KULINER
Ngopi Santai di Jaksel, Ada Kopitiam Bernuansa Lokal
A. Firdaus
Rabu 23 September 2026 / 15:11
- Wayang Café di Mercure Jakarta Gatot Subroto hadir dengan konsep Kopitiam.
- Kopitiam sendiri bukan sekadar tempat minum kopi.
- Wayang Café menjadi salah satu pilihan Food & Beverage di Mercure Jakarta Gatot Subroto.
Jakarta: Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, kopi sering kali bukan cuma soal minuman. Ada yang membutuhkannya sebagai teman memulai hari, teman bekerja, alasan bertemu rekan, atau sekadar jeda sebelum kembali menghadapi padatnya aktivitas.
Kebiasaan ngopi dan nongkrong tersebut pula yang membuat konsep kedai kopi terus berkembang. Bukan hanya tempat membeli kopi, café kini ikut menjadi ruang untuk ngobrol, menggelar pertemuan santai, sampai berkumpul bersama komunitas.
Melihat kebiasaan tersebut, Mercure Jakarta Gatot Subroto menghadirkan Wayang Café dengan konsep Kopitiam. Berlokasi di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, café ini memadukan karakter kedai kopi Asia Tenggara dengan sentuhan lokal dan suasana yang lebih modern.
Konsepnya dibuat cukup fleksibel. Mau ngopi pagi, ngemil saat istirahat, bertemu teman, atau mengadakan casual meeting, semuanya bisa dilakukan dalam satu tempat.
Kopitiam sendiri bukan sekadar tempat minum kopi. Di berbagai negara Asia Tenggara, kedai kopi telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang datang untuk makan, minum, bertemu, sekaligus berbincang.
Semangat itulah yang coba dibawa Wayang Café ke kawasan Gatot Subroto dan Pancoran.
Alih-alih menghadirkan suasana yang terlalu formal, café ini dibuat lebih casual dan approachable. Pengunjung bisa datang untuk menikmati waktu sendiri maupun bertemu rekan tanpa harus merasa sedang berada dalam suasana pertemuan resmi.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari karakter Mercure sebagai brand hospitality yang menggabungkan standar internasional dengan sentuhan lokal.
“Bagi kami, menikmati kopi bukan hanya tentang apa yang ada di dalam cangkir, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tempat dapat menciptakan ruang untuk berbagi cerita dan menikmati kebersamaan. Melalui Wayang Café, kami ingin menghadirkan pengalaman yang sederhana, hangat, dan dekat dengan keseharian masyarakat, dengan sentuhan hospitality khas Mercure,” ujar Koko Baskoro, General Manager Mercure Jakarta Gatot Subroto.
Namanya juga Kopitiam, tentu kopi menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman di Wayang Café.
Selain pilihan kopi dan minuman non-kopi, pengunjung bisa menemukan pastry, cakes, gelato, serta berbagai light bites untuk menemani waktu santai.
Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah Mee Mamak, sajian mi dengan seafood yang hadir dengan cita rasa rempah khas Melayu. Menu ini bisa menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin sesuatu yang lebih mengenyangkan dibanding sekadar menikmati kopi dan camilan.
Untuk minuman, ada Kopi Butter Malaka. Sesuai namanya, minuman ini memadukan kopi hitam dengan butter sehingga menghasilkan karakter rasa yang berbeda dari kopi pada umumnya.
Kombinasi makanan dan minuman tersebut membuat konsep Kopitiam di Wayang Café terasa tidak hanya soal ngopi, tetapi juga pengalaman menikmati makanan yang terinspirasi dari budaya kuliner Asia Tenggara.
Dengan kapasitas sekitar 30 orang, Wayang Café memang tidak dirancang sebagai tempat dengan skala besar. Justru ukuran tersebut membuat suasananya lebih intimate untuk berbagai aktivitas.
Lokasinya di Jalan Gatot Subroto dan dekat dengan Pancoran juga menjadi salah satu nilai praktis bagi mereka yang beraktivitas di kawasan bisnis Jakarta Selatan.
Dari sini, pengunjung relatif mudah menjangkau sejumlah kawasan seperti Kuningan, Mega Kuningan, Sudirman, SCBD, hingga area perkantoran dan pemerintahan.
Karena itu, café ini juga diarahkan untuk kebutuhan casual meeting, diskusi, hingga pertemuan komunitas dan asosiasi.
“Wayang Café kami bangun dari ide sederhana: membawa semangat Kopitiam ke dalam keseharian Jakarta, sebagai tempat untuk bertemu, berbincang, atau sekadar menikmati waktu dengan cara yang lebih santai,” ungkap Tria Anggraeni, Assistant Marketing Communication Manager Mercure Jakarta Gatot Subroto.
Wayang Café menjadi salah satu pilihan Food & Beverage di Mercure Jakarta Gatot Subroto. Kehadirannya melengkapi sejumlah outlet lain yang sudah ada di hotel tersebut, seperti White Rock Terrace, Batavia, Flora, dan Grand Café.
Namun, karakter Wayang Café dibuat berbeda. Jika beberapa ruang makan lebih diarahkan untuk pengalaman bersantap, café ini mengambil posisi yang lebih santai dan fleksibel.
Pada akhirnya, konsep yang ditawarkan cukup sederhana: tempat untuk berhenti sejenak di tengah rutinitas Jakarta.
Bisa datang untuk secangkir kopi sebelum bekerja, makan Mee Mamak saat jam istirahat, bertemu teman setelah kantor, atau sekadar duduk dan mengobrol tanpa agenda yang terlalu serius.
Sebab, seperti budaya Kopitiam yang menjadi inspirasinya, terkadang alasan pergi ke kedai kopi memang sesederhana ingin bertemu dan punya waktu untuk berbincang.
(FIR)
Kebiasaan ngopi dan nongkrong tersebut pula yang membuat konsep kedai kopi terus berkembang. Bukan hanya tempat membeli kopi, café kini ikut menjadi ruang untuk ngobrol, menggelar pertemuan santai, sampai berkumpul bersama komunitas.
Melihat kebiasaan tersebut, Mercure Jakarta Gatot Subroto menghadirkan Wayang Café dengan konsep Kopitiam. Berlokasi di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, café ini memadukan karakter kedai kopi Asia Tenggara dengan sentuhan lokal dan suasana yang lebih modern.
Konsepnya dibuat cukup fleksibel. Mau ngopi pagi, ngemil saat istirahat, bertemu teman, atau mengadakan casual meeting, semuanya bisa dilakukan dalam satu tempat.
Membawa Semangat Kopitiam ke Jakarta
Kopitiam sendiri bukan sekadar tempat minum kopi. Di berbagai negara Asia Tenggara, kedai kopi telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang datang untuk makan, minum, bertemu, sekaligus berbincang.
Semangat itulah yang coba dibawa Wayang Café ke kawasan Gatot Subroto dan Pancoran.
Alih-alih menghadirkan suasana yang terlalu formal, café ini dibuat lebih casual dan approachable. Pengunjung bisa datang untuk menikmati waktu sendiri maupun bertemu rekan tanpa harus merasa sedang berada dalam suasana pertemuan resmi.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari karakter Mercure sebagai brand hospitality yang menggabungkan standar internasional dengan sentuhan lokal.
“Bagi kami, menikmati kopi bukan hanya tentang apa yang ada di dalam cangkir, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tempat dapat menciptakan ruang untuk berbagi cerita dan menikmati kebersamaan. Melalui Wayang Café, kami ingin menghadirkan pengalaman yang sederhana, hangat, dan dekat dengan keseharian masyarakat, dengan sentuhan hospitality khas Mercure,” ujar Koko Baskoro, General Manager Mercure Jakarta Gatot Subroto.
Ada Mee Mamak sampai Kopi Butter Malaka
Namanya juga Kopitiam, tentu kopi menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman di Wayang Café.
Selain pilihan kopi dan minuman non-kopi, pengunjung bisa menemukan pastry, cakes, gelato, serta berbagai light bites untuk menemani waktu santai.
Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah Mee Mamak, sajian mi dengan seafood yang hadir dengan cita rasa rempah khas Melayu. Menu ini bisa menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin sesuatu yang lebih mengenyangkan dibanding sekadar menikmati kopi dan camilan.
Untuk minuman, ada Kopi Butter Malaka. Sesuai namanya, minuman ini memadukan kopi hitam dengan butter sehingga menghasilkan karakter rasa yang berbeda dari kopi pada umumnya.
Kombinasi makanan dan minuman tersebut membuat konsep Kopitiam di Wayang Café terasa tidak hanya soal ngopi, tetapi juga pengalaman menikmati makanan yang terinspirasi dari budaya kuliner Asia Tenggara.
Bisa Buat Meeting Santai
Dengan kapasitas sekitar 30 orang, Wayang Café memang tidak dirancang sebagai tempat dengan skala besar. Justru ukuran tersebut membuat suasananya lebih intimate untuk berbagai aktivitas.
Lokasinya di Jalan Gatot Subroto dan dekat dengan Pancoran juga menjadi salah satu nilai praktis bagi mereka yang beraktivitas di kawasan bisnis Jakarta Selatan.
Dari sini, pengunjung relatif mudah menjangkau sejumlah kawasan seperti Kuningan, Mega Kuningan, Sudirman, SCBD, hingga area perkantoran dan pemerintahan.
Karena itu, café ini juga diarahkan untuk kebutuhan casual meeting, diskusi, hingga pertemuan komunitas dan asosiasi.
“Wayang Café kami bangun dari ide sederhana: membawa semangat Kopitiam ke dalam keseharian Jakarta, sebagai tempat untuk bertemu, berbincang, atau sekadar menikmati waktu dengan cara yang lebih santai,” ungkap Tria Anggraeni, Assistant Marketing Communication Manager Mercure Jakarta Gatot Subroto.
Bukan Sekadar Tempat Ngopi
Wayang Café menjadi salah satu pilihan Food & Beverage di Mercure Jakarta Gatot Subroto. Kehadirannya melengkapi sejumlah outlet lain yang sudah ada di hotel tersebut, seperti White Rock Terrace, Batavia, Flora, dan Grand Café.
Namun, karakter Wayang Café dibuat berbeda. Jika beberapa ruang makan lebih diarahkan untuk pengalaman bersantap, café ini mengambil posisi yang lebih santai dan fleksibel.
Pada akhirnya, konsep yang ditawarkan cukup sederhana: tempat untuk berhenti sejenak di tengah rutinitas Jakarta.
Bisa datang untuk secangkir kopi sebelum bekerja, makan Mee Mamak saat jam istirahat, bertemu teman setelah kantor, atau sekadar duduk dan mengobrol tanpa agenda yang terlalu serius.
Sebab, seperti budaya Kopitiam yang menjadi inspirasinya, terkadang alasan pergi ke kedai kopi memang sesederhana ingin bertemu dan punya waktu untuk berbincang.
(FIR)