YOUR FASHION
Lace Resmi Comeback, Gen Z Sulap Gaya Vintage Jadi Lebih Edgy dan Modern
A. Firdaus
Selasa 26 Mei 2026 / 14:15
- Salah satu item yang paling mencuri perhatian adalah lace atau kain renda yang kini tampil dengan wajah baru lebih modern, ekspresif, dan jauh dari kesan kuno.
- Kembalinya tren lace juga didorong kreativitas brand lokal yang semakin adaptif membaca selera pasar.
- Gen Z menghadirkan pendekatan baru yang lebih playful lewat teknik layering dan permainan tekstur.
Jakarta: Tren fashion terus berputar, dan tahun ini gaya klasik vintage tampaknya resmi kembali menjadi inspirasi utama generasi muda. Salah satu item yang paling mencuri perhatian adalah lace atau kain renda yang kini tampil dengan wajah baru lebih modern, ekspresif, dan jauh dari kesan kuno.
Jika dulu lace identik dengan taplak meja atau koleksi busana lawas di lemari nenek, kini material tersebut justru menjelma menjadi must-have item di kalangan Gen Z. Mulai dari lace top transparan, rok renda layering, cardigan crochet, hingga dress bergaya coquette ramai menghiasi etalase fashion lokal.
Kembalinya tren lace juga didorong kreativitas brand lokal yang semakin adaptif membaca selera pasar. Berbagai koleksi dengan sentuhan renda kini tampil lebih wearable untuk gaya harian, sekaligus tetap estetik dan mudah dipadukan.
Senior Director of Business Development Shopee Indonesia, Adi Rahardja, mengatakan tren lace saat ini menjadi bukti bagaimana brand lokal berhasil mengubah stigma gaya lama menjadi lebih edgy dan relevan untuk generasi muda.
“Kami senang sekali bisa menjadi platform yang menjembatani kebutuhan konsumen dengan kreativitas brand lokal. Banyak brand lokal di Shopee yang kini semakin ekspansif dan adaptif dalam menangkap selera pasar,” ujar Adi.
Menurutnya, keberanian Gen Z dalam mengeksplorasi gaya personal membuat fashion berbahan lace kembali diminati. Tidak lagi tampil formal dan feminin secara penuh, lace kini justru dipakai sebagai aksen yang memberi karakter pada outfit sehari-hari.
Berbeda dari tren lace beberapa tahun lalu yang cenderung rapi dan formal, Gen Z menghadirkan pendekatan baru yang lebih playful lewat teknik layering dan permainan tekstur.
Salah satu gaya yang sedang ramai dipakai adalah layering rok lace di atas celana panjang. Detail renda yang terlihat “mengintip” membuat tampilan menjadi lebih dinamis dan tidak monoton, terutama saat dipadukan dengan oversized tee, blazer santai, jeans, atau baggy pants.
Brand lokal seperti MORNINGSOL menghadirkan item seperti Asymmetrical Lace Skort yang banyak dipakai untuk menciptakan siluet flowy dan effortless pada daily outfit.

Ilustrasi by Shopee
Selain itu, lace juga mulai digunakan sebagai lapisan tambahan untuk menciptakan dimensi dalam berpakaian. Item seperti Veil Camisole dari Shopatvelvet misalnya, kini sering dipadukan dengan kaos vintage atau sweatshirt oversized agar tampilan terlihat lebih edgy tanpa terkesan berlebihan.
Permainan layering ini dinilai menjadi salah satu kunci utama agar lace terlihat lebih modern dan tidak membosankan. Perpaduan tekstur serta keseimbangan warna membuat outfit sederhana terasa lebih hidup dan berkarakter.
Tren lain yang juga populer adalah penggunaan lace sebagai inner layer. Teknik styling ini membuat detail renda tampil lebih subtle namun tetap menjadi focal point dalam keseluruhan outfit.
Salah satu item yang banyak digunakan adalah Long Sleeve Lace Knit dan Long Sleeve Lace Cardigan dari COLORBOX. Biasanya, lace inner dipadukan dengan outer berlengan pendek seperti crop blazer, kemeja oversized, atau basic tee.
Efek transparan dari bahan lace yang menyatu dengan warna kulit menciptakan tampilan yang lebih elevated tanpa kehilangan kesan santai khas Gen Z.
Tak heran jika lace kini bukan lagi sekadar elemen feminin klasik, melainkan sudah berkembang menjadi fashion statement baru yang fleksibel, ekspresif, dan mudah dipadukan untuk berbagai gaya harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Jika dulu lace identik dengan taplak meja atau koleksi busana lawas di lemari nenek, kini material tersebut justru menjelma menjadi must-have item di kalangan Gen Z. Mulai dari lace top transparan, rok renda layering, cardigan crochet, hingga dress bergaya coquette ramai menghiasi etalase fashion lokal.
Kembalinya tren lace juga didorong kreativitas brand lokal yang semakin adaptif membaca selera pasar. Berbagai koleksi dengan sentuhan renda kini tampil lebih wearable untuk gaya harian, sekaligus tetap estetik dan mudah dipadukan.
Senior Director of Business Development Shopee Indonesia, Adi Rahardja, mengatakan tren lace saat ini menjadi bukti bagaimana brand lokal berhasil mengubah stigma gaya lama menjadi lebih edgy dan relevan untuk generasi muda.
“Kami senang sekali bisa menjadi platform yang menjembatani kebutuhan konsumen dengan kreativitas brand lokal. Banyak brand lokal di Shopee yang kini semakin ekspansif dan adaptif dalam menangkap selera pasar,” ujar Adi.
Menurutnya, keberanian Gen Z dalam mengeksplorasi gaya personal membuat fashion berbahan lace kembali diminati. Tidak lagi tampil formal dan feminin secara penuh, lace kini justru dipakai sebagai aksen yang memberi karakter pada outfit sehari-hari.
Lace kini jadi statement fashion Gen Z
Berbeda dari tren lace beberapa tahun lalu yang cenderung rapi dan formal, Gen Z menghadirkan pendekatan baru yang lebih playful lewat teknik layering dan permainan tekstur.
Salah satu gaya yang sedang ramai dipakai adalah layering rok lace di atas celana panjang. Detail renda yang terlihat “mengintip” membuat tampilan menjadi lebih dinamis dan tidak monoton, terutama saat dipadukan dengan oversized tee, blazer santai, jeans, atau baggy pants.
Brand lokal seperti MORNINGSOL menghadirkan item seperti Asymmetrical Lace Skort yang banyak dipakai untuk menciptakan siluet flowy dan effortless pada daily outfit.

Ilustrasi by Shopee
Selain itu, lace juga mulai digunakan sebagai lapisan tambahan untuk menciptakan dimensi dalam berpakaian. Item seperti Veil Camisole dari Shopatvelvet misalnya, kini sering dipadukan dengan kaos vintage atau sweatshirt oversized agar tampilan terlihat lebih edgy tanpa terkesan berlebihan.
Permainan layering ini dinilai menjadi salah satu kunci utama agar lace terlihat lebih modern dan tidak membosankan. Perpaduan tekstur serta keseimbangan warna membuat outfit sederhana terasa lebih hidup dan berkarakter.
Inner lace jadi kunci tampilan anti flat
Tren lain yang juga populer adalah penggunaan lace sebagai inner layer. Teknik styling ini membuat detail renda tampil lebih subtle namun tetap menjadi focal point dalam keseluruhan outfit.
Salah satu item yang banyak digunakan adalah Long Sleeve Lace Knit dan Long Sleeve Lace Cardigan dari COLORBOX. Biasanya, lace inner dipadukan dengan outer berlengan pendek seperti crop blazer, kemeja oversized, atau basic tee.
Efek transparan dari bahan lace yang menyatu dengan warna kulit menciptakan tampilan yang lebih elevated tanpa kehilangan kesan santai khas Gen Z.
Tak heran jika lace kini bukan lagi sekadar elemen feminin klasik, melainkan sudah berkembang menjadi fashion statement baru yang fleksibel, ekspresif, dan mudah dipadukan untuk berbagai gaya harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)