonis, tetapi juga dapat menjadi pengingat bagi penonton mengenai pentingnya melindungi anak dan keluarga.

"Tapi yang paling penting dari semua itu adalah doa saya sendiri sebenarnya. Doa saya sendiri ketika saya mau menjalani ini bahwa, "Ya Tuhan, saya manusia lemah, saya tidak mampu memainkan karakter ini, dan saya tahu ini dosa banget. Ini adalah manusia di atas iblis. Tolong, izinkan saya memainkan karakter ini, agar saya bisa memberikan contoh kepada masyarakat luar, agar mereka bisa menjaga anaknya, dan mereka bisa menjaga keluarganya," ujarnya.
 

Umay Shahab Terapkan Ethical Filmmaking

Di tengah beratnya materi cerita dan karakter yang melibatkan anak-anak, Umay Shahab memastikan proses produksi Memburu Pemangsa tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan seluruh pemain.

Umay menyadari bahwa penerapan ethical filmmaking menjadi bagian penting dalam proses produksi, terutama ketika film melibatkan aktor cilik serta adegan dengan materi yang cukup berat.

"Betul, betul. Pastinya kan biar menjaga semuanya, karena kita sadar bahwa ethical filmmaking kan juga penting. Jadi kita menjaga bagaimana agar semua yang berada di lokasi syuting pun juga tetap merasa aman," tutur Umay.
 

Sinopsis Memburu Pemangsa

Memburu Pemangsa mengisahkan kasus hilangnya empat anak dari sebuah kawasan. Keempatnya kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi. Di tengah penyelidikan, waktu terus berjalan karena masih ada anak lain yang berada dalam ancaman.

Agnes (Laura Basuki), pemimpin redaksi Daily Wave News, selama ini menolak keberadaan kemampuan supernatural sejak kematian putrinya. Namun, pandangannya berubah ketika ia menyaksikan seorang anak diculik tepat di depan matanya.
 

Bersama tiga jurnalis perempuan, Cia (Prilly Latuconsina), Brina (Taskya Namya), dan Anya (Yasamin Jasem), serta seorang polisi bernama Petra (Andi Mashadi), Agnes berusaha mengungkap kasus tersebut.

Investigasi membawa mereka ke dalam kasus gelap yang membuat keempatnya dihadapkan pada pilihan sulit: mundur demi menyelamatkan diri atau mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan anak-anak yang selama ini tidak mampu dilindungi.

Simak wawancara eksklusif film Memburu Pemangsa di bawah ini:



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA