WISATA

Langit Cerah Kok Pesawat Bisa Goyang? Ini Penyebab Turbulensi

A. Firdaus
Rabu 02 September 2026 / 07:09
Ringkasnya gini..
  • Turbulensi pesawat tidak selalu disebabkan awan. Kenali penyebab lainnya, mulai dari jet stream, wind shear, pegunungan, badai, hingga wake turbulence.
  • National Weather Service (NWS) juga menjelaskan bahwa beberapa penyebab umum turbulensi meliputi arus konvektif.
  • Turbulensi memang bisa membuat pesawat terasa seperti naik-turun atau bergoyang.
Jakarta: Pesawat tiba-tiba berguncang saat sedang terbang tentu bisa bikin penumpang panik. Apalagi kalau dari jendela pesawat terlihat langit yang cerah dan tidak ada awan besar di sekitar.

Lantas, kalau bukan karena awan, kenapa pesawat bisa mengalami turbulensi?

Jawabannya, turbulensi tidak hanya disebabkan oleh awan. Menurut Federal Aviation Administration (FAA), turbulensi dapat dipicu oleh berbagai kondisi atmosfer, seperti perubahan tekanan udara, jet stream, aliran udara di sekitar pegunungan, pertemuan massa udara panas dan dingin, hingga badai petir. Bahkan, turbulensi dapat terjadi ketika langit terlihat cerah.

National Weather Service (NWS) juga menjelaskan bahwa beberapa penyebab umum turbulensi meliputi arus konvektif, penghalang aliran angin, dan wind shear atau perubahan kecepatan maupun arah angin dalam jarak yang relatif pendek.
Nah, supaya tidak penasaran, berikut beberapa penyebab pesawat bisa berguncang saat terbang.
 

1. Perubahan Kecepatan dan Arah Angin


Salah satu penyebab turbulensi adalah wind shear, yakni perubahan kecepatan atau arah angin secara cepat dalam jarak tertentu.

Bayangkan mobil sedang melaju mulus, kemudian tiba-tiba melewati permukaan jalan yang tidak rata. Kurang lebih seperti itulah gambaran sederhananya ketika pesawat memasuki area udara dengan karakter angin yang berubah cukup drastis.

Wind shear dapat terjadi secara vertikal maupun horizontal dan menjadi salah satu kondisi yang berhubungan dengan turbulensi.
 

2. Jet Stream


Pesawat yang terbang di ketinggian jelajah juga bisa bertemu jet stream, yakni pita angin yang sangat kuat di atmosfer bagian atas.

Di sekitar jet stream, perubahan kecepatan angin dapat menciptakan wind shear. Kondisi tersebut dapat memicu clear-air turbulence (CAT).

Yang bikin penumpang sering kaget, CAT bisa terjadi tanpa awan yang terlihat. NOAA/NWS mendefinisikannya sebagai turbulensi di wilayah tanpa awan yang dapat menyebabkan pesawat mengalami guncangan.

Jadi, kalau pesawat tiba-tiba bergoyang saat langit terlihat biru, bukan berarti pilot sedang salah arah. Bisa saja pesawat sedang melewati area clear-air turbulence.
 

3. Pegunungan Bisa Bikin Udara Bergelombang


Pegunungan juga bisa menjadi salah satu pemicu turbulensi.

Ketika angin kuat bertiup melintasi atau tegak lurus terhadap pegunungan, aliran udara dapat terdorong naik dan turun sehingga membentuk mountain waves atau gelombang gunung.

Pesawat yang melewati area tersebut dapat mengalami turbulensi, bahkan ketika tidak terlihat awan yang bisa menjadi petunjuk bagi penumpang.

FAA menjelaskan bahwa aktivitas mountain wave dapat terjadi di atas maupun di sekitar kawasan pegunungan ketika angin kuat menghasilkan gerakan naik-turun di atmosfer.
 

4. Badai Petir dan Awan Konvektif


Nah, kalau yang satu ini mungkin paling mudah dibayangkan.

Awan cumulonimbus atau badai petir dapat menghasilkan arus udara naik dan turun yang sangat kuat. Di dalam dan sekitar badai, pesawat bisa menghadapi turbulensi, hujan deras, angin kencang, hingga wind shear.

Karena itu, pilot biasanya berusaha menghindari area badai, bukan menerobosnya.

Menariknya, turbulensi yang berkaitan dengan badai bahkan dapat terjadi di sekitar area badai, bukan hanya tepat di dalam awan.
 

5. Perbedaan Suhu dan Tekanan Udara


Perubahan kondisi atmosfer, termasuk perbedaan suhu dan tekanan, juga dapat berkontribusi terhadap turbulensi.

Ketika massa udara dengan karakter berbeda bertemu, kondisi aliran udara dapat berubah. FAA memasukkan tekanan atmosfer serta pertemuan front udara dingin dan hangat sebagai beberapa kondisi yang dapat menghasilkan turbulensi.

Kondisi seperti ini juga dapat berkaitan dengan wind shear, terutama ketika perubahan karakter udara terjadi dalam jarak yang relatif pendek.
 

6. Jejak Pesawat Lain


Ternyata pesawat lain yang terbang di depan juga bisa menjadi penyebab guncangan. Fenomena ini disebut wake turbulence.

Setiap pesawat yang terbang menghasilkan pusaran udara di sekitar ujung sayapnya. Pesawat lain yang melewati pusaran tersebut dapat mengalami turbulensi.

Besarnya pusaran dipengaruhi oleh karakteristik pesawat, termasuk ukuran dan beratnya. Karena itu, jarak pemisahan antar-pesawat menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam keselamatan penerbangan.
 

Jadi, Turbulensi Bisa Terjadi Saat Langit Cerah?


Bisa banget.

Inilah yang disebut clear-air turbulence atau CAT. Fenomena ini justru menjadi salah satu alasan turbulensi terkadang terasa datang "tiba-tiba", karena tidak selalu ada awan atau tanda visual yang bisa dilihat penumpang.

FAA menyebut CAT umumnya berkaitan dengan area jet stream dan perubahan kecepatan angin (wind shear) di atmosfer bagian atas.

Artinya, langit biru bukan jaminan penerbangan akan selalu mulus.
 

Kalau Pesawat Berguncang, Penumpang Harus Apa?


Turbulensi memang bisa membuat pesawat terasa seperti naik-turun atau bergoyang. Namun, hal terpenting bagi penumpang adalah mengikuti instruksi awak kabin.

FAA menyarankan penumpang tetap mengenakan sabuk pengaman selama berada di kursi, karena turbulensi bisa terjadi secara tiba-tiba. Penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman berisiko terlempar dari kursinya ketika pesawat mengalami guncangan.

Jadi, lain kali pesawat tiba-tiba berguncang dan langit terlihat cerah, tidak perlu langsung berpikir pesawat sedang dalam masalah.

Bisa jadi pesawat sedang melewati "jalan bergelombang" versi udara, yang penyebabnya tidak selalu bisa dilihat dari jendela.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH