KULINER
Kamu Lagi di House of Tugu Jakarta, Tempat yang Baru Aja Masuk World’s Greatest Places
Yatin Suleha
Senin 16 Maret 2026 / 20:14
- House of Tugu Old Town Jakarta resmi terpilih dalam daftar World’s Greatest Places 2026 yang dirilis oleh TIME Magazine.
- Menjadikannya satu-satunya properti dari Indonesia yang masuk dalam kurasi global tersebut tahun ini.
- Dalam ulasannya, Time Magazine juga menyoroti House of Tugu Jakarta sebagai ruang yang memperkenalkan kembali warisan budaya.
Jakarta: House of Tugu Old Town Jakarta resmi terpilih dalam daftar World’s Greatest Places 2026 yang dirilis oleh TIME Magazine, menjadikannya satu-satunya properti dari Indonesia yang masuk dalam kurasi global tersebut tahun ini. Wow, so proud!
Pengakuan ini menempatkan House of Tugu di antara berbagai destinasi dunia yang dinilai menghadirkan pengalaman luar biasa sekaligus memiliki nilai budaya yang kuat.
Didirikan pada tahun 1923, Time Magazine telah lama dikenal sebagai salah satu publikasi paling berpengaruh di dunia.
Berbagai pengakuannya seperti Person of the Year, TIME100 Most Influential People, serta World’s Greatest Places sering menjadi rujukan global dalam menyoroti tokoh, gagasan, dan destinasi yang membentuk percakapan internasional.
Bagi keluarga Tugu, pengakuan ini memiliki arti yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar pencapaian dalam industri perhotelan.
Penghargaan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan panjang untuk menjaga warisan budaya Indonesia yang semakin jarang ditemukan.

(Babah Koffie by Kawisari & Jajaghu Restoran. Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)
Perjalanan tersebut bermula pada tahun 1960-an ketika pendiri Tugu, Anhar Setjadibrata, melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Nusantara.
Dalam perjalanannya ia menyaksikan banyak artefak bersejarah yang terabaikan serta tradisi yang perlahan menghilang. Ia kemudian mulai mengumpulkan benda-benda tersebut sebagai bentuk penyelamatan sejarah.
Bersama istrinya, Wedya Julianti, langkah tersebut berkembang menjadi fondasi lahirnya Tugu yang berkomitmen menjaga identitas budaya Indonesia melalui sejarah yang tetap hidup.
Semangat tersebut kini diteruskan oleh Lucienne Anhar, co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group.
.jpg)
(Ruang Serbaguna Sumba. Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)
“Kami tidak pernah memulai dengan tujuan membangun jaringan hotel dan restoran. Yang ingin kami lakukan adalah menjaga kisah tentang masyarakat Indonesia agar tetap dikenang melalui ruang, artefak, dan pengalaman yang dapat dirasakan oleh para pengunjung,” ungkap Lucienne Anhar, co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group.
Dalam ulasannya, Time Magazine juga menyoroti House of Tugu Jakarta sebagai ruang yang memperkenalkan kembali warisan budaya Peranakan kepada publik luas.
Melalui koleksi seni, arsitektur, serta narasi sejarah yang hadir di setiap sudutnya, tempat ini menghadirkan pengalaman yang menghubungkan pengunjung dengan lapisan sejarah Jakarta dan Nusantara.
Di tempat ini juga hadir Jajaghu, destinasi kuliner Nusantara yang mengangkat resep-resep leluhur dalam sajian yang elegan, serta Babah Koffie by Kawisari, sebuah kafe bernuansa nostalgia yang merayakan warisan salah satu perkebunan kopi tertua dari era kolonial di Jawa.
.jpg)
(Foto depan dari House of Tugu Jakarta. Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)
Pada tahun 2026, House of Tugu Jakarta juga akan memperkenalkan sejumlah pengembangan baru. Pada bulan Mei akan dibuka De Tiger, sebuah speakeasy poolside dengan live music yang terinspirasi dari suasana kehidupan malam Batavia pada masa lampau.
Selanjutnya pada bulan Juni 2026, House of Tugu Jakarta akan menghadirkan The Huang Museum, yang menampilkan ribuan artefak bersejarah dari arsip koleksi keluarga Tugu, termasuk berbagai koleksi yang belum pernah dipamerkan sebelumnya.
Pengakuan dari Time Magazine ini juga mencerminkan meningkatnya perhatian wisatawan global terhadap destinasi yang menawarkan makna, sejarah, dan keaslian pengalaman.
House of Tugu Jakarta menunjukkan bagaimana warisan budaya Indonesia dapat terus hidup melalui ruang yang mempertemukan masa lalu dengan masa kini.
Bagi sebuah tempat yang lahir dari keyakinan untuk menjaga sejarah, pengakuan ini menjadi dorongan untuk terus merawat dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
House of Tugu, Old Town Jakarta dibangun melalui proses panjang selama lebih dari 15 tahun, sebagai upaya mendokumentasikan kisah-kisah yang diwariskan oleh leluhur keluarga Tugu Group dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar jejak sejarah yang berharga ini tidak hilang oleh waktu.
Banyak dari cerita tersebut berakar sejak pertengahan abad ke-19, melekat pada artefak dan pusaka keluarga yang kini menjadi bagian dari koleksi bersejarahnya.
Kisah-kisah ini hidup kembali saat berkunjung ke House of Tugu Jakarta, di mana rangkaian koleksi peninggalan leluhur dipamerkan dan terjalin dengan narasi yang membentuk identitas tempat ini sebagai ruang pelestarian sejarah dan budaya.
(House of Tugu Jakarta. Foto: Dok. Instagram House of Tugu Jakarta/@houseoftugujakarta)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Pengakuan ini menempatkan House of Tugu di antara berbagai destinasi dunia yang dinilai menghadirkan pengalaman luar biasa sekaligus memiliki nilai budaya yang kuat.
Didirikan pada tahun 1923, Time Magazine telah lama dikenal sebagai salah satu publikasi paling berpengaruh di dunia.
Berbagai pengakuannya seperti Person of the Year, TIME100 Most Influential People, serta World’s Greatest Places sering menjadi rujukan global dalam menyoroti tokoh, gagasan, dan destinasi yang membentuk percakapan internasional.
Bagi keluarga Tugu, pengakuan ini memiliki arti yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar pencapaian dalam industri perhotelan.
Penghargaan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan panjang untuk menjaga warisan budaya Indonesia yang semakin jarang ditemukan.
Jaga identitas budaya Indonesia

(Babah Koffie by Kawisari & Jajaghu Restoran. Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)
Perjalanan tersebut bermula pada tahun 1960-an ketika pendiri Tugu, Anhar Setjadibrata, melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Nusantara.
Dalam perjalanannya ia menyaksikan banyak artefak bersejarah yang terabaikan serta tradisi yang perlahan menghilang. Ia kemudian mulai mengumpulkan benda-benda tersebut sebagai bentuk penyelamatan sejarah.
Bersama istrinya, Wedya Julianti, langkah tersebut berkembang menjadi fondasi lahirnya Tugu yang berkomitmen menjaga identitas budaya Indonesia melalui sejarah yang tetap hidup.
Semangat tersebut kini diteruskan oleh Lucienne Anhar, co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group.
.jpg)
(Ruang Serbaguna Sumba. Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)
“Kami tidak pernah memulai dengan tujuan membangun jaringan hotel dan restoran. Yang ingin kami lakukan adalah menjaga kisah tentang masyarakat Indonesia agar tetap dikenang melalui ruang, artefak, dan pengalaman yang dapat dirasakan oleh para pengunjung,” ungkap Lucienne Anhar, co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group.
Dalam ulasannya, Time Magazine juga menyoroti House of Tugu Jakarta sebagai ruang yang memperkenalkan kembali warisan budaya Peranakan kepada publik luas.
Melalui koleksi seni, arsitektur, serta narasi sejarah yang hadir di setiap sudutnya, tempat ini menghadirkan pengalaman yang menghubungkan pengunjung dengan lapisan sejarah Jakarta dan Nusantara.
Di tempat ini juga hadir Jajaghu, destinasi kuliner Nusantara yang mengangkat resep-resep leluhur dalam sajian yang elegan, serta Babah Koffie by Kawisari, sebuah kafe bernuansa nostalgia yang merayakan warisan salah satu perkebunan kopi tertua dari era kolonial di Jawa.
Destinasi yang menawarkan makna, sejarah, dan keaslian pengalaman
.jpg)
(Foto depan dari House of Tugu Jakarta. Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)
Pada tahun 2026, House of Tugu Jakarta juga akan memperkenalkan sejumlah pengembangan baru. Pada bulan Mei akan dibuka De Tiger, sebuah speakeasy poolside dengan live music yang terinspirasi dari suasana kehidupan malam Batavia pada masa lampau.
Selanjutnya pada bulan Juni 2026, House of Tugu Jakarta akan menghadirkan The Huang Museum, yang menampilkan ribuan artefak bersejarah dari arsip koleksi keluarga Tugu, termasuk berbagai koleksi yang belum pernah dipamerkan sebelumnya.
Pengakuan dari Time Magazine ini juga mencerminkan meningkatnya perhatian wisatawan global terhadap destinasi yang menawarkan makna, sejarah, dan keaslian pengalaman.
House of Tugu Jakarta menunjukkan bagaimana warisan budaya Indonesia dapat terus hidup melalui ruang yang mempertemukan masa lalu dengan masa kini.
Bagi sebuah tempat yang lahir dari keyakinan untuk menjaga sejarah, pengakuan ini menjadi dorongan untuk terus merawat dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
House of Tugu, Old Town Jakarta dibangun melalui proses panjang selama lebih dari 15 tahun, sebagai upaya mendokumentasikan kisah-kisah yang diwariskan oleh leluhur keluarga Tugu Group dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar jejak sejarah yang berharga ini tidak hilang oleh waktu.
Banyak dari cerita tersebut berakar sejak pertengahan abad ke-19, melekat pada artefak dan pusaka keluarga yang kini menjadi bagian dari koleksi bersejarahnya.
Kisah-kisah ini hidup kembali saat berkunjung ke House of Tugu Jakarta, di mana rangkaian koleksi peninggalan leluhur dipamerkan dan terjalin dengan narasi yang membentuk identitas tempat ini sebagai ruang pelestarian sejarah dan budaya.
(House of Tugu Jakarta. Foto: Dok. Instagram House of Tugu Jakarta/@houseoftugujakarta)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)