WISATA
Lagi Liburan ke Labuan Bajo? Jangan Lewatkan Festival Golo Koe 2026
A. Firdaus
Rabu 12 Agustus 2026 / 10:02
- Festival yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 ini dipusatkan di Waterfront City Marina dan Bukit Golo Koe, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
- Keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu kekuatan utama festival tersebut.
- Perputaran ekonomi yang dihasilkan juga mencapai sekitar Rp2,82 miliar.
Labuan Bajo: Kalau selama ini Labuan Bajo identik dengan Komodo, laut biru, dan panorama pulau-pulau eksotis, ada cara lain untuk menikmati destinasi ini. Salah satunya lewat Festival Golo Koe 2026 yang menghadirkan perpaduan budaya, tradisi, dan religi masyarakat Manggarai.
Festival yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 ini dipusatkan di Waterfront City Marina dan Bukit Golo Koe, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah lokasi lain di Labuan Bajo juga menjadi bagian dari rangkaian acara.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana yang membuka Festival Golo Koe 2026 pada Senin, 10 Agustus 2026, mengatakan keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu kekuatan utama festival tersebut.
Menurutnya, festival bukan sekadar pertunjukan untuk wisatawan. Masyarakat justru menjadi bagian penting yang menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada pengunjung.
"Di sinilah saya melihat kekuatan Festival Golo Koe. Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia," ujar Menpar Widiyanti.
Mengusung tema "Maria Assumpta Nusantara", Festival Golo Koe memadukan prosesi religi dengan berbagai atraksi budaya.
Traveler yang datang dapat menemukan beragam pertunjukan seni lokal, pameran UMKM, hingga kegiatan yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Manggarai.
Suasana festival pun terasa meriah sejak hari pertama. Ratusan masyarakat, wisatawan nusantara, hingga wisatawan mancanegara ikut memadati area acara.
Buat traveler, festival seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat Labuan Bajo dari sisi yang berbeda. Bukan hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga berinteraksi dengan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Festival Golo Koe juga kembali masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Tahun ini menjadi kali ketiga secara berturut-turut festival tersebut masuk KEN sejak 2024 sekaligus kedua kalinya masuk dalam jajaran Top 10.
Meriahnya festival ternyata ikut memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.
Pada 2025, Festival Golo Koe mencatat lebih dari 45 ribu kunjungan wisatawan. Kegiatan tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM dan 883 pekerja seni serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja.
Perputaran ekonomi yang dihasilkan juga mencapai sekitar Rp2,82 miliar.
Tahun ini, penyelenggara menargetkan sekitar 50 ribu pengunjung. Nilai perputaran ekonomi pun diharapkan bisa melampaui capaian tahun sebelumnya.
Meningkatnya jumlah wisatawan selama festival juga diperkirakan ikut mendorong tingkat hunian hotel dan homestay di Labuan Bajo.
"Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal," kata Widiyanti.
Festival Golo Koe lahir dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, hingga masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif.
Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari upaya mempromosikan pariwisata sekaligus menjaga keberlanjutan Labuan Bajo.
"Kita ingin agar ruang pariwisata yang bertumbuh dengan cepat juga memiliki dampak konstruktif bagi kita yang ada di masyarakat lokal," ujarnya.
Dengan berbagai agenda yang berlangsung selama enam hari, Festival Golo Koe bisa menjadi pilihan bagi traveler yang ingin menikmati Labuan Bajo dengan pengalaman yang lebih lengkap.
Bukan cuma foto-foto dengan latar laut dan pulau, tetapi juga menyaksikan bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat lokal menjadi bagian dari perjalanan wisata.
Menpar pun berharap Festival Golo Koe terus berkembang dan ikut mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia tanpa kehilangan akar budayanya.
"Kiranya Festival Golo Koe terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang maju bersama masyarakat dan tetap teguh pada akar budayanya," ujar Widiyanti.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Festival yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 ini dipusatkan di Waterfront City Marina dan Bukit Golo Koe, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah lokasi lain di Labuan Bajo juga menjadi bagian dari rangkaian acara.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana yang membuka Festival Golo Koe 2026 pada Senin, 10 Agustus 2026, mengatakan keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu kekuatan utama festival tersebut.
Menurutnya, festival bukan sekadar pertunjukan untuk wisatawan. Masyarakat justru menjadi bagian penting yang menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada pengunjung.
"Di sinilah saya melihat kekuatan Festival Golo Koe. Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia," ujar Menpar Widiyanti.
Ketika Liburan Bertemu Tradisi Lokal
Mengusung tema "Maria Assumpta Nusantara", Festival Golo Koe memadukan prosesi religi dengan berbagai atraksi budaya.
Traveler yang datang dapat menemukan beragam pertunjukan seni lokal, pameran UMKM, hingga kegiatan yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Manggarai.
Suasana festival pun terasa meriah sejak hari pertama. Ratusan masyarakat, wisatawan nusantara, hingga wisatawan mancanegara ikut memadati area acara.
Buat traveler, festival seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat Labuan Bajo dari sisi yang berbeda. Bukan hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga berinteraksi dengan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Festival Golo Koe juga kembali masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Tahun ini menjadi kali ketiga secara berturut-turut festival tersebut masuk KEN sejak 2024 sekaligus kedua kalinya masuk dalam jajaran Top 10.
Bukan Sekadar Seru, Ekonomi Lokal Ikutan Bergerak
Meriahnya festival ternyata ikut memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.
Pada 2025, Festival Golo Koe mencatat lebih dari 45 ribu kunjungan wisatawan. Kegiatan tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM dan 883 pekerja seni serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja.
Perputaran ekonomi yang dihasilkan juga mencapai sekitar Rp2,82 miliar.
Tahun ini, penyelenggara menargetkan sekitar 50 ribu pengunjung. Nilai perputaran ekonomi pun diharapkan bisa melampaui capaian tahun sebelumnya.
Meningkatnya jumlah wisatawan selama festival juga diperkirakan ikut mendorong tingkat hunian hotel dan homestay di Labuan Bajo.
"Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal," kata Widiyanti.
Labuan Bajo, Liburan Sekaligus Kenal Budaya
Festival Golo Koe lahir dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, hingga masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif.
Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari upaya mempromosikan pariwisata sekaligus menjaga keberlanjutan Labuan Bajo.
"Kita ingin agar ruang pariwisata yang bertumbuh dengan cepat juga memiliki dampak konstruktif bagi kita yang ada di masyarakat lokal," ujarnya.
Dengan berbagai agenda yang berlangsung selama enam hari, Festival Golo Koe bisa menjadi pilihan bagi traveler yang ingin menikmati Labuan Bajo dengan pengalaman yang lebih lengkap.
Bukan cuma foto-foto dengan latar laut dan pulau, tetapi juga menyaksikan bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat lokal menjadi bagian dari perjalanan wisata.
Menpar pun berharap Festival Golo Koe terus berkembang dan ikut mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia tanpa kehilangan akar budayanya.
"Kiranya Festival Golo Koe terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang maju bersama masyarakat dan tetap teguh pada akar budayanya," ujar Widiyanti.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)