FITNESS & HEALTH
Bukan Sekadar Bekas Luka, Ini Fakta tentang Keloid yang Perlu Kamu Tahu
A. Firdaus
Rabu 09 September 2026 / 15:11
- Keloid bukan sekadar bekas luka biasa.
- Keloid merupakan jenis jaringan parut yang tumbuh lebih besar dari luka atau cedera kulit yang menjadi pemicunya.
- keloid biasanya membutuhkan waktu untuk berkembang.
Jakarta: Pernah punya luka yang sudah lama sembuh, tetapi tiba-tiba muncul jaringan kulit yang menebal dan menonjol? Bisa jadi itu bukan sekadar bekas luka biasa, melainkan keloid.
Keloid memang cukup sering dianggap sebagai “bekas luka yang bandel”. Padahal, kondisi ini punya karakteristik yang berbeda dari bekas luka pada umumnya.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), keloid merupakan jenis jaringan parut yang tumbuh lebih besar dari luka atau cedera kulit yang menjadi pemicunya. Kondisi ini terjadi karena tubuh memproduksi kolagen secara berlebihan saat proses penyembuhan luka.
Menariknya lagi, keloid tidak selalu muncul setelah luka besar. Luka kecil, jerawat, tindikan, gigitan serangga, luka bakar, suntikan hingga prosedur operasi pun bisa menjadi pemicunya.
Lantas, apa saja fakta tentang keloid yang perlu diketahui?
Semua luka memang bisa meninggalkan bekas. Namun, keloid punya perilaku yang berbeda.
Keloid biasanya berupa jaringan parut yang menonjol, terasa keras atau kenyal, dan dapat terus tumbuh melewati batas luka awal. Warnanya juga bisa berbeda dari kulit di sekitarnya, mulai dari merah muda, kemerahan, lebih gelap hingga keunguan.
Jadi, kalau bekas luka justru semakin melebar dan menonjol keluar dari area luka awal, kondisi tersebut patut diperiksakan.
Jangan berpikir keloid hanya muncul setelah operasi besar.
AAD menyebut keloid dapat terbentuk setelah berbagai jenis cedera kulit, termasuk tindikan, jerawat, cacar air, luka bakar, goresan, gigitan serangga, tato, operasi, suntikan, hingga peradangan kulit tertentu.
Bahkan, pada kasus yang jarang, keloid bisa muncul tanpa adanya luka yang jelas sebelumnya.
Mayo Clinic juga mencatat bahwa keloid dapat muncul setelah cedera yang sangat kecil, seperti goresan atau benjolan ringan.
Ini yang sering bikin orang bingung.
Lukanya sudah lama sembuh, tetapi beberapa bulan kemudian muncul benjolan di bekas luka.
Menurut AAD, keloid biasanya membutuhkan waktu untuk berkembang. Tanda pertamanya dapat terlihat sekitar tiga sampai 12 bulan atau lebih setelah cedera. Sebagian bahkan baru muncul lebih dari setahun setelah luka terjadi.
Setelah muncul, keloid dapat terus tumbuh selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Jadi, jangan heran kalau bekas luka yang awalnya terlihat biasa saja tiba-tiba berubah menjadi jaringan yang menonjol.
Keloid memang tidak selalu menimbulkan keluhan. Namun, ketika sedang tumbuh, sebagian orang dapat merasakan gatal, nyeri, sensasi terbakar, atau rasa tidak nyaman pada area tersebut.
Masalahnya bukan cuma soal rasa tidak nyaman.
Jika keloid berada di area dekat sendi, ukurannya yang besar juga dapat membatasi gerakan.
Ada orang yang setelah terluka hanya memiliki bekas luka tipis. Namun, ada juga yang mudah membentuk keloid.
AAD menyebut faktor genetik berperan dalam kecenderungan seseorang mengalami keloid. Sekitar sepertiga hingga setengah orang yang mengalami keloid dilaporkan memiliki kerabat sedarah yang juga mengalaminya.
Keloid juga lebih sering ditemukan pada orang dengan kulit lebih gelap. Risiko tersebut dilaporkan lebih tinggi pada kelompok tertentu dengan keturunan Afrika, Asia, Amerika Latin, atau Mediterania.
Usia juga berpengaruh. Keloid paling sering mulai berkembang pada usia 10 hingga 30 tahun, meskipun kondisi ini sebenarnya dapat terjadi pada usia berapa pun.
Keduanya memang sama-sama terlihat seperti bekas luka yang menonjol. Namun, jangan sampai tertukar.
Keloid dapat tumbuh melewati batas luka awal. Sementara itu, hypertrophic scar biasanya tetap berada di dalam batas luka yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut tersebut.
Waktu kemunculannya juga bisa berbeda. Hypertrophic scar biasanya muncul dalam beberapa minggu setelah luka dan pada sebagian kasus dapat menjadi lebih datar seiring waktu.
Sebaliknya, keloid cenderung bertahan dan jarang menghilang dengan sendirinya.
Karena tampilannya bisa mirip dengan kondisi kulit lain, pemeriksaan dokter tetap penting jika kamu tidak yakin dengan benjolan atau bekas luka tersebut.
Tenang, keloid tidak menular.
Kamu tidak akan mengalami keloid hanya karena bersentuhan dengan orang yang memiliki kondisi tersebut. Keloid merupakan respons abnormal tubuh terhadap proses penyembuhan luka, bukan infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Keloid juga bukan kanker.
Namun, bukan berarti setiap benjolan pada kulit otomatis merupakan keloid. Beberapa kondisi kulit lain dapat terlihat menyerupai keloid. Karena itu, jika dokter merasa diagnosisnya belum jelas, pemeriksaan tambahan seperti biopsi dapat dilakukan.
Ini juga salah satu anggapan yang perlu diluruskan.
Pengobatan keloid tidak hanya melalui operasi. Dokter kulit dapat mempertimbangkan sejumlah pilihan, antara lain suntikan kortikosteroid, silicone gel atau silicone sheet, terapi tekanan, cryotherapy, laser, hingga operasi pada kondisi tertentu.
Pemilihan terapi biasanya disesuaikan dengan ukuran, lokasi, karakteristik keloid, serta riwayat pengobatan sebelumnya.
Dan yang perlu digarisbawahi, operasi bukan berarti keloid pasti hilang selamanya.
Keloid dapat tumbuh kembali setelah pengangkatan, bahkan bisa muncul dengan ukuran yang lebih besar. Karena itu, dokter sering menggunakan kombinasi beberapa metode untuk menurunkan risiko kekambuhan.
Karena keloid terlihat jelas di permukaan kulit, tidak sedikit orang yang mencoba berbagai cara untuk menghilangkannya sendiri.
Padahal, tidak semua produk atau metode yang beredar memiliki bukti yang cukup untuk menghilangkan keloid secara permanen.
Mayo Clinic menyebut belum ada metode alami yang terbukti dapat menghilangkan keloid. Beberapa produk seperti silicone gel dapat membantu meratakan atau mengurangi gejala pada sebagian orang, tetapi penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.
Jangan pula mencoba memotong, menusuk, atau mengorek keloid sendiri. Cedera tambahan justru berpotensi memicu pembentukan jaringan parut baru.
Kalau kamu atau anggota keluarga memiliki riwayat keloid, langkah pencegahan menjadi penting.
AAD menyarankan orang yang memiliki kecenderungan membentuk keloid untuk berhati-hati terhadap tindakan yang sengaja melukai kulit, termasuk tindik. Jika memang perlu menjalani prosedur operasi atau tindakan pada kulit, beri tahu dokter mengenai riwayat keloid.
Perawatan luka yang baik juga penting agar proses penyembuhan berlangsung optimal.
Namun, perlu diingat, seseorang yang memang memiliki kecenderungan keloid tetap bisa mengalami kondisi tersebut meskipun sudah berusaha menjaga luka dengan baik.
Kalau muncul jaringan parut yang semakin menonjol, terus membesar, terasa gatal atau sakit, sebaiknya jangan hanya didiamkan.
Terlebih jika kamu tidak yakin apakah benjolan tersebut benar-benar keloid atau kondisi kulit lainnya.
Dokter kulit dapat menilai tampilannya secara langsung dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan. Jika memang keloid, dokter dapat membantu memilih terapi yang paling sesuai.
Jadi, keloid memang bukan kondisi berbahaya pada sebagian besar kasus, tetapi bukan berarti harus dianggap sepele. Apalagi jika ukurannya terus bertambah atau mulai mengganggu kenyamanan.
Intinya, jangan buru-buru menyalahkan luka atau skincare ketika muncul bekas luka menonjol. Bisa jadi tubuh memang memiliki kecenderungan membentuk keloid.
(FIR)
Keloid memang cukup sering dianggap sebagai “bekas luka yang bandel”. Padahal, kondisi ini punya karakteristik yang berbeda dari bekas luka pada umumnya.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), keloid merupakan jenis jaringan parut yang tumbuh lebih besar dari luka atau cedera kulit yang menjadi pemicunya. Kondisi ini terjadi karena tubuh memproduksi kolagen secara berlebihan saat proses penyembuhan luka.
Menariknya lagi, keloid tidak selalu muncul setelah luka besar. Luka kecil, jerawat, tindikan, gigitan serangga, luka bakar, suntikan hingga prosedur operasi pun bisa menjadi pemicunya.
Lantas, apa saja fakta tentang keloid yang perlu diketahui?
1. Keloid bukan sekadar bekas luka biasa
Semua luka memang bisa meninggalkan bekas. Namun, keloid punya perilaku yang berbeda.
Keloid biasanya berupa jaringan parut yang menonjol, terasa keras atau kenyal, dan dapat terus tumbuh melewati batas luka awal. Warnanya juga bisa berbeda dari kulit di sekitarnya, mulai dari merah muda, kemerahan, lebih gelap hingga keunguan.
Jadi, kalau bekas luka justru semakin melebar dan menonjol keluar dari area luka awal, kondisi tersebut patut diperiksakan.
2. Luka kecil juga bisa menyebabkan keloid
Jangan berpikir keloid hanya muncul setelah operasi besar.
AAD menyebut keloid dapat terbentuk setelah berbagai jenis cedera kulit, termasuk tindikan, jerawat, cacar air, luka bakar, goresan, gigitan serangga, tato, operasi, suntikan, hingga peradangan kulit tertentu.
Bahkan, pada kasus yang jarang, keloid bisa muncul tanpa adanya luka yang jelas sebelumnya.
Mayo Clinic juga mencatat bahwa keloid dapat muncul setelah cedera yang sangat kecil, seperti goresan atau benjolan ringan.
3. Keloid bisa muncul berbulan-bulan setelah luka sembuh
Ini yang sering bikin orang bingung.
Lukanya sudah lama sembuh, tetapi beberapa bulan kemudian muncul benjolan di bekas luka.
Menurut AAD, keloid biasanya membutuhkan waktu untuk berkembang. Tanda pertamanya dapat terlihat sekitar tiga sampai 12 bulan atau lebih setelah cedera. Sebagian bahkan baru muncul lebih dari setahun setelah luka terjadi.
Setelah muncul, keloid dapat terus tumbuh selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Jadi, jangan heran kalau bekas luka yang awalnya terlihat biasa saja tiba-tiba berubah menjadi jaringan yang menonjol.
4. Keloid bisa terasa gatal atau sakit
Keloid memang tidak selalu menimbulkan keluhan. Namun, ketika sedang tumbuh, sebagian orang dapat merasakan gatal, nyeri, sensasi terbakar, atau rasa tidak nyaman pada area tersebut.
Masalahnya bukan cuma soal rasa tidak nyaman.
Jika keloid berada di area dekat sendi, ukurannya yang besar juga dapat membatasi gerakan.
5. Tidak semua orang punya risiko yang sama
Ada orang yang setelah terluka hanya memiliki bekas luka tipis. Namun, ada juga yang mudah membentuk keloid.
AAD menyebut faktor genetik berperan dalam kecenderungan seseorang mengalami keloid. Sekitar sepertiga hingga setengah orang yang mengalami keloid dilaporkan memiliki kerabat sedarah yang juga mengalaminya.
Keloid juga lebih sering ditemukan pada orang dengan kulit lebih gelap. Risiko tersebut dilaporkan lebih tinggi pada kelompok tertentu dengan keturunan Afrika, Asia, Amerika Latin, atau Mediterania.
Usia juga berpengaruh. Keloid paling sering mulai berkembang pada usia 10 hingga 30 tahun, meskipun kondisi ini sebenarnya dapat terjadi pada usia berapa pun.
6. Keloid berbeda dengan hypertrophic scar
Keduanya memang sama-sama terlihat seperti bekas luka yang menonjol. Namun, jangan sampai tertukar.
Keloid dapat tumbuh melewati batas luka awal. Sementara itu, hypertrophic scar biasanya tetap berada di dalam batas luka yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut tersebut.
Waktu kemunculannya juga bisa berbeda. Hypertrophic scar biasanya muncul dalam beberapa minggu setelah luka dan pada sebagian kasus dapat menjadi lebih datar seiring waktu.
Sebaliknya, keloid cenderung bertahan dan jarang menghilang dengan sendirinya.
Karena tampilannya bisa mirip dengan kondisi kulit lain, pemeriksaan dokter tetap penting jika kamu tidak yakin dengan benjolan atau bekas luka tersebut.
7. Keloid bukan penyakit menular
Tenang, keloid tidak menular.
Kamu tidak akan mengalami keloid hanya karena bersentuhan dengan orang yang memiliki kondisi tersebut. Keloid merupakan respons abnormal tubuh terhadap proses penyembuhan luka, bukan infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
8. Keloid bukan kanker
Keloid juga bukan kanker.
Namun, bukan berarti setiap benjolan pada kulit otomatis merupakan keloid. Beberapa kondisi kulit lain dapat terlihat menyerupai keloid. Karena itu, jika dokter merasa diagnosisnya belum jelas, pemeriksaan tambahan seperti biopsi dapat dilakukan.
9. Keloid tidak selalu harus dioperasi
Ini juga salah satu anggapan yang perlu diluruskan.
Pengobatan keloid tidak hanya melalui operasi. Dokter kulit dapat mempertimbangkan sejumlah pilihan, antara lain suntikan kortikosteroid, silicone gel atau silicone sheet, terapi tekanan, cryotherapy, laser, hingga operasi pada kondisi tertentu.
Pemilihan terapi biasanya disesuaikan dengan ukuran, lokasi, karakteristik keloid, serta riwayat pengobatan sebelumnya.
Dan yang perlu digarisbawahi, operasi bukan berarti keloid pasti hilang selamanya.
Keloid dapat tumbuh kembali setelah pengangkatan, bahkan bisa muncul dengan ukuran yang lebih besar. Karena itu, dokter sering menggunakan kombinasi beberapa metode untuk menurunkan risiko kekambuhan.
10. Jangan asal mencoba “obat keloid” di rumah
Karena keloid terlihat jelas di permukaan kulit, tidak sedikit orang yang mencoba berbagai cara untuk menghilangkannya sendiri.
Padahal, tidak semua produk atau metode yang beredar memiliki bukti yang cukup untuk menghilangkan keloid secara permanen.
Mayo Clinic menyebut belum ada metode alami yang terbukti dapat menghilangkan keloid. Beberapa produk seperti silicone gel dapat membantu meratakan atau mengurangi gejala pada sebagian orang, tetapi penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.
Jangan pula mencoba memotong, menusuk, atau mengorek keloid sendiri. Cedera tambahan justru berpotensi memicu pembentukan jaringan parut baru.
Bagaimana mencegah keloid?
Kalau kamu atau anggota keluarga memiliki riwayat keloid, langkah pencegahan menjadi penting.
AAD menyarankan orang yang memiliki kecenderungan membentuk keloid untuk berhati-hati terhadap tindakan yang sengaja melukai kulit, termasuk tindik. Jika memang perlu menjalani prosedur operasi atau tindakan pada kulit, beri tahu dokter mengenai riwayat keloid.
Perawatan luka yang baik juga penting agar proses penyembuhan berlangsung optimal.
Namun, perlu diingat, seseorang yang memang memiliki kecenderungan keloid tetap bisa mengalami kondisi tersebut meskipun sudah berusaha menjaga luka dengan baik.
Kapan harus diperiksa dokter?
Kalau muncul jaringan parut yang semakin menonjol, terus membesar, terasa gatal atau sakit, sebaiknya jangan hanya didiamkan.
Terlebih jika kamu tidak yakin apakah benjolan tersebut benar-benar keloid atau kondisi kulit lainnya.
Dokter kulit dapat menilai tampilannya secara langsung dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan. Jika memang keloid, dokter dapat membantu memilih terapi yang paling sesuai.
Jadi, keloid memang bukan kondisi berbahaya pada sebagian besar kasus, tetapi bukan berarti harus dianggap sepele. Apalagi jika ukurannya terus bertambah atau mulai mengganggu kenyamanan.
Intinya, jangan buru-buru menyalahkan luka atau skincare ketika muncul bekas luka menonjol. Bisa jadi tubuh memang memiliki kecenderungan membentuk keloid.
(FIR)