FEATURE
Jejak Hijau di Desa Wisata Ciderum: Ketika Desa Menemukan Harapan dari Sampah
A. Firdaus
Sabtu 03 Januari 2026 / 14:30
Bogor: Di kaki perbukitan Kabupaten Bogor, sebuah desa tumbuh pelan-pelan dengan cara yang tak lazim. Bukan dari gemerlap resort atau pembangunan masif, melainkan dari sesuatu yang kerap dianggap tak bernilai: sampah. Desa Wisata Ciderum membuktikan bahwa perubahan besar kerap lahir dari kesadaran kecil yang dirawat dengan ketekunan dan kebersamaan.
Langkah pertama saat memasuki Desa Wisata Ciderum bukan hanya disambut hamparan hijau dan udara segar, tetapi juga cerita. Cerita tentang warga yang belajar memilah sampah, tentang tangan-tangan yang mengolah limbah menjadi karya, dan tentang mimpi membangun desa yang berdaulat secara lingkungan dan ekonomi. Inilah destinasi yang mengajak pengunjung bukan sekadar datang dan menikmati, tetapi juga memahami dan pulang dengan makna.
Desa Wisata Ciderum dirancang sebagai ruang edukasi terbuka. Di antara pepohonan dan taman yang tertata sederhana, berdiri kafe bernuansa alam, gazebo-gazebo untuk berbincang santai, aula serbaguna, mushola, hingga galeri kerajinan hasil daur ulang. Setiap sudutnya menyimpan pesan tentang keberlanjutan.
Kamu dapat melihat langsung pupuk organik, eco enzyme, hingga aneka produk ramah lingkungan buatan warga. Spot foto alami tak dibuat berlebihan, cukup alam yang bicara, memberi latar tenang bagi siapa pun yang ingin berhenti sejenak dari hiruk pikuk kota.
“Setiap lingkungan punya potensi. Dengan gotong royong, potensi itu bisa menjadi peluang besar,” tutur Kang Bento, pendiri Desa Wisata Ciderum, saat bercerita tentang filosofi di balik desa ini.
Perjalanan Ciderum bukan tanpa rintangan. Di masa awal, minimnya dukungan dan rendahnya minat masyarakat menjadi tantangan terbesar. Namun, perubahan dimulai dari edukasi paling dasar: memilah sampah.
Warga diajak memahami bahwa sampah bukan akhir, melainkan awal dari siklus baru. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot (larva atau ulat dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Dari lima ekor maggot di masa awal, kini jumlahnya berkembang pesat hingga puluhan, menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan limbah dan pakan ternak.

Ada ruang tumbuh di mana sampah begitu berharga di sini. Dok. A. Firdaus/Medcom
Inovasi terus tumbuh. Eco enzyme dari pala, air, dan gula merah digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Bahkan, puntung rokok, yang biasanya berakhir mencemari lingkungan, diolah menjadi pestisida nabati yang lebih aman bagi alam.
Salah satu simbol keberanian Ciderum dalam berinovasi adalah Batabu Eco Bridge, bata ramah lingkungan berbahan abu hasil pembakaran sampah. Produk ini menjadi penanda bahwa limbah dapat bertransformasi menjadi solusi, sekaligus sumber nilai ekonomi baru.

Pengunjung begitu antusias melihat hasil karya dari Desa Wisata Ciderum. Dok. A. Firdaus/Medcom
Dengan wilayah sekitar 1.800 kilometer persegi, potensi alam Desa Ciderum terus dikembangkan. Komunikasi dan sinergi dengan berbagai pihak akhirnya mengantarkan desa ini meraih pengakuan resmi.
“Alhamdulillah, Desa Wisata Ciderum kini memiliki SK Bupati dan masuk dalam 10 desa wisata Kabupaten Bogor,” ujar Kang Bento, dengan nada bangga.
Hari ini, Desa Wisata Ciderum menjadi tujuan favorit wisata edukasi. Rombongan pelajar, mahasiswa, hingga komunitas datang untuk belajar langsung tentang pengelolaan sampah, peternakan domba, pertanian, dan ketahanan pangan.

Tak melulu bicara sampah, desa wisata ini bisa menjadi tempatmu berdamai dengan alam. Dok. A. Firdaus/Medcom
“Tempat ini lengkap. Alamnya ada, ilmunya dapat,” kata Pendi, salah satu pengunjung, usai mengikuti rangkaian kegiatan edukasi.
Lebih dari sekadar destinasi, Desa Wisata Ciderum adalah ruang harapan. Ia menunjukkan bahwa desa bisa mandiri, kreatif, dan berkelanjutan, asal warganya mau bergerak bersama. Dari sampah yang dipilah, tumbuh kesadaran. Dari kesadaran, lahir masa depan yang lebih hijau untuk Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Langkah pertama saat memasuki Desa Wisata Ciderum bukan hanya disambut hamparan hijau dan udara segar, tetapi juga cerita. Cerita tentang warga yang belajar memilah sampah, tentang tangan-tangan yang mengolah limbah menjadi karya, dan tentang mimpi membangun desa yang berdaulat secara lingkungan dan ekonomi. Inilah destinasi yang mengajak pengunjung bukan sekadar datang dan menikmati, tetapi juga memahami dan pulang dengan makna.
Ruang belajar yang menyatu dengan alam
Desa Wisata Ciderum dirancang sebagai ruang edukasi terbuka. Di antara pepohonan dan taman yang tertata sederhana, berdiri kafe bernuansa alam, gazebo-gazebo untuk berbincang santai, aula serbaguna, mushola, hingga galeri kerajinan hasil daur ulang. Setiap sudutnya menyimpan pesan tentang keberlanjutan.
Kamu dapat melihat langsung pupuk organik, eco enzyme, hingga aneka produk ramah lingkungan buatan warga. Spot foto alami tak dibuat berlebihan, cukup alam yang bicara, memberi latar tenang bagi siapa pun yang ingin berhenti sejenak dari hiruk pikuk kota.
“Setiap lingkungan punya potensi. Dengan gotong royong, potensi itu bisa menjadi peluang besar,” tutur Kang Bento, pendiri Desa Wisata Ciderum, saat bercerita tentang filosofi di balik desa ini.
Berawal dari sampah, bertumbuh menjadi kesadaran
Perjalanan Ciderum bukan tanpa rintangan. Di masa awal, minimnya dukungan dan rendahnya minat masyarakat menjadi tantangan terbesar. Namun, perubahan dimulai dari edukasi paling dasar: memilah sampah.
Warga diajak memahami bahwa sampah bukan akhir, melainkan awal dari siklus baru. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot (larva atau ulat dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Dari lima ekor maggot di masa awal, kini jumlahnya berkembang pesat hingga puluhan, menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan limbah dan pakan ternak.

Ada ruang tumbuh di mana sampah begitu berharga di sini. Dok. A. Firdaus/Medcom
Inovasi terus tumbuh. Eco enzyme dari pala, air, dan gula merah digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Bahkan, puntung rokok, yang biasanya berakhir mencemari lingkungan, diolah menjadi pestisida nabati yang lebih aman bagi alam.
Inovasi yang menghidupkan ekonomi desa
Salah satu simbol keberanian Ciderum dalam berinovasi adalah Batabu Eco Bridge, bata ramah lingkungan berbahan abu hasil pembakaran sampah. Produk ini menjadi penanda bahwa limbah dapat bertransformasi menjadi solusi, sekaligus sumber nilai ekonomi baru.

Pengunjung begitu antusias melihat hasil karya dari Desa Wisata Ciderum. Dok. A. Firdaus/Medcom
Dengan wilayah sekitar 1.800 kilometer persegi, potensi alam Desa Ciderum terus dikembangkan. Komunikasi dan sinergi dengan berbagai pihak akhirnya mengantarkan desa ini meraih pengakuan resmi.
“Alhamdulillah, Desa Wisata Ciderum kini memiliki SK Bupati dan masuk dalam 10 desa wisata Kabupaten Bogor,” ujar Kang Bento, dengan nada bangga.
Destinasi edukasi yang menginspirasi
Hari ini, Desa Wisata Ciderum menjadi tujuan favorit wisata edukasi. Rombongan pelajar, mahasiswa, hingga komunitas datang untuk belajar langsung tentang pengelolaan sampah, peternakan domba, pertanian, dan ketahanan pangan.

Tak melulu bicara sampah, desa wisata ini bisa menjadi tempatmu berdamai dengan alam. Dok. A. Firdaus/Medcom
“Tempat ini lengkap. Alamnya ada, ilmunya dapat,” kata Pendi, salah satu pengunjung, usai mengikuti rangkaian kegiatan edukasi.
Lebih dari sekadar destinasi, Desa Wisata Ciderum adalah ruang harapan. Ia menunjukkan bahwa desa bisa mandiri, kreatif, dan berkelanjutan, asal warganya mau bergerak bersama. Dari sampah yang dipilah, tumbuh kesadaran. Dari kesadaran, lahir masa depan yang lebih hijau untuk Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)