Hal itu disampaikan dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Indonesia di Gedung Parlemen. Tifatul Sembiring menyayangkan perkembangan industri film yang tidak dibersamai dengan promosi internasional melalui layanan hiburan pesawat.
"Ya, film Agak Laen (Menyala Pantiku) penontonnya 10,9 juta, Vina (Sebelum 7 Hari) 5,8 juta. Ini sebetulnya kalau jumlah segini cukup besar, ya, tapi, maaf, ya, kalau ini memang dia viral, di itu (pesawat) enggak ada, di (layanan hiburan) pesawat itu, Bu," ungkap Tifatul.
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika ini bahkan menyebut nama maskapai pelat merah hingga maskapai internasional. Ia menilai bahwa akses distribusi film Indonesia ke maskapai penerbangan internasional seharusnya menjadi prioritas promosi budaya.
“Garuda saja enggak ada, apalagi di Turkish Airline, apalagi di Qatar Airline, enggak ada. Dari seratus berapa tadi yang tayang di layar lebar internasional, lah, kok, enggak muncul dia?" tudingnya.
Ia membandingkan negara-negara lain yang filmnya mampu menembus pasar distribusi maskapai internasional. Tifatul mempertanyakan kehadiran film dari negara yang ia anggap industri perfilmannya tak sebesar Indonesia bisa muncul di sana.
"Kenapa muncul film dari Maroko? Kenapa muncul dari film Prancis itu? Padahal kita itu bisa (mengangkat tema) sejarah Majapahit, masa penjajahan Jepang, cari yang unik-unik kan banyak itu," harap anggota DPR tersebut.
Dorongan untuk Industri Perfilman Indonesia
Di kesempatan yang sama, Tifatul Sembiring mendorong sineas Indonesia untuk keluar dari zona nyaman. Ia menilai bahwa genre film Tanah Air hanya seputar komedi atau horor saja. Padahal, kekayaan sejarah dan budaya bisa jadi modal kuat untuk membuat film yang edukatif sekaligus laku di kancah internasional.“Belum lagi soal makanan, soal kuliner, soal budaya, dokumentari. Itu kan lebih hebat. Daripada kita baca buku setebal-tebal ini, film itu cepat mengedukasi kita, apalagi sejarah, ya," ujarnya.
Ia berharap pemerintah bisa menjembatani distribusi ini agar film Indonesia tidak hanya populer di bioskop, tetapi juga bisa dinikmati oleh penumpang pesawat di seluruh dunia sebagai bagian dari diplomasi budaya.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News