Dalam kesempatan tersebut, Novita menyatakan bahwa industri film Indonesia saat ini berada di titik kritis antara potensi kesuksesan besar atau kehancuran akibat masalah struktural yang belum teratasi.
"Tanpa keberpihakan nyata, kejayaan film Indonesia hanya akan jadi nostalgia, bukan masa depan," kata Novita Hardini dalam keterangan resminya, Senin, 2 Februari 2026.
Ia berharap Panja Industri Film dapat menjadi solusi konkret untuk memperbaiki ekosistem sinema, mulai dari perlindungan hak cipta hingga penguatan sektor pembiayaan.
Tantangan Ekonomi Kreatif dan Dampak Teknologi AI
Novita Mochamad tak hanya dikenal sebagai politikus, tetapi juga seorang aktris yang pernah memerankan tokoh Fatimah dalam film Buya Hamka (2023). Ia mengakui bahwa sinema memiliki peran besar dalam mengangkat citra daerah dan pariwisata.Karya ikonik seperti Laskar Pelangi, Ada Apa Dengan Cinta, 5 cm, hingga Petualangan Sherina menjadi bukti nyata bagaimana film mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif sekaligus diplomasi budaya.
Namun, kejayaan tersebut dibayangi oleh kebocoran ekonomi yang signifikan. Masalah klasik seperti keterbatasan jumlah layar, kendala distribusi, dan minimnya modal masih menjadi hambatan utama.
Novita menyampaikan bahwa tantangan tersebut kian berat dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengancam ketersediaan lapangan kerja bagi para praktisi kreatif. Oleh karena itu, ia mendesak negara untuk segera mengintervensi regulasi tersebut.
"AI jangan dipoles sebagai inovasi, jika faktanya menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini," tegas Novita Hardini.
Hilangnya Dokumentasi dan Memori Kolektif Bangsa
Selain itu, ia menyoroti lemahnya sistem dokumentasi film nasional yang berdampak pada hilangnya memori kolektif bangsa. Berdasarkan data, dari sekitar 4.400 judul film yang diproduksi sejak 1926 hingga 2025, terdapat sekitar 1.500 karya yang hilang akibat minimnya upaya restorasi dan pengarsipan yang buruk.Kondisi ini mengakibatkan banyak tokoh perfilman Indonesia tidak dikenal oleh generasi masa kini. Hal ini dinilai sebagai kegagalan bagi suatu negara.
"Generasi muda saat ini bahkan banyak yang tidak mengenal tokoh perfilman kita sendiri misalnya Adi Bin Slamet dan Benyamin. Ini kegagalan negara dalam menjaga warisan budaya," jelas Novita Hardini.
Perlunya Modal Ventura dan Dukungan Anggaran Nyata
Novita juga mengkritik ketergantungan Indonesia terhadap Intellectual Property (IP) asing, sementara aset lokal kurang mendapat perhatian. Ia menilai dukungan anggaran pemerintah saat ini masih jauh dari kata ideal untuk bisa menembus pasar global.Sebagai perbandingan, Novita merujuk pada Korea Selatan yang memiliki skema modal ventura khusus untuk mendukung industri filmnya. Hal ini kontras dengan kondisi di dalam negeri yang masih bergantung pada bantuan skala kecil.
"Bantuan maksimal Rp500 juta tidak akan menggerakkan industri film. Itu bahkan hanya cukup untuk tahap penulisan skrip. Kita butuh venture capital khusus film, bukan kebijakan setengah hati," pungkas Novita Hardini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News