Demi menghidupkan karakter yang menantang, Christine rela mengubah penampilannya secara ekstrem hingga menguji fisik dan mentalnya.
Dalam film yang siap diboyong ke festival film internasional, seperti Toronto, Busan, dan Tokyo. Christine Hakim dipercaya melakoni peran unik dan belum pernah ia tampilkan sebelumnya: seorang mantan pelacur yang mengalami ketidakstabilan jiwa (gila).
Rambut Di-bleach 5 Kali hingga Ingin Pingsan
Demi memenuhi standar art visual yang diinginkan Kamila Andini, Christine Hakim harus merelakan rambutnya melalui proses bleaching ekstrem. Tak tanggung-tanggung, proses pengecatan ulang rambut tersebut dilakukan sampai lima kali."Bukan sekadar pusing lagi, tapi rasanya sudah ingin pingsan," ungkap Christine di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Meski demikian, rasa sakit itu tak menyurutkan semangatnya. Sebagai aktris kawakan, ia memahami betul pentingnya menjaga art visual film agar karakter mantan pelacur yang ia bawakan memiliki roh dan tampil meyakinkan di layar lebar.
Sutradara Beri Kebebasan Improvisasi dan Mengumpat
Kamila Andini sengaja merancang karakter Christine Hakim agar berbeda dari peran-peran anggun yang sering ia mainkan selama ini. Sang sutradara ingin Christine tampil lebih lepas, 'gila', joget, menyanyi, serta menjadi diri sendiri di hadapan kamera.Christine bahkan diberi kebebasan penuh untuk berimprovisasi saat reading dan syuting, termasuk menentukan sendiri ide ucapan hingga umpatan khas karakternya.
"Dikelilingi lingkungan seperti itu karena keadaan, tentu umpatannya jadi lebih banyak," jelas Christine mengenai pendalaman latar belakang karakter mantan pelacur yang ia hidupkan.
Puji Keajaiban Talenta Muda Indonesia
Bagi Christine Hakim, bekerja sama dengan Kamila Andini adalah sebuah kebanggaan. Ia menyebut Kamila dan produser Ifa Isfansyah sebagai jajaran filmmaker muda yang memiliki "kegilaan" serta visi misi luar biasa untuk masa depan bioskop Indonesia.Mengimbangi akting Christine Hakim, film Empat Musim Pertiwi juga dibintangi oleh jajaran aktor papan atas lainnya seperti Putri Marino dan Arya Saloka. Dengan persiapan workshop ketat dan naskah yang emosional, Christine meyakini film ini akan menjadi karya yang sangat besar dan memberikan pengaruh luas bagi para penontonnya.
(Dinda Intan Ramadhani)