Film ini berfokus pada dinamika dua veteran perang, Ishraq Wan dan Abe, yang terjebak di tengah kekacauan Malaya tahun 1948 dan harus bersatu melawan ancaman kelompok bersenjata demi menyelamatkan sebuah desa.
(Sumber: YouTube @FilmsPositive)
Sang pemeran utama, Hazman Al Idrus, yang memerankan tokoh Ishraq Wan mengungkapkan pengalamannya selama proses produksi di hadapan awak media.
“Bisa mendalami karakter dalam cerita yang mengangkat luka dan trauma sejarah dari sudut pandang kita sebagai orang Asia adalah pengalaman yang sangat luar biasa, terlebih saat menjalaninya di Bali dengan ekosistem produksi yang sangat profesional,” tutur Hazman.
Ungkapan dari aktor utama Hazman Al Idrus tersebut merangkum rangkaian proses fisik dan emosional yang ia jalani secara mandiri tanpa menggunakan bantuan pemeran pengganti atau stuntman di lokasi hutan Bali.
Tuntutan fisik yang berat tersebut berpadu dengan pendalaman emosi karakter yang rumit sebagai bekas tentara yang membawa luka psikologis di masa lalu.
Penguasaan Dialek Pahang dan Pendalaman Karakter Lokal
Tantangan tak kalah berat juga dirasakan oleh jajaran aktor Indonesia yang harus menyesuaikan diri dengan latar belakang budaya Malaysia tahun 1948. Aktris Asmara Abigail yang berperan sebagai Siti serta Yoga Gunatika sebagai pemberontak Johnny Machine Gun dituntut untuk menguasai bahasa serta dialek khusus Pahang secara cermat. Asisten Sutradara Richo Dharma turut memberikan penjelasan mengenai kolaborasi tim di lapangan saat sesi jumpa pers.“Tantangan merekonstruksi suasana Malaya tahun 1948 di Bali bisa terwujud dengan sangat presisi karena solidnya kerja sama antara tim kreatif internasional dan keahlian kru teknis Indonesia yang luar biasa,” ujar Richo.
Pernyataan dari Asisten Sutradara Richo Dharma tersebut memperjelas bagaimana kerja sama antara kru lokal dan internasional di lokasi syuting Bali berhasil direkonstruksi secara presisi melalui keahlian teknis kru Indonesia. Di bawah arahan sutradara Anshul Tiwari, para pemain berhasil menampilkan performa akting yang natural dalam film dwibahasa Melayu dan Inggris ini.
Dedikasi tinggi dari para aktor berhasil menghadirkan kualitas akting yang hidup dan sangat menyentuh emosi penonton. Pengalaman serta profesionalisme mereka memberikan gambaran nyata tentang standar kerja tinggi dalam industri film modern.
(Dinda Intan Ramadhani)