YOUR FASHION

Demi Mengurangi Limbah Pakaian, Terapkan Konsep One In On Out

A. Firdaus
Rabu 20 April 2022 / 10:16
Jakarta: Salah satu tradisi yang telah berlangsung sejak abad 16 dalam menyambut lebaran adalah membeli pakaian baru. Menurut sebuah riset yang dilakukan oleh media online Tirto pada 2017, sebanyak 61,71% masyarakat menyatakan selalu membeli baju baru untuk lebaran setiap tahunnya

Adanya pandemi juga tak menyurutkan animo masyarakat untuk membeli baju baru. Menurut survei JakPat (Jajak Pendapat) pada 2021, meski pandemi masih melanda, belanja baju baru masih menduduki posisi empat besar (45%) di antara kebutuhan lainnya.

Aghnia Punjabi, seorang influencer hijab yang juga merupakan pengusaha fashion mengatakan, dalam industri fashion, terdapat istilah fast fashion untuk menggambarkan bagaimana pakaian diproduksi secara cepat agar dapat terus mengikuti tren terbaru.

"Prilaku membeli baju lebaran baru pun salah satunya didorong oleh tren fashion yang menampilkan desain yang berbeda setiap tahunnya," ujar Aghnia.

Menurut artikel yang dirilis The World Bank pada 2019, fast fashion dapat memperburuk masalah lingkungan, karena mendorong lahirnya produk fashion yang memiliki masa pakai lebih singkat. Sebanyak 50 miliar pakaian baru diproduksi pada 2000, dan pada 20 tahun kemudian tepatnya tahun 2020, tercatat rata-rata konsumen membeli pakaian 60% lebih banyak.

Tidak hanya membeli lebih banyak, konsumen juga membuang lebih banyak pakaian. Kurang dari 1% pakaian bekas didaur ulang menjadi pakaian baru. Diperkirakan setiap tahunnya sekitar USD 500 miliar hilang akibat pakaian yang berakhir di tempat pembuangan sampah karena tidak disumbangkan atau didaur ulang.

Sebagai seorang Muslimah, Aghnia pun percaya keberhasilan ibadah Ramadan tidak hanya tercermin dari berpuasa sebulan penuh, melainkan juga dari bagaimana kita mendorong diri untuk menjadi lebih baik. Salah satunya dalam hal konsumsi pakaian.

“Saya menerapkan konsep one in, one out, yaitu saat membeli baju baru, saya akan memilih pakaian lama yang bisa disumbangkan ke sesama yang membutuhkan. Dengan konsep ini, selain dapat menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain, kita juga bisa berkontribusi dalam upaya mengurangi limbah pakaian yang merupakan salah satu ancaman bagi kelestarian lingkungan," kata Aghnia terkait gerakan #BahagiaBerbagiBaju yang diusung Vanish.

Rahul Bibhuti, Marketing Director Reckitt Indonesia menyatakan, mengenakan pakaian terbaik merupakan bentuk sukacita dalam menyambut Hari Raya. Mengingat di antara kita masih banyak yang tidak bisa membeli baju baru untuk merayakan lebaran.

"Maka melalui gerakan #BahagiaBerbagiBaju, kami ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk turut berbagi kebahagiaan dengan ‘menghidupkan kembali’ pakaian lama layak pakai mereka dengan Vanish agar menjadi pakaian yang terlihat bersih dan pantas dikenakan untuk menyambut momen kebersamaan ini," terang Rahul.

Dona Agnesia selaku Brand Ambassador Vanish mengatakan, ia percaya merawat pakaian yang kita miliki dengan sepenuh hati, salah satunya dengan cara mencucinya menggunakan pembersih noda yang dapat membuat pakaian bersih, warna terlihat cerah dan tampak seperti baru, merupakan kebiasaan baik yang dapat memperpanjang masa pakai pakaian.

"Untuk membantu mengurangi personal fashion waste kita juga bisa memanfaatkan momen-momen istimewa salah satunya seperti Ramadan ini untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama dengan cara menyumbangkan pakaian lama kita," ucap Dona.

"Sebagai bentuk penghargaan dan kepedulian terhadap sang pemilik baru, sebelum menyerahkan pakaian lama kita, alangkah lebih baik jika kita memastikan pakaian tersebut dalam keadaan bersih dan tampak layak untuk dipakai," pungkasnya.

Untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin menyumbangkan pakaian lama layak pakainya, Vanish menyediakan drop box di sejumlah pusat perbelanjaan seperti Transmart & Lottemart. Vanish juga bekerja sama dengan Paxel dalam menyediakan layanan penjemputan sumbangan pakaian lama layak pakai di lebih dari 40 kota di Indonesia.
(FIR)

MOST SEARCH