WISATA
Orang Indonesia Pertama Jelajahi 197 Negara, Timothy Astandu Raih Rekor MURI
Elang Riki Yanuar
Sabtu 01 Agustus 2026 / 23:13
- Dr. Timothy Astandu mencetak rekor MURI usai berhasil mengunjungi seluruh 197 negara berdaulat dengan paspor Indonesia.
- Berhasil keliling 197 negara, Dr. Timothy Astandu membuktikan paspor Indonesia mampu mengakses seluruh negara di dunia.
- Usai menuntaskan perjalanan ke 197 negara, Dr. Timothy Astandu kini menargetkan menjelajahi seluruh provinsi Indonesia dan 200 maskapai.
Jakarta: Menjelajahi seluruh negara di dunia mungkin terdengar seperti mimpi yang sulit diwujudkan. Namun, bagi Dr. Timothy Astandu, impian tersebut telah menjadi kenyataan.
Dengan menggunakan paspor Indonesia, ia berhasil mengunjungi seluruh 197 negara dan wilayah berdaulat yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekaligus mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Rekor tersebut diberikan dalam kategori Insan Indonesia yang Mengunjungi Negara Berdaulat Terbanyak. Penghargaan diserahkan langsung oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, pada 16 Juli 2026 di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Perjalanan panjang itu ditutup di Brasil pada Mei 2026. Bagi Timothy, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang jumlah negara yang berhasil dikunjungi, tetapi juga menjadi bukti bahwa paspor Indonesia mampu membawa pemiliknya menjelajahi seluruh penjuru dunia.
Momen penerimaan penghargaan pun terasa emosional karena ia didampingi sang istri dan ibunda. Timothy mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap dunia perjalanan justru diwarisi dari ibunya yang telah mengenalkannya pada budaya dan negara lain sejak masih bayi.
"Secara khusus saya mengajak ibu saya untuk menerima penghargaan dari MURI. Karena beliau-lah yang telah menurunkan hobi menjelajah ini, dimulai dari kunjungan ke negara Jerman saat saya berusia satu tahun. Sayangnya, karena usia dan kesehatan, ibu saya berhenti setelah mencapai negara ke-87, dan saya yang berhasil melanjutkan semangatnya menuntaskan seluruh negara di dunia," ungkap Dr. Timothy Astandu.

Selain mendapat pengakuan dari MURI, Timothy sebelumnya juga telah diakui oleh tiga komunitas perjalanan internasional bergengsi, yakni Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP). Pengakuan tersebut menempatkannya di jajaran pelancong dunia dengan capaian yang sangat langka.
Di balik pencapaiannya, Timothy juga ingin meluruskan anggapan bahwa paspor Indonesia memiliki keterbatasan untuk bepergian ke luar negeri. Menurutnya, pengalaman yang ia jalani justru menunjukkan hal sebaliknya.
"Pencapaian saya menjadi bukti bahwa paspor Indonesia tidak lemah. Kalau tujuannya adalah ke negara-negara maju, memang benar pemegang paspor Indonesia lebih sulit. Tapi paspor Indonesia bisa digunakan untuk mengunjungi semua negara. Itu blessing in disguise. Tidak ada negara yang secara khusus memblokir Indonesia," katanya.
Ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia sebagai negara Non-Blok memberikan keuntungan diplomatik tersendiri. Menurut Timothy, kondisi tersebut membuat pemegang paspor Indonesia tetap memiliki akses ke berbagai negara yang dalam situasi tertentu sulit dikunjungi oleh warga negara tertentu, termasuk Korea Utara, Afganistan, Rusia, dan Suriah.
Meski aktif berkeliling dunia, Timothy tetap menjalankan tanggung jawab sebagai CEO sekaligus Co-founder Populix. Ia mengaku harus menyusun jadwal perjalanan seefisien mungkin agar tetap bisa bekerja tanpa mengganggu aktivitas perusahaan.
"Saya harus pintar membagi waktu. Saya harus memutar otak agar perjalanan saya efisien. Mulai dari mencuri waktu di akhir pekan atau libur panjang, hingga terbang di Jumat malam dan pulang kembali di Minggu sore agar langsung dapat bekerja di Senin pagi. Namun, saya sangat menikmati dan mensyukurinya," ujarnya.
Selama menjelajahi berbagai belahan dunia, Timothy mengaku memperoleh banyak pelajaran dari interaksi dengan masyarakat lokal. Percakapan sederhana dengan orang-orang dari berbagai latar belakang membuatnya memahami bahwa realitas di setiap negara sering kali berbeda dengan stereotip yang berkembang.
Meski telah menyelesaikan misi mengunjungi seluruh negara berdaulat di dunia, Timothy belum berhenti menjelajah. Ia kini menargetkan untuk mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang pernah terbang menggunakan 200 maskapai penerbangan berbeda.
"Setelah ini, target capaian saya selanjutnya adalah menuntaskan perjalanan ke seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi orang Indonesia pertama yang menaiki 200 merek maskapai penerbangan di dunia. Saat ini saya masih kurang mengunjungi 6 provinsi di Indonesia, khususnya di Papua yang beberapa waktu lalu mengalami pemekaran. Selain itu, saya juga masih perlu menaiki sekitar 8 maskapai lagi. Harapannya kedua capaian tersebut bisa saya tuntaskan di akhir tahun nanti," pungkas Dr. Timothy Astandu.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)
Dengan menggunakan paspor Indonesia, ia berhasil mengunjungi seluruh 197 negara dan wilayah berdaulat yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekaligus mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Rekor tersebut diberikan dalam kategori Insan Indonesia yang Mengunjungi Negara Berdaulat Terbanyak. Penghargaan diserahkan langsung oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, pada 16 Juli 2026 di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Perjalanan panjang itu ditutup di Brasil pada Mei 2026. Bagi Timothy, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang jumlah negara yang berhasil dikunjungi, tetapi juga menjadi bukti bahwa paspor Indonesia mampu membawa pemiliknya menjelajahi seluruh penjuru dunia.
Momen penerimaan penghargaan pun terasa emosional karena ia didampingi sang istri dan ibunda. Timothy mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap dunia perjalanan justru diwarisi dari ibunya yang telah mengenalkannya pada budaya dan negara lain sejak masih bayi.
"Secara khusus saya mengajak ibu saya untuk menerima penghargaan dari MURI. Karena beliau-lah yang telah menurunkan hobi menjelajah ini, dimulai dari kunjungan ke negara Jerman saat saya berusia satu tahun. Sayangnya, karena usia dan kesehatan, ibu saya berhenti setelah mencapai negara ke-87, dan saya yang berhasil melanjutkan semangatnya menuntaskan seluruh negara di dunia," ungkap Dr. Timothy Astandu.

Selain mendapat pengakuan dari MURI, Timothy sebelumnya juga telah diakui oleh tiga komunitas perjalanan internasional bergengsi, yakni Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP). Pengakuan tersebut menempatkannya di jajaran pelancong dunia dengan capaian yang sangat langka.
Di balik pencapaiannya, Timothy juga ingin meluruskan anggapan bahwa paspor Indonesia memiliki keterbatasan untuk bepergian ke luar negeri. Menurutnya, pengalaman yang ia jalani justru menunjukkan hal sebaliknya.
"Pencapaian saya menjadi bukti bahwa paspor Indonesia tidak lemah. Kalau tujuannya adalah ke negara-negara maju, memang benar pemegang paspor Indonesia lebih sulit. Tapi paspor Indonesia bisa digunakan untuk mengunjungi semua negara. Itu blessing in disguise. Tidak ada negara yang secara khusus memblokir Indonesia," katanya.
Ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia sebagai negara Non-Blok memberikan keuntungan diplomatik tersendiri. Menurut Timothy, kondisi tersebut membuat pemegang paspor Indonesia tetap memiliki akses ke berbagai negara yang dalam situasi tertentu sulit dikunjungi oleh warga negara tertentu, termasuk Korea Utara, Afganistan, Rusia, dan Suriah.
Meski aktif berkeliling dunia, Timothy tetap menjalankan tanggung jawab sebagai CEO sekaligus Co-founder Populix. Ia mengaku harus menyusun jadwal perjalanan seefisien mungkin agar tetap bisa bekerja tanpa mengganggu aktivitas perusahaan.
"Saya harus pintar membagi waktu. Saya harus memutar otak agar perjalanan saya efisien. Mulai dari mencuri waktu di akhir pekan atau libur panjang, hingga terbang di Jumat malam dan pulang kembali di Minggu sore agar langsung dapat bekerja di Senin pagi. Namun, saya sangat menikmati dan mensyukurinya," ujarnya.
Selama menjelajahi berbagai belahan dunia, Timothy mengaku memperoleh banyak pelajaran dari interaksi dengan masyarakat lokal. Percakapan sederhana dengan orang-orang dari berbagai latar belakang membuatnya memahami bahwa realitas di setiap negara sering kali berbeda dengan stereotip yang berkembang.
Meski telah menyelesaikan misi mengunjungi seluruh negara berdaulat di dunia, Timothy belum berhenti menjelajah. Ia kini menargetkan untuk mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang pernah terbang menggunakan 200 maskapai penerbangan berbeda.
"Setelah ini, target capaian saya selanjutnya adalah menuntaskan perjalanan ke seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi orang Indonesia pertama yang menaiki 200 merek maskapai penerbangan di dunia. Saat ini saya masih kurang mengunjungi 6 provinsi di Indonesia, khususnya di Papua yang beberapa waktu lalu mengalami pemekaran. Selain itu, saya juga masih perlu menaiki sekitar 8 maskapai lagi. Harapannya kedua capaian tersebut bisa saya tuntaskan di akhir tahun nanti," pungkas Dr. Timothy Astandu.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)