WISATA
300 Drone Sulap Langit Banyuwangi di Gandrung Sewu 2026
A. Firdaus
Sabtu 31 Oktober 2026 / 16:11
- Sebanyak 300 drone dan 100 efek piroteknik menghiasi langit Banyuwangi.
- Teknologi pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mengoptimalkan formasi dan jalur penerbangan drone.
- Pertunjukan drone tersebut menjadi pembuka sebelum penampilan kolosal 1.300 penari Gandrung.
Banyuwangi: Langit Pantai Boom Marina, Banyuwangi, dihiasi pertunjukan cahaya dari ratusan drone dalam rangkaian Gandrung Sewu 2026, Sabtu, 24 Oktober 2026. Sebanyak 300 drone berpadu dengan 100 efek piroteknik menghadirkan pertunjukan visual yang menggabungkan teknologi modern dengan kekayaan budaya lokal.
Selama sekitar 10 menit, pertunjukan Drone Pyro Show menampilkan 11 formasi yang terinspirasi dari alam dan identitas Banyuwangi. Beberapa di antaranya adalah Gunung Ijen, De Djawatan, Kembang Dermo, hingga sosok penari Gandrung.
Tiga formasi, yakni Gunung Ijen, Kembang Dermo, dan tulisan Gandrung Sewu, turut diperkuat efek piroteknik yang menambah daya tarik pertunjukan.
Direktur Drone Show Indo, Fadel Yasrawi, mengatakan teknologi drone dapat menjadi medium baru untuk memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat melalui pengalaman visual yang berbeda.
"Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Melalui teknologi drone, kami ingin menghadirkan cara baru untuk menceritakan kekayaan tersebut. Bukan sekadar pertunjukan cahaya, tetapi juga pengalaman visual yang membawa identitas daerah," ujar Fadel.
Menggabungkan ratusan drone dengan efek piroteknik bukan perkara sederhana. Prosesnya membutuhkan perencanaan mulai dari pengembangan konsep visual, pengaturan formasi, sinkronisasi gerakan, hingga keselamatan penerbangan.
Fadel menjelaskan, teknologi pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mengoptimalkan formasi dan jalur penerbangan drone. Simulasi juga digunakan untuk menguji rangkaian pertunjukan sekaligus meminimalkan risiko keselamatan.
"Tantangannya bukan hanya menerbangkan 300 drone secara bersamaan, tetapi juga memastikan seluruh formasi dan efek piroteknik berjalan selaras. Ekspresi kreatif dan ketepatan teknis harus berjalan beriringan, dengan keselamatan sebagai prioritas utama," katanya.
Pertunjukan drone tersebut menjadi pembuka sebelum penampilan kolosal 1.300 penari Gandrung dengan kostum dan riasan glow in the dark. Perpaduan teknologi dan seni tradisional ini memperlihatkan bagaimana inovasi dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus merawat warisan budaya daerah.
Fadel berharap pertunjukan di Banyuwangi dapat membuka peluang kolaborasi lebih luas antara pelaku teknologi, industri kreatif, dan sektor pariwisata.
Menurutnya, setiap daerah memiliki cerita dan identitas yang dapat diperkenalkan melalui berbagai pendekatan kreatif. Teknologi drone pun berpotensi menjadi salah satu medium untuk membawa kekayaan budaya Nusantara ke panggung yang lebih luas.
(FIR)
Selama sekitar 10 menit, pertunjukan Drone Pyro Show menampilkan 11 formasi yang terinspirasi dari alam dan identitas Banyuwangi. Beberapa di antaranya adalah Gunung Ijen, De Djawatan, Kembang Dermo, hingga sosok penari Gandrung.
Tiga formasi, yakni Gunung Ijen, Kembang Dermo, dan tulisan Gandrung Sewu, turut diperkuat efek piroteknik yang menambah daya tarik pertunjukan.
Direktur Drone Show Indo, Fadel Yasrawi, mengatakan teknologi drone dapat menjadi medium baru untuk memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat melalui pengalaman visual yang berbeda.
"Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Melalui teknologi drone, kami ingin menghadirkan cara baru untuk menceritakan kekayaan tersebut. Bukan sekadar pertunjukan cahaya, tetapi juga pengalaman visual yang membawa identitas daerah," ujar Fadel.
Teknologi dan Kreativitas Berjalan Beriringan
Menggabungkan ratusan drone dengan efek piroteknik bukan perkara sederhana. Prosesnya membutuhkan perencanaan mulai dari pengembangan konsep visual, pengaturan formasi, sinkronisasi gerakan, hingga keselamatan penerbangan.
Fadel menjelaskan, teknologi pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mengoptimalkan formasi dan jalur penerbangan drone. Simulasi juga digunakan untuk menguji rangkaian pertunjukan sekaligus meminimalkan risiko keselamatan.
"Tantangannya bukan hanya menerbangkan 300 drone secara bersamaan, tetapi juga memastikan seluruh formasi dan efek piroteknik berjalan selaras. Ekspresi kreatif dan ketepatan teknis harus berjalan beriringan, dengan keselamatan sebagai prioritas utama," katanya.
Pertunjukan drone tersebut menjadi pembuka sebelum penampilan kolosal 1.300 penari Gandrung dengan kostum dan riasan glow in the dark. Perpaduan teknologi dan seni tradisional ini memperlihatkan bagaimana inovasi dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus merawat warisan budaya daerah.
Fadel berharap pertunjukan di Banyuwangi dapat membuka peluang kolaborasi lebih luas antara pelaku teknologi, industri kreatif, dan sektor pariwisata.
Menurutnya, setiap daerah memiliki cerita dan identitas yang dapat diperkenalkan melalui berbagai pendekatan kreatif. Teknologi drone pun berpotensi menjadi salah satu medium untuk membawa kekayaan budaya Nusantara ke panggung yang lebih luas.
(FIR)