WISATA

Fix No Debat! 6 Tren Wisata 2026 Ini Bakal Bikin Liburan Kamu Lebih Bermakna & Gak Gitu-gitu Aja

Aulia Putriningtias
Kamis 05 Februari 2026 / 16:22
Ringkasnya gini..
  • Pemetaan tren pariwisata Indonesia pada 2026 dianalisis dari berbagai metode yang komprehensif dan berlapis.
  • Perkembangan pariwisata di Indonesia maupun global semakin menunjukkan pergeseran tren.
  • Setidaknya, ada enam tren pariwisata 2026 yang diprediksi semakin berkembang.
Jakarta: Perkembangan pariwisata di Indonesia maupun global semakin menunjukkan pergeseran tren yang lebih autentik. Bukan hanya soal senang-senang, tetapi juga perbedaan yang sangat mencolok.

Dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 berdasarkan Kementerian Pariwisata, pemetaan tren pariwisata Indonesia pada 2026 dianalisis dari berbagai metode yang komprehensif dan berlapis. 

Setiap sinyal perubahan baik positif maupun negatif, dipertimbangkan secara objektif untuk memastikan analisis yang tidak bias.
 
Baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) memiliki preferensi terhadap jenis wisata yang serupa, tetapi dengan urutan prioritas yang berbeda. Setidaknya, ada enam tren pariwisata 2026 yang diprediksi semakin berkembang.

Adapun beberapa tren pariwisata 2026 yang diprediksi semakin tumbuh luas, antara lain:



(Tetebatu (Lombok Timur). Video: Dok. Instagram Sienna/Tetebatu Village/@tetebatu.village)
 

1. Cultural immersion


Cultural immersion atau pendalaman suatu budaya semakin menjadi kesukaan oleh banyak wisatawan. Wisatawan bisa secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari, tradisi, dan praktik budaya komunitas lokal. 

Indonesia sendiri berpotensi besar untuk menangkap peluang tren pariwisata cultural immersion karena kekayaan budayanya. Desa wisata seperti Nglanggeran (Yogyakarta), Tamansari (Banyuwangi), Tetebatu (Lombok Timur) dan Wae Rebo (Manggarai, NTT) menjadi contoh nyata pengembangan paket wisata berbasis budaya.
 

2. Eco-friendly


Eco-friendly tourism atau tren pariwisata ramah lingkungan muncul dari kesadaran kolektif wisatawan di level global maupun dalam negeri. Tren pariwisata ini berpotensi terus berkembang di Indonesia karena kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. 

Jika dilihat dari sisi fasilitas, wisatawan cenderung akan memilih akomodasi bersertifikat lingkungan, destinasi dengan pengelolaan sampah terpadu, serta kebijakan tegas pengurangan plastik sekali pakai. 

Untuk sisi aktivitas, wisatawan tertarik pada atraksi yang menawarkan pengalaman langsung dalam konservasi dan pemulihan ekosistem.

Pulau Macan di Kepulauan Seribu menjadi salah satu destinasi yang menerapkan eco-friendly tourism, utamanya dalam konservasi laut. Wisatawan dapat memanfaatkan fasilitas ramah lingkungan seperti pemanfaatan energi surya dan toilet kompos.
 

3. Nature dan Adventure-Based


Permintaan niche adventure seperti mendaki gunung api aktif (geotourism), susur gua (caving), dan eksplorasi alam bawah laut (scuba diving), termasuk dengan menikmati tinggal di tengah laut (live on board) akan terus berkembang serta bervariasi bentuknya dalam pariwisata.

Menurut data Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, sekitar 71 persen wisatawan global sedang mempertimbangkan atau merencanakan liburan ke kawasan pegunungan pada musim panas atau gugur 2026. Melihat data ini menjelaskan antusiasme dari masyarakat akan nature and adventure based tourism.

Ceningan Divers di Bali menjadi salah satu pelopor penerapan standar lingkungan untuk aktivitas menyelam. Standar global Green Fins diimplementasikan melalui kolaborasi antara operator selam, masyarakat lokal, dan Coral Triangle Center. 
 

4. Culinary and gastronomy


Makanan menjadi alasan fundamental wisatawan dalam memilih sebuah destinasi. Kuliner dan gastronomi di Indonesia tidak lagi dipandang sebagai elemen pelengkap paket wisata, melainkan telah menjadi daya tarik tersendiri. 

Tren gastro-tourism diprediksi akan terus berkembang sebagai salah satu pilar pariwisata kreatif di Indonesia. Salah beberapanya ada di Desa wisata Candirejo Magelang, Pujon Kidul Malang, dan Bonjeruk Lombok yang sukses mengembangkan paket wisata kuliner berbasis partisipasi.
 

5. Wellness


Wisata kebugaran atau wellness tourism diperkirakan menjadi tren pariwisata yang terus berkembang pesat di dalam maupun luar negeri. Perkembangan tren ini didorong dengan meningkatnya pergeseran gaya hidup wisatawan menuju keseimbangan dan kesadaran diri.

Aktivitas wisata tidak lagi hanya diposisikan atau digambarkan sebagai pelarian, melainkan sebagai ruang pemulihan dan refleksi. Fokus utama dari wellness tourism ini adalah peningkatan fisik, mental, dan spiritual secara holistik. 

Peluang pengembangan wellness tourism telah dimanfaatkan oleh beberapa destinasi melalui program unggulan.  Salah satunya ada di Bali; berbagai pelaku usaha menawarkan paket wellness yang mencakup perawatan spa tradisional, yoga, meditasi, dan terapi aromaterapi yang holistik. 
   

6. Business dan Leisure


Bleisure merupakan gabungan kata business dan leisure, yang artinya perjalanan bisnis dengan rekreasi. Berbagai literatur menunjukkan pelaku perjalanan bisnis cenderung memperpanjang masa tinggal untuk mengeksplorasi destinasi wisata di sekitarnya.

Berbagai literatur menunjukkan pelaku perjalanan bisnis cenderung memperpanjang masa tinggal untuk mengeksplorasi destinasi wisata di sekitarnya. Perkembangan bleisure juga seiring dengan keberadaan ekosistem MICE, nomadic work-life travel, dan wisata urban. 

Perkembangan bleisure di Indonesia pun turut dapat dilihat dari hadirnya berbagai resor dan coworking space di berbagai kota. Sementara itu, berbagai gelaran MICE di Jakarta dan Bali turut memaksimalkan potensi bleisure untuk wisatawan baik wisnus maupun wisman.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH