- Ivany bukan sekadar pengemudi. Ia adalah ibu dari dua anak.
- Hari-harinya kini diisi dengan target dan strategi.
- Di momen Hari Kartini, Ivany tak berbicara soal mimpi besar.
Jakarta: Siang itu, matahari menggantung tinggi di atas jalanan ibu kota. Deru kendaraan bersahutan, seperti tak pernah memberi jeda. Di balik kemudi sebuah taksi, Ivany Rosaline menggenggam setir dengan tenang. Di wajahnya, tak tampak lelah, yang ada hanya keteguhan.
Hari Kartini bukan sekadar perayaan baginya. Di jalanan yang keras, semangat Raden Ajeng Kartini hidup dalam bentuk yang berbeda: keberanian untuk bertahan.
Ivany bukan sekadar pengemudi. Ia adalah ibu dari dua anak, sekaligus tulang punggung keluarga. Hidup tak langsung membawanya ke balik setir. Ia pernah mencoba berbagai usaha, membuat kue, membuka laundry, hingga warung kopi. Namun semuanya tak berjalan seperti yang diharapkan.
“Sudah banyak usaha saya jalani, tapi ternyata bukan passion saya di situ,” ujarnya pelan.
Keadaan memaksanya mengambil keputusan cepat. Tabungan menipis, kebutuhan terus berjalan. Hingga akhirnya, ia memilih jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi pengemudi taksi.
Hanya tiga hari pelatihan, lalu ia benar-benar turun ke jalan. Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Namun jalan yang ia pilih bukan tanpa cerita. Sebagai perempuan di profesi yang didominasi laki-laki, Ivany kerap menghadapi keraguan, bahkan penolakan.
Pernah suatu waktu, seorang penumpang membatalkan perjalanan hanya karena yang menjemput adalah perempuan.
Alih-alih patah, Ivany memilih membuktikan. Ia tetap melaju, menyapa penumpang berikutnya dengan keyakinan yang sama: aman dan nyaman.
Hari-harinya kini diisi dengan target dan strategi. Ia hafal ritme kota, kapan jalanan ramai, kapan peluang datang. Bandara menjadi salah satu titik andalannya. Dalam sehari, ia menargetkan penghasilan hingga Rp1 juta, dengan rata-rata bulanan sekitar Rp7–8 juta. Namun angka-angka itu tak pernah jadi tujuan utama.

Hidup tak langsung membawanya ke balik setir. Ia pernah mencoba berbagai usaha. Dok. Secillia/Medcom
Ada hal yang lebih besar yang ia kejar: masa depan anak-anaknya
Di balik kesibukan, ada luka yang pernah ia rasakan begitu dalam, ketika anaknya sakit, sementara ia tak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan.
“Itu yang paling menyakitkan,” katanya, suaranya nyaris bergetar.
Sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak lagi menyerah.
Di tengah kerasnya jalanan, Ivany menemukan kekuatan lain: lingkungan yang mendukung. Bersama Bluebird Group, ia merasakan sistem kerja yang memberinya rasa aman, dari tombol darurat di kendaraan hingga mess khusus perempuan.
Fleksibilitas waktu menjadi napas bagi perannya sebagai ibu. Ketika anak membutuhkan, ia bisa berhenti sejenak dari jalanan, lalu kembali lagi saat keadaan memungkinkan.
Ia juga tak berjalan sendiri. Dalam komunitas Srikandi Bluebird, Ivany menemukan solidaritas. Sesama pengemudi perempuan saling menguatkan, berbagi cerita, dan bertahan bersama.
“Di jalan itu keras. Tapi kami saling support,” ujarnya.
Banyak dari mereka adalah ibu tunggal, perempuan-perempuan yang memilih berdiri di atas kaki sendiri, meski dunia tak selalu ramah.
Di momen Hari Kartini, Ivany tak berbicara soal mimpi besar. Pesannya sederhana, tapi dalam.
Jangan menyerah.
Baginya, menjadi mandiri bukan pilihan, melainkan keharusan. Terutama ketika ada anak-anak yang bergantung pada harapan yang ia bawa setiap hari, di balik setir.
Di tengah hiruk pikuk kota, Ivany terus melaju. Bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga nyala harapan, bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, tak pernah sia-sia.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Hari Kartini bukan sekadar perayaan baginya. Di jalanan yang keras, semangat Raden Ajeng Kartini hidup dalam bentuk yang berbeda: keberanian untuk bertahan.
Ivany bukan sekadar pengemudi. Ia adalah ibu dari dua anak, sekaligus tulang punggung keluarga. Hidup tak langsung membawanya ke balik setir. Ia pernah mencoba berbagai usaha, membuat kue, membuka laundry, hingga warung kopi. Namun semuanya tak berjalan seperti yang diharapkan.
“Sudah banyak usaha saya jalani, tapi ternyata bukan passion saya di situ,” ujarnya pelan.
Keadaan memaksanya mengambil keputusan cepat. Tabungan menipis, kebutuhan terus berjalan. Hingga akhirnya, ia memilih jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi pengemudi taksi.
Hanya tiga hari pelatihan, lalu ia benar-benar turun ke jalan. Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Namun jalan yang ia pilih bukan tanpa cerita. Sebagai perempuan di profesi yang didominasi laki-laki, Ivany kerap menghadapi keraguan, bahkan penolakan.
Pernah suatu waktu, seorang penumpang membatalkan perjalanan hanya karena yang menjemput adalah perempuan.
Alih-alih patah, Ivany memilih membuktikan. Ia tetap melaju, menyapa penumpang berikutnya dengan keyakinan yang sama: aman dan nyaman.
Hari-harinya kini diisi dengan target dan strategi. Ia hafal ritme kota, kapan jalanan ramai, kapan peluang datang. Bandara menjadi salah satu titik andalannya. Dalam sehari, ia menargetkan penghasilan hingga Rp1 juta, dengan rata-rata bulanan sekitar Rp7–8 juta. Namun angka-angka itu tak pernah jadi tujuan utama.

Hidup tak langsung membawanya ke balik setir. Ia pernah mencoba berbagai usaha. Dok. Secillia/Medcom
Ada hal yang lebih besar yang ia kejar: masa depan anak-anaknya
Di balik kesibukan, ada luka yang pernah ia rasakan begitu dalam, ketika anaknya sakit, sementara ia tak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan.
“Itu yang paling menyakitkan,” katanya, suaranya nyaris bergetar.
Sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak lagi menyerah.
Di tengah kerasnya jalanan, Ivany menemukan kekuatan lain: lingkungan yang mendukung. Bersama Bluebird Group, ia merasakan sistem kerja yang memberinya rasa aman, dari tombol darurat di kendaraan hingga mess khusus perempuan.
Fleksibilitas waktu menjadi napas bagi perannya sebagai ibu. Ketika anak membutuhkan, ia bisa berhenti sejenak dari jalanan, lalu kembali lagi saat keadaan memungkinkan.
Ia juga tak berjalan sendiri. Dalam komunitas Srikandi Bluebird, Ivany menemukan solidaritas. Sesama pengemudi perempuan saling menguatkan, berbagi cerita, dan bertahan bersama.
“Di jalan itu keras. Tapi kami saling support,” ujarnya.
Banyak dari mereka adalah ibu tunggal, perempuan-perempuan yang memilih berdiri di atas kaki sendiri, meski dunia tak selalu ramah.
Di momen Hari Kartini, Ivany tak berbicara soal mimpi besar. Pesannya sederhana, tapi dalam.
Jangan menyerah.
Baginya, menjadi mandiri bukan pilihan, melainkan keharusan. Terutama ketika ada anak-anak yang bergantung pada harapan yang ia bawa setiap hari, di balik setir.
Di tengah hiruk pikuk kota, Ivany terus melaju. Bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga nyala harapan, bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, tak pernah sia-sia.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)