Jakarta: Sineas ternama tanah air, Kamila Andini, kembali bersiap memikat panggung perfilman dunia lewat karya terbarunya yang bertajuk Empat Musim Pertiwi.
Diproduseri oleh Ifa Isfansyah, film ini dijadwalkan tampil di jajaran festival film internasional bergengsi, mulai dari Toronto International Film Festival bersaing dengan 203 film dari seluruh dunia, hingga Busan dan Tokyo.
Gagasan pembuatan film ini sebenarnya telah bermula sejak tahun 2017. Namun, Kamila Andini baru memproses dan mengembangkannya secara mendalam pada 2023, tepat setelah ia menyelesaikan serial Gadis Kretek.
Ide awal film ini muncul secara tak terduga saat ia tengah berlibur bersama keluarga di Gunung Bromo. Terpikat oleh visual attraction Bromo yang seolah memancarkan gambaran empat musim, Kamila terdorong untuk mengeksplorasi cerita tentang empat fase perjalanan hidup seorang perempuan.
"Melihat Pertiwi hanyalah satu dari ketidakadilan; bentuk dan wajahnya sangat banyak," ungkap Kamila Andini di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Sinopsis dan Kejutan di Balik Trailer
Empat Musim Pertiwi mengisahkan perjalanan seorang perempuan bernama Pertiwi yang akhirnya pulang setelah 20 tahun menghilang. Kepulangannya bukan sekadar reuni biasa, melainkan menyulut konflik emosional yang intens di tengah masyarakat sekitarnya.
Dalam peluncuran trailer-nya, adegan dibuka dengan kedatangan Pertiwi yang disambut oleh jajaran pemeran kelas atas seperti Christine Hakim dan Arya Saloka. Suasana makin dramatis saat karakter Pertiwi melontarkan ujaran perlawanan yang tajam:
"Kalian berusaha meniadakan orang-orang seperti kami!"
Pernyataan tersebut menggambarkan pemberontakan Pertiwi terhadap pihak-pihak lokal yang menginginkan dirinya pergi dan lenyap dari tempat itu.
Arya Saloka & Putri Marino mengikuti setidaknya 5 workshop intensif selama dua bulan. Mereka dilatih berkuda, bahasa isyarat, bahasa Jawa, jeep, hingga fighting/elektronik. Tantangan Medan Bromo bagi Arya Saloka, syuting ini menjadi pengalaman pertamanya ke Bromo. Meski sempat terkendala alergi suhu dingin dan harus menunggangi kuda liar Sumba, ia berhasil membangun chemistry yang apik.
Tak hanya jajaran aktor utama, pemeran pendukung seperti Totos Rasiti (berperan sebagai Kepala Desa yang tertekan oleh kepulangan Pertiwi) hingga deretan aktor muda lainnya turut memperkuat dinamika cerita.
Eksplorasi "4 Rasa" dan Pesan Kebersamaan
Dari sisi teknis sinematografi, Empat Musim Pertiwi diakui sebagai salah satu karya dengan elemen terbanyak dan paling kompleks. Sang sutradara berupaya menghadirkan keharmonisan visual lewat tekstur "4 rasa" yang merepresentasi tiap musim dan fase hidup manusia
(Dinda Intan Ramadhani)