WISATA
Indonesia Pamer Pesona Bahari dan Budaya di WTM London 2026
A. Firdaus
Rabu 04 November 2026 / 19:25
- Indonesia menghadirkan pengalaman bahari, budaya, gastronomi, dan wellness di WTM London 2026.
- Salah satu daya tariknya adalah instalasi karya seniman kontemporer Mulyana atau Mang Moel.
- Menteri Pariwisata turut menghadiri WTM London Ministers' Summit pada 4 November 2026.
London: Indonesia membawa pendekatan berbeda dalam mempromosikan pariwisata di ajang World Travel Market (WTM) London 2026. Tak hanya menawarkan destinasi, Paviliun Wonderful Indonesia mengajak pengunjung merasakan kekayaan alam, budaya, hingga kuliner Nusantara melalui pengalaman imersif.
Berlangsung pada 3–5 November 2026 di ExCeL London, Inggris, paviliun seluas 352,75 meter persegi ini mengusung kampanye Go Beyond Ordinary. Keindahan bahari menjadi inspirasi utama desain, yang dipadukan dengan pengalaman visual, aroma, cita rasa, dan suara khas Indonesia.
Salah satu daya tariknya adalah instalasi karya seniman kontemporer Mulyana atau Mang Moel. Seniman yang dikenal lewat karya rajutan bertema kehidupan bawah laut ini menghadirkan pesan tentang keindahan sekaligus kerapuhan ekosistem laut.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Indonesia ingin dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga pengalaman autentik, budaya, dan kreativitas masyarakatnya.
"Paviliun Wonderful Indonesia turut memperkenalkan lima produk wisata unggulan, yakni wisata bahari, gastronomi, wellness, wastra Nusantara, dan pariwisata ramah Muslim. Strategi ini diarahkan untuk menarik wisatawan berkualitas yang berpotensi tinggal lebih lama dan memiliki pengeluaran lebih tinggi," ucap Menpar Widiyanti.
Partisipasi Indonesia dalam WTM London juga menjadi kesempatan mempertemukan pelaku industri pariwisata nasional dengan pembeli dan mitra internasional. Tahun ini, sebanyak 65 pelaku industri Indonesia terlibat, termasuk empat desa wisata, yakni Teluk Harapan, Candirejo, Walian Satu, dan Hijau Bilebante.
Selain promosi destinasi, agenda Indonesia mencakup pertemuan bisnis, dialog industri, serta penjajakan kerja sama untuk memperluas pasar pariwisata nasional.
Salah satu agenda lainnya adalah soft launching permainan Monopoly: Jakarta Edition. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkenalkan ikon, destinasi, dan komunitas lokal Jakarta melalui permainan yang dikenal secara global.
Indonesia juga menjajaki peluang kerja sama dengan Forbes Travel Guide untuk memperkuat posisi di pasar wisata premium, termasuk pengembangan kualitas layanan hospitality dan pengalaman wellness.
Di tingkat internasional, Menteri Pariwisata turut menghadiri WTM London Ministers' Summit pada 4 November 2026. Forum yang mempertemukan lebih dari 50 menteri dan pejabat senior itu membahas penguatan pariwisata yang tangguh dan regeneratif.
Indonesia mengangkat sejumlah isu, mulai dari tata kelola destinasi, investasi inklusif, pemberdayaan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi digital. Pengembangan desa wisata dan destinasi prioritas juga menjadi bagian dari upaya agar manfaat pariwisata tidak hanya terpusat di kawasan yang sudah populer.
Melalui keikutsertaan di WTM London 2026, Indonesia berupaya memperkuat daya saing di pasar global. Targetnya bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, tetapi juga mendorong lama tinggal, pengeluaran wisatawan, serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
(FIR)
Berlangsung pada 3–5 November 2026 di ExCeL London, Inggris, paviliun seluas 352,75 meter persegi ini mengusung kampanye Go Beyond Ordinary. Keindahan bahari menjadi inspirasi utama desain, yang dipadukan dengan pengalaman visual, aroma, cita rasa, dan suara khas Indonesia.
Salah satu daya tariknya adalah instalasi karya seniman kontemporer Mulyana atau Mang Moel. Seniman yang dikenal lewat karya rajutan bertema kehidupan bawah laut ini menghadirkan pesan tentang keindahan sekaligus kerapuhan ekosistem laut.
Baca Juga :
Gaya 6 Negara Asia Tenggara Bertemu di JFW 2027
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Indonesia ingin dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga pengalaman autentik, budaya, dan kreativitas masyarakatnya.
"Paviliun Wonderful Indonesia turut memperkenalkan lima produk wisata unggulan, yakni wisata bahari, gastronomi, wellness, wastra Nusantara, dan pariwisata ramah Muslim. Strategi ini diarahkan untuk menarik wisatawan berkualitas yang berpotensi tinggal lebih lama dan memiliki pengeluaran lebih tinggi," ucap Menpar Widiyanti.
Libatkan 65 Pelaku Industri Pariwisata
Partisipasi Indonesia dalam WTM London juga menjadi kesempatan mempertemukan pelaku industri pariwisata nasional dengan pembeli dan mitra internasional. Tahun ini, sebanyak 65 pelaku industri Indonesia terlibat, termasuk empat desa wisata, yakni Teluk Harapan, Candirejo, Walian Satu, dan Hijau Bilebante.
Selain promosi destinasi, agenda Indonesia mencakup pertemuan bisnis, dialog industri, serta penjajakan kerja sama untuk memperluas pasar pariwisata nasional.
Salah satu agenda lainnya adalah soft launching permainan Monopoly: Jakarta Edition. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkenalkan ikon, destinasi, dan komunitas lokal Jakarta melalui permainan yang dikenal secara global.
Indonesia juga menjajaki peluang kerja sama dengan Forbes Travel Guide untuk memperkuat posisi di pasar wisata premium, termasuk pengembangan kualitas layanan hospitality dan pengalaman wellness.
Di tingkat internasional, Menteri Pariwisata turut menghadiri WTM London Ministers' Summit pada 4 November 2026. Forum yang mempertemukan lebih dari 50 menteri dan pejabat senior itu membahas penguatan pariwisata yang tangguh dan regeneratif.
Indonesia mengangkat sejumlah isu, mulai dari tata kelola destinasi, investasi inklusif, pemberdayaan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi digital. Pengembangan desa wisata dan destinasi prioritas juga menjadi bagian dari upaya agar manfaat pariwisata tidak hanya terpusat di kawasan yang sudah populer.
Melalui keikutsertaan di WTM London 2026, Indonesia berupaya memperkuat daya saing di pasar global. Targetnya bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, tetapi juga mendorong lama tinggal, pengeluaran wisatawan, serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
(FIR)