YOUR FASHION
Tak Sekadar Belanja, Bandung Punya Cara Baru Menikmati Batik
A. Firdaus
Jumat 17 Juli 2026 / 07:12
- Berlokasi di kawasan Cigadung, tempat ini bukan sekadar galeri atau pusat produksi batik.
- Masih banyak masyarakat yang menganggap semua kain bermotif sebagai batik.
- Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada peserta adalah Batik Pendulum.
Bandung: Liburan ke Bandung identik dengan wisata kuliner, belanja, atau menikmati udara sejuk di kawasan utara kota. Namun, ada pengalaman lain yang layak dicoba, terutama bagi pencinta budaya, yaitu menyelami dunia batik di Rumah Batik Komar.
Berlokasi di kawasan Cigadung, tempat ini bukan sekadar galeri atau pusat produksi batik. Rumah Batik Komar hadir sebagai ruang belajar yang mengajak pengunjung memahami filosofi, proses kreatif, hingga inovasi yang membuat batik Indonesia tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh rombongan Sindikasi Media Network (SMN) yang berkunjung ke workshop Rumah Batik Komar sebagai bagian dari eksplorasi wisata budaya dan ekonomi kreatif di Bandung.
Pendiri Rumah Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap semua kain bermotif sebagai batik. Padahal, batik memiliki proses pembuatan yang khas dan sarat makna.
"Orang sering melihat batik hanya dari tampilannya. Padahal batik memiliki proses, ekspresi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki kain bermotif batik hasil cetak," ujarnya.
Menurut Komarudin, batik autentik dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam panas, baik dengan teknik batik tulis maupun batik cap. Inilah yang membedakannya dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi menggunakan mesin cetak.
Menariknya, Rumah Batik Komar juga menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak berarti menolak teknologi.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada peserta adalah Batik Pendulum, sebuah alat yang memanfaatkan gerakan ayunan untuk mengalirkan malam panas sehingga menghasilkan pola-pola unik yang sulit dibuat secara konvensional.

Founder Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya. Dok. SMN
Selain itu, berbagai alat bantu seperti meja kerja ergonomis hingga perangkat pencantingan modern juga dikembangkan untuk membantu para pembatik bekerja lebih efisien tanpa menghilangkan sentuhan tangan sebagai ciri khas batik.
Bagi Komarudin, teknologi seharusnya menjadi pendukung kreativitas, bukan menggantikan peran manusia dalam proses membatik.
Selama mengikuti workshop, peserta juga diajak melihat langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap.

Canting cap tembaga yang dimiliki Batik Komar. Dok. A. Firdaus/Medcom
Tak hanya itu, Rumah Batik Komar menyimpan lebih dari 10.000 desain batik, sekitar 4.000 canting cap tembaga, serta koleksi buku hasil penelitian batik yang telah disusun selama puluhan tahun.
Berbagai inovasi tersebut bahkan telah menghasilkan empat paten industri yang berkaitan dengan pengembangan alat bantu membatik.
Rumah Batik Komar juga membuka program Eduwisata Batik, yang memungkinkan pengunjung belajar sejarah, filosofi, hingga praktik membatik secara langsung.
Program ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, maupun wisatawan yang ingin mengenal batik lebih dekat. Pelatihan serupa juga telah digelar di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, sebagai bagian dari upaya regenerasi pembatik Indonesia.
Di tengah maraknya wisata modern, Rumah Batik Komar menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengunjung tidak hanya membawa pulang selembar kain batik, tetapi juga pemahaman tentang proses panjang, nilai budaya, dan kreativitas yang terkandung di balik setiap motif.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Bandung dari sisi yang lebih autentik, Rumah Batik Komar menjadi destinasi yang layak masuk dalam daftar kunjungan. Sebab, di tempat inilah batik tak hanya dipamerkan, tetapi juga terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Berlokasi di kawasan Cigadung, tempat ini bukan sekadar galeri atau pusat produksi batik. Rumah Batik Komar hadir sebagai ruang belajar yang mengajak pengunjung memahami filosofi, proses kreatif, hingga inovasi yang membuat batik Indonesia tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh rombongan Sindikasi Media Network (SMN) yang berkunjung ke workshop Rumah Batik Komar sebagai bagian dari eksplorasi wisata budaya dan ekonomi kreatif di Bandung.
Baca Juga :
Memahami Nilai Budaya, Filosofi, dan Proses dari Balik Selembar Kain Batik di Puspa Nuswantara 2026
Lebih dari Sekadar Kain Bermotif
Pendiri Rumah Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap semua kain bermotif sebagai batik. Padahal, batik memiliki proses pembuatan yang khas dan sarat makna.
"Orang sering melihat batik hanya dari tampilannya. Padahal batik memiliki proses, ekspresi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki kain bermotif batik hasil cetak," ujarnya.
Menurut Komarudin, batik autentik dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam panas, baik dengan teknik batik tulis maupun batik cap. Inilah yang membedakannya dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi menggunakan mesin cetak.
Saat Tradisi Bertemu Inovasi
Menariknya, Rumah Batik Komar juga menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak berarti menolak teknologi.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada peserta adalah Batik Pendulum, sebuah alat yang memanfaatkan gerakan ayunan untuk mengalirkan malam panas sehingga menghasilkan pola-pola unik yang sulit dibuat secara konvensional.

Founder Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya. Dok. SMN
Selain itu, berbagai alat bantu seperti meja kerja ergonomis hingga perangkat pencantingan modern juga dikembangkan untuk membantu para pembatik bekerja lebih efisien tanpa menghilangkan sentuhan tangan sebagai ciri khas batik.
Bagi Komarudin, teknologi seharusnya menjadi pendukung kreativitas, bukan menggantikan peran manusia dalam proses membatik.
Surga bagi Pencinta Batik
Selama mengikuti workshop, peserta juga diajak melihat langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap.

Canting cap tembaga yang dimiliki Batik Komar. Dok. A. Firdaus/Medcom
Tak hanya itu, Rumah Batik Komar menyimpan lebih dari 10.000 desain batik, sekitar 4.000 canting cap tembaga, serta koleksi buku hasil penelitian batik yang telah disusun selama puluhan tahun.
Berbagai inovasi tersebut bahkan telah menghasilkan empat paten industri yang berkaitan dengan pengembangan alat bantu membatik.
Wisata yang Mengajak Pengunjung Ikut Berkarya
Rumah Batik Komar juga membuka program Eduwisata Batik, yang memungkinkan pengunjung belajar sejarah, filosofi, hingga praktik membatik secara langsung.
Program ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, maupun wisatawan yang ingin mengenal batik lebih dekat. Pelatihan serupa juga telah digelar di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, sebagai bagian dari upaya regenerasi pembatik Indonesia.
Membawa Pulang Pengalaman, Bukan Sekadar Oleh-oleh
Di tengah maraknya wisata modern, Rumah Batik Komar menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengunjung tidak hanya membawa pulang selembar kain batik, tetapi juga pemahaman tentang proses panjang, nilai budaya, dan kreativitas yang terkandung di balik setiap motif.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Bandung dari sisi yang lebih autentik, Rumah Batik Komar menjadi destinasi yang layak masuk dalam daftar kunjungan. Sebab, di tempat inilah batik tak hanya dipamerkan, tetapi juga terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)