FITNESS & HEALTH
Jangan Kebanyakan Eksfoliasi, Ini 7 Tanda Kulitmu Mulai ‘Protes’
A. Firdaus
Rabu 09 September 2026 / 14:11
- Kenali 7 tanda kulit mengalami eksfoliasi berlebihan, mulai dari perih, kering, mengelupas hingga breakout.
- Penggunaan produk eksfoliasi secara berlebihan, terutama pada kulit sensitif, dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi.
- Tidak semua kulit mengelupas atau kemerahan disebabkan oleh eksfoliasi berlebihan.
Jakarta: Eksfoliasi memang bisa menjadi salah satu langkah dalam perawatan kulit untuk membantu mengangkat sel kulit mati. Kulit pun bisa terasa lebih halus dan tampak lebih cerah.
Namun, bukan berarti semakin sering dieksfoliasi hasilnya akan semakin bagus. Justru, terlalu sering melakukan eksfoliasi atau menggunakan produk yang terlalu kuat bisa membuat kulit kehilangan perlindungannya dan mengalami iritasi.
American Academy of Dermatology (AAD) menyebut penggunaan produk eksfoliasi secara berlebihan, terutama pada kulit sensitif, dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi. Penggunaan beberapa produk dengan bahan aktif yang sama juga dapat meningkatkan risiko masalah pada skin barrier.
Lantas, bagaimana cara mengetahui kalau kulit sudah terlalu banyak dieksfoliasi?
Salah satu tanda yang patut diperhatikan adalah munculnya rasa perih, terbakar, menyengat, atau tingling setelah menggunakan skincare yang sebelumnya terasa biasa saja.
DermNet menjelaskan bahwa iritasi kulit dapat menimbulkan sensasi seperti rasa terbakar, menyengat, gatal, dan kemerahan. Kondisi ini dapat terjadi ketika kulit terpapar bahan kimia atau gesekan yang mengganggu lapisan pelindungnya.
Jadi, kalau pelembap yang biasanya aman tiba-tiba terasa perih, jangan buru-buru menganggap produknya tidak cocok. Bisa saja kulit sedang terlalu sensitif karena barrier-nya terganggu.
Kulit mengelupas setelah menggunakan produk eksfoliasi tidak selalu berarti prosesnya sedang bekerja dengan baik.
Cleveland Clinic menjelaskan, kulit yang kering, bersisik, atau mengelupas dapat menjadi salah satu tanda skin barrier mengalami kerusakan. Over-exfoliating juga termasuk salah satu kebiasaan yang dapat menyebabkan kerusakan tersebut.
Menariknya, ketika melihat kulit mengelupas, banyak orang justru ingin melakukan eksfoliasi lagi agar bagian yang mengelupas segera hilang.
Padahal, cara tersebut bisa membuat masalah semakin panjang.
Tiba-tiba wajah terasa tidak nyaman saat terkena air, skincare, udara panas, atau bahkan ketika disentuh?
Ini juga bisa menjadi tanda bahwa kulit sedang mengalami gangguan pada lapisan pelindungnya.
Cleveland Clinic mencatat bahwa kulit dengan barrier yang rusak dapat menjadi lebih sensitif, terasa nyeri atau tender, serta mengalami rasa perih ketika produk skincare diaplikasikan.
Kemerahan setelah eksfoliasi juga perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung lama atau disertai rasa panas dan perih.
DermNet menjelaskan bahwa iritasi akibat bahan kimia maupun gesekan dapat menyebabkan kemerahan dan peradangan. Dalam kondisi yang lebih berat, iritasi bahkan dapat menyebabkan pembengkakan, pengelupasan, hingga erosi pada kulit.
Artinya, wajah merah bukan selalu tanda kulit sedang “glowing” setelah eksfoliasi. Bisa jadi kulit justru sedang meminta kamu untuk berhenti sejenak.
Ironisnya, eksfoliasi yang dilakukan untuk membuat kulit lebih halus justru bisa membuat permukaan kulit terasa kasar.
Kerusakan skin barrier dapat ditandai dengan munculnya area kasar, kulit kering, bersisik, dan mudah mengalami iritasi.
Kalau kondisi ini muncul setelah kamu meningkatkan frekuensi penggunaan AHA, BHA, scrub, peeling, atau produk aktif lainnya, ada baiknya evaluasi kembali rutinitas skincare.
Munculnya jerawat atau bruntusan tidak selalu berarti kulit membutuhkan eksfoliasi lebih banyak.
AAD mengingatkan bahwa penggunaan masker wajah dengan bahan eksfoliasi terlalu sering dapat menyebabkan iritasi, kekeringan, bahkan breakout karena skin barrier terganggu.
Karena itu, jangan langsung menambah produk eksfoliasi ketika wajah tiba-tiba dipenuhi bruntusan. Bisa saja masalahnya justru karena terlalu banyak bahan aktif.
Ini salah satu sinyal yang cukup mudah dikenali.
Kalau moisturizer, cleanser, atau produk skincare yang biasanya nyaman tiba-tiba membuat kulit terasa perih atau terbakar, jangan dipaksakan.
AAD menyarankan menghentikan penggunaan produk yang menimbulkan rasa gatal, terbakar, atau menyengat, karena sensasi tersebut dapat menjadi tanda iritasi atau reaksi terhadap produk.
Kalau beberapa tanda tersebut muncul, langkah pertama bukan menambah produk untuk “memperbaiki” kulit, melainkan mengurangi hal-hal yang berpotensi semakin mengiritasi kulit.
Untuk sementara, sederhanakan rutinitas skincare. Gunakan pembersih yang lembut, pelembap, dan perlindungan terhadap sinar matahari. Hindari dulu scrub, peeling, atau bahan aktif yang berpotensi semakin mengiritasi sampai kondisi kulit membaik.
AAD juga merekomendasikan pembersih wajah yang lembut dan tidak abrasif serta menghindari kebiasaan menggosok kulit karena gesekan dapat menyebabkan iritasi.
Cleveland Clinic juga menyarankan pendekatan yang lebih lembut ketika kulit mengalami kekeringan. Jangan menggosok atau melakukan eksfoliasi terus-menerus karena tindakan tersebut justru dapat mengangkat lebih banyak lapisan pelindung kulit dan membuat proses pemulihan semakin lama.
Jadi, kalau kulit sedang mengelupas, jangan langsung berpikir, “Wah, harus di-scrub lagi nih.”
Bisa jadi kulit justru sedang bilang, “Tolong istirahat dulu.”
Tidak semua kulit mengelupas atau kemerahan disebabkan oleh eksfoliasi berlebihan. Kulit yang mengelupas juga bisa berkaitan dengan kondisi lain, seperti sunburn, alergi, dermatitis, infeksi, atau penyakit kulit tertentu.
Jika keluhan menetap, semakin parah, terasa sangat gatal atau nyeri, muncul luka, bengkak, atau tidak membaik setelah rutinitas skincare disederhanakan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kulit.
Intinya, eksfoliasi bukan perlombaan. Tujuannya bukan membuat sebanyak mungkin sel kulit terangkat, tetapi membantu kulit tetap sehat tanpa mengorbankan lapisan pelindungnya.
(FIR)
Namun, bukan berarti semakin sering dieksfoliasi hasilnya akan semakin bagus. Justru, terlalu sering melakukan eksfoliasi atau menggunakan produk yang terlalu kuat bisa membuat kulit kehilangan perlindungannya dan mengalami iritasi.
American Academy of Dermatology (AAD) menyebut penggunaan produk eksfoliasi secara berlebihan, terutama pada kulit sensitif, dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi. Penggunaan beberapa produk dengan bahan aktif yang sama juga dapat meningkatkan risiko masalah pada skin barrier.
Lantas, bagaimana cara mengetahui kalau kulit sudah terlalu banyak dieksfoliasi?
1. Kulit terasa perih atau menyengat
Salah satu tanda yang patut diperhatikan adalah munculnya rasa perih, terbakar, menyengat, atau tingling setelah menggunakan skincare yang sebelumnya terasa biasa saja.
DermNet menjelaskan bahwa iritasi kulit dapat menimbulkan sensasi seperti rasa terbakar, menyengat, gatal, dan kemerahan. Kondisi ini dapat terjadi ketika kulit terpapar bahan kimia atau gesekan yang mengganggu lapisan pelindungnya.
Jadi, kalau pelembap yang biasanya aman tiba-tiba terasa perih, jangan buru-buru menganggap produknya tidak cocok. Bisa saja kulit sedang terlalu sensitif karena barrier-nya terganggu.
2. Kulit menjadi kering dan mengelupas
Kulit mengelupas setelah menggunakan produk eksfoliasi tidak selalu berarti prosesnya sedang bekerja dengan baik.
Cleveland Clinic menjelaskan, kulit yang kering, bersisik, atau mengelupas dapat menjadi salah satu tanda skin barrier mengalami kerusakan. Over-exfoliating juga termasuk salah satu kebiasaan yang dapat menyebabkan kerusakan tersebut.
Menariknya, ketika melihat kulit mengelupas, banyak orang justru ingin melakukan eksfoliasi lagi agar bagian yang mengelupas segera hilang.
Padahal, cara tersebut bisa membuat masalah semakin panjang.
3. Kulit terasa lebih sensitif
Tiba-tiba wajah terasa tidak nyaman saat terkena air, skincare, udara panas, atau bahkan ketika disentuh?
Ini juga bisa menjadi tanda bahwa kulit sedang mengalami gangguan pada lapisan pelindungnya.
Cleveland Clinic mencatat bahwa kulit dengan barrier yang rusak dapat menjadi lebih sensitif, terasa nyeri atau tender, serta mengalami rasa perih ketika produk skincare diaplikasikan.
4. Wajah terlihat merah dan meradang
Kemerahan setelah eksfoliasi juga perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung lama atau disertai rasa panas dan perih.
DermNet menjelaskan bahwa iritasi akibat bahan kimia maupun gesekan dapat menyebabkan kemerahan dan peradangan. Dalam kondisi yang lebih berat, iritasi bahkan dapat menyebabkan pembengkakan, pengelupasan, hingga erosi pada kulit.
Artinya, wajah merah bukan selalu tanda kulit sedang “glowing” setelah eksfoliasi. Bisa jadi kulit justru sedang meminta kamu untuk berhenti sejenak.
5. Muncul tekstur kasar atau area kulit yang terasa kering
Ironisnya, eksfoliasi yang dilakukan untuk membuat kulit lebih halus justru bisa membuat permukaan kulit terasa kasar.
Kerusakan skin barrier dapat ditandai dengan munculnya area kasar, kulit kering, bersisik, dan mudah mengalami iritasi.
Kalau kondisi ini muncul setelah kamu meningkatkan frekuensi penggunaan AHA, BHA, scrub, peeling, atau produk aktif lainnya, ada baiknya evaluasi kembali rutinitas skincare.
6. Jerawat atau bruntusan malah bermunculan
Munculnya jerawat atau bruntusan tidak selalu berarti kulit membutuhkan eksfoliasi lebih banyak.
AAD mengingatkan bahwa penggunaan masker wajah dengan bahan eksfoliasi terlalu sering dapat menyebabkan iritasi, kekeringan, bahkan breakout karena skin barrier terganggu.
Karena itu, jangan langsung menambah produk eksfoliasi ketika wajah tiba-tiba dipenuhi bruntusan. Bisa saja masalahnya justru karena terlalu banyak bahan aktif.
7. Skincare yang biasanya aman tiba-tiba terasa menyengat
Ini salah satu sinyal yang cukup mudah dikenali.
Kalau moisturizer, cleanser, atau produk skincare yang biasanya nyaman tiba-tiba membuat kulit terasa perih atau terbakar, jangan dipaksakan.
AAD menyarankan menghentikan penggunaan produk yang menimbulkan rasa gatal, terbakar, atau menyengat, karena sensasi tersebut dapat menjadi tanda iritasi atau reaksi terhadap produk.
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Kalau beberapa tanda tersebut muncul, langkah pertama bukan menambah produk untuk “memperbaiki” kulit, melainkan mengurangi hal-hal yang berpotensi semakin mengiritasi kulit.
Untuk sementara, sederhanakan rutinitas skincare. Gunakan pembersih yang lembut, pelembap, dan perlindungan terhadap sinar matahari. Hindari dulu scrub, peeling, atau bahan aktif yang berpotensi semakin mengiritasi sampai kondisi kulit membaik.
AAD juga merekomendasikan pembersih wajah yang lembut dan tidak abrasif serta menghindari kebiasaan menggosok kulit karena gesekan dapat menyebabkan iritasi.
Cleveland Clinic juga menyarankan pendekatan yang lebih lembut ketika kulit mengalami kekeringan. Jangan menggosok atau melakukan eksfoliasi terus-menerus karena tindakan tersebut justru dapat mengangkat lebih banyak lapisan pelindung kulit dan membuat proses pemulihan semakin lama.
Jadi, kalau kulit sedang mengelupas, jangan langsung berpikir, “Wah, harus di-scrub lagi nih.”
Bisa jadi kulit justru sedang bilang, “Tolong istirahat dulu.”
Kapan perlu ke dokter kulit?
Tidak semua kulit mengelupas atau kemerahan disebabkan oleh eksfoliasi berlebihan. Kulit yang mengelupas juga bisa berkaitan dengan kondisi lain, seperti sunburn, alergi, dermatitis, infeksi, atau penyakit kulit tertentu.
Jika keluhan menetap, semakin parah, terasa sangat gatal atau nyeri, muncul luka, bengkak, atau tidak membaik setelah rutinitas skincare disederhanakan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kulit.
Intinya, eksfoliasi bukan perlombaan. Tujuannya bukan membuat sebanyak mungkin sel kulit terangkat, tetapi membantu kulit tetap sehat tanpa mengorbankan lapisan pelindungnya.
(FIR)