Review Film Surat untuk Masa Mudaku (Foto: Netflix)
Review Film Surat untuk Masa Mudaku (Foto: Netflix)

Review Film Surat untuk Masa Mudaku: Luka Trauma dan Refleksi Masa Lalu

Rafi Alvirtyantoro • 29 Januari 2026 15:55
Ringkasnya gini..
  • Surat untuk Masa Mudaku di Netflix mengangkat kisah Kefas dalam menghadapi trauma masa kecil dan luka masa lalu di panti asuhan.
  • Film ini enampilkan kolaborasi apik antara aktor pendatang baru seperti Millo Taslim dengan aktor senior Fendy Chow dan Agus Wibowo.
  • Film sutradara Sim F yang dipadukan dengan soundtrack lagu "Kidung" sukses menciptakan suasana melankolis yang menguras emosi.
Jakarta: Netflix kembali menghadirkan film orisinal bergenre drama bertajuk Surat untuk Masa Mudaku. Film ini merupakan karya terbaru dari sutradara Sim F yang menawarkan refleksi mendalam atas kesalahan masa lalu demi kehidupan yang lebih baik di masa depan.
 
Menariknya, film Surat untuk Masa Mudaku didominasi oleh deretan aktor pendatang baru, mulai dari Millo Taslim, Cleo Haura, Halim Latuconsina, Aqila Faherby, Diandra Salsabila Lubis, hingga Jordan Omar. Meski begitu, kehadiran aktor berpengalaman seperti Fendy Chow, Agus Wibowo, dan Verdi Solaiman memberikan keseimbangan akting yang solid dalam film ini.
 
Film Surat untuk Masa Mudaku mulai tayang secara resmi di Netflix pada 29 Januari 2026.

Sinopsis Film Surat untuk Masa Mudaku

Surat untuk Masa Mudaku mengangkat cerita yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama mengenai trauma masa kecil yang membekas hingga dewasa. Kisah ini berpusat pada Kefas (Millo Taslim), seorang anak yang tumbuh besar di Yayasan Panti Asuhan Pelita Kasih.

Sejak kecil, Kefas dikenal sebagai anak yang keras kepala dan sulit diatur. Berbagai kenakalan yang ia lakukan kerap membuat orang-orang di sekitarnya jengkel. Namun, di balik sikap membangkang tersebut, Kefas sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari rasa kehilangan dan kesepian yang tidak mampu ia ungkapkan secara verbal.
 
Di panti asuhan tersebut, Kefas sering bersinggungan dengan Simon (Agus Wibowo), pengurus harian yang sangat disiplin dan tegas. Bagi Kefas, Simon adalah sosok otoriter yang menyebalkan. Sebaliknya, bagi Simon, Kefas merupakan sumber masalah yang tidak ada habisnya.
 
Meski hubungan mereka sering menegang, waktu perlahan mengubah dinamika keduanya. Simon sebenarnya menyimpan kepedulian mendalam terhadap Kefas, meski ditunjukkan dengan cara yang sulit dipahami. Di sisi lain, Kefas juga memiliki rahasia besar yang menjadi alasan di balik sikap kerasnya selama ini.
 
Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya Kefas dewasa (Fendy Chow) kembali mengunjungi panti asuhan tempat ia dibesarkan. Kunjungan tersebut membuka kembali pintu kenangan lama tentang luka, amarah, persahabatan, serta perjalanan hidup yang membentuk dirinya hingga saat ini.
 

 

 

Review Film Surat untuk Masa Mudaku

Sentuhan Personal dari Sutradara Sim F

Sim F berhasil membawa penonton untuk larut dalam kisahnya. Diketahui bahwa film Surat untuk Masa Mudaku mengangkat kisah nyata sang sutradara, sehingga emosi yang tersaji terasa sangat jujur dan personal.
Review Film Surat untuk Masa Mudaku: Luka Trauma dan Refleksi Masa Lalu
(Film Surat untuk Masa Mudaku​, dok. Netflix)

Debut Memukau Para Aktor Pendatang Baru

Salah satu yang perlu disorot dalam film ini adalah kehadiran aktor pendatang baru dengan kualitas akting yang baik. Mereka terlihat natural dan tidak kaku dalam menjalani peran masing-masing.
 
Film ini sepertinya akan menjadi batu loncatan yang baik untuk Millo Taslim. Walaupun karakternya belum terlalu menempel padanya, ia berhasil membawa penonton hanyut dalam setiap aksi nakalnya.

Kematangan Akting Fendy Chow

Di sisi lain, kualitas akting Fendy Chow nampaknya tidak perlu diragukan. Ia mampu mengikuti perannya sebagai Kefas dewasa dengan detail, termasuk intonasinya dalam berdialog. Secara keseluruhan, akting para pemain terlihat natural seolah-olah mereka menjadi diri sendiri.
Review Film Surat untuk Masa Mudaku: Luka Trauma dan Refleksi Masa Lalu
(Film Surat untuk Masa Mudaku, Dok. Netflix)

Kekuatan Lagu "Kidung" dalam Membangun Suasana

Film Surat untuk Masa Mudaku juga didukung dengan latar musik yang menjadi kunci penting bagi emosi penonton. Lagu “Kidung” yang dimainkan sepanjang film sukses membuat penonton terhanyut dalam kesedihan.
 
Adegan-adegan terbaik, seperti keberhasilan anak-anak panti di acara bakti sosial dan pertemuan mereka dengan Simon di indekos, terasa sangat mengharukan berkat lagu ciptaan Chris Manusama ini.

Ending yang Emosional dan Penuh Refleksi

Selain itu, adegan terakhir di film ini juga membuat merinding. Adegan ini hanya menyisakan suara Kefas dewasa yang menggema, membuat penonton fokus pada setiap kata yang diucapkannya.
 
Film ini cocok sekali ditonton untuk kamu yang sedang resah dengan kehidupan sekarang. Kamu akan diajak untuk berkaca kembali ke masa lalu agar bisa menemukan jawaban untuk masa depan.
 
Jangan lupa siapkan tisu karena film ini terlalu nyata dan cukup memainkan emosi penonton.
Review Film Surat untuk Masa Mudaku: Luka Trauma dan Refleksi Masa Lalu
(​Film Surat untuk Masa Mudaku, Dok. Netflix)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan