WISATA

Cerita Timothy Astandu Jadi Orang Indonesia Pertama yang Jelajahi 197 Negara

Elang Riki Yanuar
Sabtu 06 Juni 2026 / 12:57
Ringkasnya gini..
  • Dr. Timothy Astandu menjadi orang pertama yang menuntaskan kunjungan ke 197 negara dan wilayah menggunakan paspor Indonesia.
  • Perjalanan ke 197 negara dimanfaatkan Dr. Timothy sebagai riset perilaku manusia, mematahkan banyak asumsi tentang berbagai negara.
  • Pengalaman keliling dunia menginspirasi Dr. Timothy membangun Populix dan mengembangkan riset berbasis data serta kecerdasan buatan.
Jakarta: Menjelajahi seluruh penjuru dunia bukan hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Dr. Timothy Astandu, tetapi juga membuka jalan bagi riset perilaku manusia dalam skala yang belum pernah dilakukan oleh peneliti Indonesia. Dengan menggunakan paspor Indonesia, ia berhasil mengunjungi secara tuntas 197 negara dan wilayah di berbagai belahan dunia.

Perjalanan tersebut mencakup 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, dua negara pengamat PBB yaitu Vatikan dan Palestina, serta dua wilayah dengan pengakuan terbatas yang kerap menjadi sorotan geopolitik global, yakni Taiwan dan Kosovo. Catatan perjalanan itu mendapat pengakuan dari tiga organisasi perjalanan internasional terkemuka, yakni Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).

Bagi Dr. Timothy, setiap negara yang dikunjungi bukan sekadar destinasi wisata. Ia memanfaatkan perjalanannya sebagai laboratorium hidup untuk memahami cara manusia berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan dalam berbagai kondisi sosial maupun ekonomi.

Menurutnya, percakapan dengan warga lokal menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Pasar tradisional, pusat perbelanjaan, hingga ruang publik menjadi lokasi observasi yang memberinya perspektif berbeda tentang perilaku masyarakat di berbagai negara.

Pengalaman lapangan tersebut juga membuatnya menyadari bahwa gambaran suatu negara yang muncul di media atau layar gawai tidak selalu mencerminkan realitas sebenarnya. Salah satu contoh yang paling membekas adalah pengalamannya saat berada di Irak.

"Hal ini berbeda jauh dengan asumsi saya. Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan, di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya," katanya.

Temuan serupa juga ia rasakan ketika mengunjungi sejumlah negara di Afrika dan kawasan yang tengah dilanda konflik. Negara-negara yang sering diberitakan karena peperangan ternyata menyimpan sisi kehidupan yang jarang terekspos ke publik.
Somalia dan Yaman, misalnya, masih memiliki pusat perbelanjaan modern, taman hiburan dengan wahana roller coaster yang beroperasi, hingga masyarakat yang menikmati waktu santai di pantai pada malam hari. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya tentang pentingnya verifikasi langsung dalam sebuah penelitian.

"Bagi seorang peneliti, ini bukan anekdot. Ini adalah pelajaran metodologi yang paling mendasar. Jangan percaya pada asumsi sebelum melakukan verifikasi lapangan," ucapnya.



Selain mengamati persepsi terhadap suatu negara, Dr. Timothy juga menemukan pola menarik terkait hubungan antara kesejahteraan ekonomi dan kebahagiaan masyarakat. Berdasarkan pengamatannya di berbagai kawasan dunia, kemajuan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan.

"Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju itu lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata masyarakatnya terlihat lebih bahagia. Peningkatan ekonomi itu bagus, namun faktor penentu kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh itu saja. Persepsi bahwa semakin kaya pasti semakin bahagia, agaknya sulit dibuktikan. Karena kesederhanaan hidup mereka nampaknya memberikan kebahagiaan yang lebih," papar dia.

Temuan tersebut menjadi pelajaran penting dalam memahami perilaku konsumen. Menurutnya, indikator ekonomi semata tidak cukup untuk menjelaskan motivasi, kebutuhan, maupun keputusan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat untuk memahami manusia inilah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Populix, perusahaan konsultasi berbasis riset yang didirikannya bersama dua rekannya pada 2018. Rasa ingin tahu terhadap perilaku manusia menjadi benang merah yang menghubungkan perjalanan globalnya dengan pengembangan bisnis riset tersebut.

Nama Populix sendiri berasal dari istilah Latin "vox populi" yang berarti suara rakyat. Filosofi itu diwujudkan melalui misi mendemokratisasi data agar akses terhadap informasi dan penelitian dapat dijangkau oleh lebih banyak kalangan.

Melalui platform PopSurvey, pengguna dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi, dapat menyusun survei secara mandiri, menentukan karakteristik responden, dan menjangkau lebih dari 1,3 juta responden yang tersedia dalam ekosistem Populix. Hasil survei pun dapat diperoleh dengan cepat untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Seiring berkembangnya teknologi, Populix juga memperluas layanan riset melalui pendekatan kuantitatif, kualitatif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan. Salah satu inovasi terbaru yang diperkenalkan adalah AskLumia, platform riset berbasis AI yang dirancang untuk membantu pengguna menguji berbagai hipotesis secara lebih efisien.

"AskLumia adalah versi ringkas dari apa yang saya lakukan selama bertahun-tahun: memahami manusia dari berbagai penjuru dunia, dengan cepat, tanpa hadir secara langsung," tutupnya. 



 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(ELG)

MOST SEARCH