WISATA

Pariwisata Indonesia Mulai Geser Fokus, Pengalaman Jadi Nilai Baru

A. Firdaus
Sabtu 26 September 2026 / 08:11
Ringkasnya gini..
  • Experience tourism menjadi arah baru pariwisata Indonesia.
  • Wisatawan kini mencari pengalaman autentik, personal, dan bermakna lewat budaya, alam, MICE, hingga kuliner.
  • Kemenpar telah mengembangkan tiga program flagship sejak tahun lalu, yaitu gastronomy, wellness, dan marine tourism.
Jakarta: Berwisata kini bukan lagi sekadar soal datang ke sebuah destinasi, mengambil foto, lalu pulang. Wisatawan semakin mencari pengalaman yang terasa autentik, personal, dan punya cerita.

Tren tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027 yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) dalam menyambut Hari Pariwisata Internasional pada 27 September.

Mengangkat tema “Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism”, agenda flagship tersebut berlangsung di Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta dan dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.



Menurut Ni Luh, perubahan perilaku wisatawan menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman.

“Wisatawan saat ini tidak lagi berwisata untuk sekadar mengunjungi suatu destinasi, tetapi juga mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna,” kata Ni Luh.

Ia menyebut kecenderungan tersebut cukup terlihat di kalangan milenial dan Gen Z. Sebanyak 52 persen dari kelompok wisatawan tersebut disebut bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata yang berkualitas.
 

MICE dan Bleisure Jadi Bagian dari Experience Tourism


Pergeseran tren wisata tersebut turut mendorong Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengembangkan wisata pengalaman melalui berbagai sektor. Dua di antaranya adalah MICE dan bleisure, yakni perpaduan antara perjalanan bisnis dan rekreasi.

Bagi wisatawan yang datang untuk menghadiri konferensi, pameran, maupun event lainnya, perjalanan tidak selalu berhenti ketika agenda acara selesai. Waktu luang di sela kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi destinasi, kuliner, budaya, hingga atraksi wisata di daerah tersebut.

Potensi MICE Indonesia sendiri masih cukup besar. Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 di ASEAN.

Namun, peluang tersebut juga datang bersama pekerjaan rumah. Indonesia perlu membangun ekosistem pariwisata yang saling terhubung, mulai dari penyedia atraksi, hotel, restoran, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Hal ini penting agar wisatawan yang datang untuk sebuah event tidak hanya mendapatkan pengalaman di venue, tetapi juga memiliki alasan untuk memperpanjang masa tinggal dan menghabiskan lebih banyak waktu maupun anggaran di destinasi.

“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia,” ujar Ni Luh.

“Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi juga pengalaman di dalamnya,” lanjutnya.
 

Event Bisa Gerakkan Ekonomi Lokal


Pengembangan experience tourism juga tidak bisa dilepaskan dari dampak ekonomi yang muncul di sekitar destinasi.

Berdasarkan data Kemenpar, program Event by Indonesia sepanjang 2025 mendatangkan 12,2 juta pengunjung. Program tersebut juga melibatkan 20.887 UMKM dan 257.561 tenaga kerja, termasuk pelaku seni serta anggota komunitas.

Angka tersebut menunjukkan bagaimana sebuah event dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika ekosistem di sekitarnya ikut bergerak.

Wisatawan yang datang bukan hanya berinteraksi dengan penyelenggara acara, tetapi juga dengan pelaku kuliner, pengrajin, seniman, komunitas, pengelola akomodasi, hingga penyedia atraksi wisata.

Karena itu, tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh elemen tersebut dapat dirangkai menjadi satu pengalaman yang utuh.
 
Ni Made ITMO 2027
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpat Ni Made Ayu Marthinni. Dok. Forwaparekraf

Budaya, Alam, dan Manusia Jadi Kunci


Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisata pengalaman menjadi salah satu arah masa depan pengembangan pariwisata Indonesia.

Menurutnya, ada tiga komponen utama yang perlu diperhatikan untuk menciptakan pengalaman wisata berkualitas, yakni budaya, alam, dan koneksi antarmanusia.

Ketiganya tidak bisa berjalan sendiri. Pengalaman wisata akan terasa lebih kuat ketika wisatawan dapat mengenal budaya lokal, menikmati alam, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat di destinasi.

“Wisata pengalaman menjadi masa depan pengembangan wisata di Indonesia sebagai upaya menciptakan wisata berkualitas tinggi,” kata Ni Made.

Sejalan dengan itu, Kemenpar telah mengembangkan tiga program flagship sejak tahun lalu, yaitu gastronomy, wellness, dan marine tourism.

Ke depan, dua sektor lain akan ditambahkan, yakni wisata wastra serta wisata seni dan budaya.

Pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengarahkan wisatawan agar tidak hanya terkonsentrasi di destinasi yang sudah populer.

“Pemerintah bisa mengarahkan dan membuat tren sehingga bukan lagi ke tempat itu-itu saja. Ingat, mass tourism. Ini sesuatu yang kita takutkan terjadi, kita tidak mau,” ujar Ni Made.

Pada akhirnya, tantangan pariwisata Indonesia bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan. Yang tidak kalah penting adalah menciptakan alasan bagi mereka untuk tinggal lebih lama, berinteraksi lebih dalam dengan destinasi, dan membawa pulang pengalaman yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH