KULINER
Di Balik Hangatnya Sajian Uma Oma Heritage, Para Lansia Temukan Ruang untuk Tetap Bermakna
A. Firdaus
Kamis 02 April 2026 / 20:13
- Restoran ini menghadirkan sosok “Oma” sebagai bagian nyata dari perjalanan bersantap.
- Jumlah lansia diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan.
- Tamu dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kue dan jajanan tradisional Nusantara.
Jakarta: Di tengah hiruk-pikuk kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sebuah ruang makan baru hadir membawa sesuatu yang lebih dari sekadar hidangan lezat. Ia membawa pulang, pada rasa, pada kenangan, dan pada kehangatan yang sering kali hanya ditemukan di rumah nenek.
Uma Oma Heritage, restoran terbaru dari Uma Oma Group, menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang yang sebelumnya dimulai lewat Uma Oma Cafe di Blok M. Namun kali ini, pengalaman yang ditawarkan terasa lebih utuh: lebih elegan, lebih tenang, dan lebih dalam secara emosional.
Mengusung konsep “Warisan Rasa, Hangat Serasa di Rumah Nenek”, Uma Oma Heritage tidak sekadar menyajikan makanan Nusantara. Ia merangkai ulang resep-resep yang hidup di dapur para oma dari berbagai penjuru Indonesia, resep yang diwariskan, dijaga, dan kini dihidupkan kembali dalam presentasi yang lebih modern tanpa menghilangkan keasliannya.

Di sini, setiap hidangan terasa akrab. Rasa yang muncul bukan sekadar enak, melainkan penuh memori, seperti masakan rumah yang dirindukan setelah lama pergi.
Namun, yang membuat pengalaman di Uma Oma Heritage terasa berbeda bukan hanya soal rasa. Restoran ini menghadirkan sosok “Oma” sebagai bagian nyata dari perjalanan bersantap. Para pekerja lanjut usia tidak hanya berperan di balik layar, tetapi menjadi wajah utama yang menyambut tamu dengan hangat.
Ada Oma Masliah yang kini menjadi hostess, menyapa setiap tamu dengan senyum yang tulus. Ada Oma Juwita, yang sebelumnya aktif di dunia sosial, kini menghadirkan kehangatan yang sama lewat pelayanan. Dan ada Oma Lauren, mantan atlet bulutangkis, yang menyuntikkan energi baru dalam setiap interaksi.
Di tangan mereka, pengalaman makan terasa lebih personal, lebih manusiawi.

Pendekatan ini bukan sekadar konsep unik, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang Uma Oma Group dalam menghadirkan ruang yang inklusif. Sejak awal, brand ini memang telah membuka kesempatan bagi lansia untuk tetap aktif, belajar, dan berkontribusi di dunia hospitality yang profesional.
Inisiatif ini tidak berdiri sendiri. Sejak Uma Oma Cafe, pemberdayaan pekerja lanjut usia telah menjadi bagian dari perjalanan brand, dan kini terus diperkuat melalui Uma Oma Heritage sebagai sebuah gerakan sosial yang terus berkembang. Pendekatan ini menegaskan komitmen Uma Oma Group untuk menghadirkan dampak yang nyata, dengan menjadikan inklusi sebagai bagian dari cara brand ini beroperasi, bukan sekadar tambahan.
Kesadaran ini juga sejalan dengan perubahan demografi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk lansia diproyeksikan mencapai sekitar 65 juta jiwa pada tahun 2045. Hal ini menjadikan keterlibatan lansia di ruang publik semakin relevan, sekaligus membuka peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan berdaya.

Pengalaman bersantap di sini juga diperkaya melalui elemen interaktif seperti Dapur Oma. Di area ini, tamu dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kue dan jajanan tradisional Nusantara. Aroma yang menguar, gerakan tangan yang terampil, hingga cerita di balik setiap resep menghadirkan kedekatan yang jarang ditemui di restoran modern.
Ada sesuatu yang sederhana, tapi menyentuh: melihat proses, mendengar cerita, lalu mencicipi hasilnya.
Lebih dari sekadar restoran, Uma Oma Heritage juga menjadi bagian dari visi yang lebih besar melalui pengembangan Oma Foundation, sebuah inisiatif yang berfokus pada pelatihan dan pemberdayaan lansia agar tetap mandiri dan berdaya.
Pada akhirnya, Uma Oma Heritage bukan hanya tentang makan. Ia tentang mengingat—tentang rasa yang pernah ada, tentang cerita yang terus hidup, dan tentang kehangatan yang tidak lekang oleh waktu.
Di tempat ini, setiap kunjungan terasa seperti pulang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Uma Oma Heritage, restoran terbaru dari Uma Oma Group, menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang yang sebelumnya dimulai lewat Uma Oma Cafe di Blok M. Namun kali ini, pengalaman yang ditawarkan terasa lebih utuh: lebih elegan, lebih tenang, dan lebih dalam secara emosional.
Mengusung konsep “Warisan Rasa, Hangat Serasa di Rumah Nenek”, Uma Oma Heritage tidak sekadar menyajikan makanan Nusantara. Ia merangkai ulang resep-resep yang hidup di dapur para oma dari berbagai penjuru Indonesia, resep yang diwariskan, dijaga, dan kini dihidupkan kembali dalam presentasi yang lebih modern tanpa menghilangkan keasliannya.

Di sini, setiap hidangan terasa akrab. Rasa yang muncul bukan sekadar enak, melainkan penuh memori, seperti masakan rumah yang dirindukan setelah lama pergi.
Namun, yang membuat pengalaman di Uma Oma Heritage terasa berbeda bukan hanya soal rasa. Restoran ini menghadirkan sosok “Oma” sebagai bagian nyata dari perjalanan bersantap. Para pekerja lanjut usia tidak hanya berperan di balik layar, tetapi menjadi wajah utama yang menyambut tamu dengan hangat.
Mereka membawa cerita.
Ada Oma Masliah yang kini menjadi hostess, menyapa setiap tamu dengan senyum yang tulus. Ada Oma Juwita, yang sebelumnya aktif di dunia sosial, kini menghadirkan kehangatan yang sama lewat pelayanan. Dan ada Oma Lauren, mantan atlet bulutangkis, yang menyuntikkan energi baru dalam setiap interaksi.
Di tangan mereka, pengalaman makan terasa lebih personal, lebih manusiawi.

Pendekatan ini bukan sekadar konsep unik, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang Uma Oma Group dalam menghadirkan ruang yang inklusif. Sejak awal, brand ini memang telah membuka kesempatan bagi lansia untuk tetap aktif, belajar, dan berkontribusi di dunia hospitality yang profesional.
Inisiatif ini tidak berdiri sendiri. Sejak Uma Oma Cafe, pemberdayaan pekerja lanjut usia telah menjadi bagian dari perjalanan brand, dan kini terus diperkuat melalui Uma Oma Heritage sebagai sebuah gerakan sosial yang terus berkembang. Pendekatan ini menegaskan komitmen Uma Oma Group untuk menghadirkan dampak yang nyata, dengan menjadikan inklusi sebagai bagian dari cara brand ini beroperasi, bukan sekadar tambahan.
Kesadaran ini juga sejalan dengan perubahan demografi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk lansia diproyeksikan mencapai sekitar 65 juta jiwa pada tahun 2045. Hal ini menjadikan keterlibatan lansia di ruang publik semakin relevan, sekaligus membuka peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan berdaya.

Pengalaman bersantap di sini juga diperkaya melalui elemen interaktif seperti Dapur Oma. Di area ini, tamu dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kue dan jajanan tradisional Nusantara. Aroma yang menguar, gerakan tangan yang terampil, hingga cerita di balik setiap resep menghadirkan kedekatan yang jarang ditemui di restoran modern.
Ada sesuatu yang sederhana, tapi menyentuh: melihat proses, mendengar cerita, lalu mencicipi hasilnya.
Lebih dari sekadar restoran, Uma Oma Heritage juga menjadi bagian dari visi yang lebih besar melalui pengembangan Oma Foundation, sebuah inisiatif yang berfokus pada pelatihan dan pemberdayaan lansia agar tetap mandiri dan berdaya.
Pada akhirnya, Uma Oma Heritage bukan hanya tentang makan. Ia tentang mengingat—tentang rasa yang pernah ada, tentang cerita yang terus hidup, dan tentang kehangatan yang tidak lekang oleh waktu.
Di tempat ini, setiap kunjungan terasa seperti pulang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)