YOUR FASHION
Cara Tara Basro Maknai Hari Kartini & Ekspresi Diri Lewat Outfit yang Bold
Yatin Suleha
Selasa 21 April 2026 / 15:52
- Sosok Tara Basro kerap dipandang sebagai representasi perempuan yang berani berdiri di atas pilihannya sendiri.
- Bagi Tara, emansipasi bukanlah konsep yang abstrak, melainkan kebebasan paling esensial: kebebasan untuk menentukan diri sendiri.
- Dari mulai cara berpikir, mengambil keputusan, hingga mengekspresikan identitas melalui pilihan sehari-hari, termasuk lewat busana.
Jakarta: Sosok Tara Basro kerap dipandang sebagai representasi perempuan yang berani berdiri di atas pilihannya sendiri.
Bagi Tara, emansipasi bukanlah konsep yang abstrak, melainkan kebebasan paling esensial: kebebasan untuk menentukan diri sendiri.
Dari mulai cara berpikir, mengambil keputusan, hingga mengekspresikan identitas melalui pilihan sehari-hari, termasuk lewat busana.
Semangat Kartini hari ini turut hadir dalam keputusan personal bagaimana perempuan berpikir, menjalani peran, hingga mengekspresikan dirinya.
Tara mengakui bahwa makna emansipasi yang ia pahami hari ini lahir dari perjalanan yang personal.
Jika dahulu perjuangan perempuan sering didefinisikan melalui akses terhadap pendidikan atau karier, kini tantangannya kerap hadir dalam bentuk yang lebih “halus”, namun tidak kalah menekan.
Standar sosial tentang citra dan “versi ideal” perempuan yang terbentuk di masyarakat masih memengaruhi bagaimana perempuan dilihat dan melihat dirinya sendiri.
Tara pernah berada di fase ketika ekspektasi sosial memengaruhi perspektifnya akan dirinya sendiri, terutama saat mengalami perubahan bentuk tubuh yang membuatnya semakin sadar akan kuatnya standar yang dilekatkan pada perempuan.
“Ada masa di mana aku merasa harus jadi versi tertentu supaya bisa diterima. Dan itu capek, karena rasanya bukan benar-benar aku,” ungkap Tara.
Perjalanan menuju penerimaan diri itu tidak berlangsung lurus. Ada fase ragu, mencoba, hingga akhirnya menemukan apa yang terasa paling jujur.
.jpg)
(“Menurut aku, Kartini masa kini itu perempuan yang berani memilih untuk dirinya sendiri. Enggak harus sempurna, enggak perlu mengejar standar orang lain," ujar Tara Basro. Foto: Dok. Istimewa)
Titik baliknya hadir saat Tara menyadari bahwa rasa percaya diri tidak lahir dari memenuhi ekspektasi, melainkan dari keberanian untuk memilih jalannya sendiri.
“Di satu titik aku belajar bahwa kita enggak harus selalu mengikuti apa yang dianggap ‘benar’ oleh orang lain. Justru ketika kita mulai memilih untuk diri sendiri, di situ kita menemukan rasa percaya diri yang lebih real,” lanjutnya.
Dari proses tersebut, Tara memaknai emansipasi bukan sebagai sesuatu yang harus selalu monumental saja, melainkan juga dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.
“Ketika kita berani memilih apa yang bikin kita nyaman, tanpa harus takut dengan pendapat orang, di situ kita sedang jadi diri sendiri. It’s liberating.”
Bagi Tara, kenyamanan menjadi fondasi penting dalam membangun rasa percaya diri: “Kalau aku nyaman, aku lebih pede. Sesimpel itu."
"Karena ketika kita merasa nyaman, kita enggak lagi berusaha jadi versi yang orang lain mau. Kita bisa jadi diri sendiri.” ujarnya dalam rilis bersama Uniqlo.
“Aku percaya rasa nyaman itu ngaruh banget ke cara kita membawa diri. Saat kita pakai sesuatu yang terasa pas dan jujur sama diri kita, confidence-nya datang lebih natural, dan kita jadi lebih berani menjalani hari dengan cara kita sendiri.”
Pada akhirnya, perjalanan Tara menjadi refleksi dari semangat Kartini masa kini. Bahwa emansipasi bukan hanya tentang membuka jalan, tetapi tentang keberanian untuk berjalan di jalan yang kita pilih sendiri.
“Menurut aku, Kartini masa kini itu perempuan yang berani memilih untuk dirinya sendiri. Enggak harus sempurna, enggak perlu mengejar standar orang lain. You are beautiful, you are enough, dan kamu berhak menjalani hidup dengan cara yang kamu percayai,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Bagi Tara, emansipasi bukanlah konsep yang abstrak, melainkan kebebasan paling esensial: kebebasan untuk menentukan diri sendiri.
Dari mulai cara berpikir, mengambil keputusan, hingga mengekspresikan identitas melalui pilihan sehari-hari, termasuk lewat busana.
Semangat Kartini hari ini turut hadir dalam keputusan personal bagaimana perempuan berpikir, menjalani peran, hingga mengekspresikan dirinya.
Tara mengakui bahwa makna emansipasi yang ia pahami hari ini lahir dari perjalanan yang personal.
Jika dahulu perjuangan perempuan sering didefinisikan melalui akses terhadap pendidikan atau karier, kini tantangannya kerap hadir dalam bentuk yang lebih “halus”, namun tidak kalah menekan.
Standar sosial tentang citra dan “versi ideal” perempuan yang terbentuk di masyarakat masih memengaruhi bagaimana perempuan dilihat dan melihat dirinya sendiri.
Tara pernah berada di fase ketika ekspektasi sosial memengaruhi perspektifnya akan dirinya sendiri, terutama saat mengalami perubahan bentuk tubuh yang membuatnya semakin sadar akan kuatnya standar yang dilekatkan pada perempuan.
“Ada masa di mana aku merasa harus jadi versi tertentu supaya bisa diterima. Dan itu capek, karena rasanya bukan benar-benar aku,” ungkap Tara.
Perjalanan menuju penerimaan diri itu tidak berlangsung lurus. Ada fase ragu, mencoba, hingga akhirnya menemukan apa yang terasa paling jujur.
.jpg)
(“Menurut aku, Kartini masa kini itu perempuan yang berani memilih untuk dirinya sendiri. Enggak harus sempurna, enggak perlu mengejar standar orang lain," ujar Tara Basro. Foto: Dok. Istimewa)
Titik baliknya hadir saat Tara menyadari bahwa rasa percaya diri tidak lahir dari memenuhi ekspektasi, melainkan dari keberanian untuk memilih jalannya sendiri.
“Di satu titik aku belajar bahwa kita enggak harus selalu mengikuti apa yang dianggap ‘benar’ oleh orang lain. Justru ketika kita mulai memilih untuk diri sendiri, di situ kita menemukan rasa percaya diri yang lebih real,” lanjutnya.
Dari proses tersebut, Tara memaknai emansipasi bukan sebagai sesuatu yang harus selalu monumental saja, melainkan juga dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.
“Ketika kita berani memilih apa yang bikin kita nyaman, tanpa harus takut dengan pendapat orang, di situ kita sedang jadi diri sendiri. It’s liberating.”
Bagi Tara, kenyamanan menjadi fondasi penting dalam membangun rasa percaya diri: “Kalau aku nyaman, aku lebih pede. Sesimpel itu."
"Karena ketika kita merasa nyaman, kita enggak lagi berusaha jadi versi yang orang lain mau. Kita bisa jadi diri sendiri.” ujarnya dalam rilis bersama Uniqlo.
“Aku percaya rasa nyaman itu ngaruh banget ke cara kita membawa diri. Saat kita pakai sesuatu yang terasa pas dan jujur sama diri kita, confidence-nya datang lebih natural, dan kita jadi lebih berani menjalani hari dengan cara kita sendiri.”
Pada akhirnya, perjalanan Tara menjadi refleksi dari semangat Kartini masa kini. Bahwa emansipasi bukan hanya tentang membuka jalan, tetapi tentang keberanian untuk berjalan di jalan yang kita pilih sendiri.
“Menurut aku, Kartini masa kini itu perempuan yang berani memilih untuk dirinya sendiri. Enggak harus sempurna, enggak perlu mengejar standar orang lain. You are beautiful, you are enough, dan kamu berhak menjalani hidup dengan cara yang kamu percayai,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)