FITNESS & HEALTH
Philips Healthcare Kolaborasi dengan Indonesia, Hadirkan Alat Kesehatan Ultrasound dan Monitor Pasien
Aulia Putriningtias
Rabu 28 Januari 2026 / 13:18
- Fase awal transfer teknologi akan berfokus pada dua produk penting.
- Tahap awal produksi akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
- Ditargetkan mulai pada semester pertama tahun 2026.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melakukan perjanjian transfer teknologi tingkat tinggi dengan perusahaan global Philips dan Panasonic Healthcare Indonesia, Senin, 26 Januari 2026.
Kolaborasi ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan impor dengan melokalisasi produksi peralatan diagnostik canggih. Saat ini, sekitar 80 persen alat kesehatan berteknologi tinggi yang digunakan di rumah sakit Indonesia masih diimpor.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menekankan bahwa, membangun rantai pasokan domestik dari hulu ke hilir begitu penting untuk menghindari kekurangan selama krisis global, salah satunya pandemi.
"Dan yang terpenting, kami mendukung program Kementerian Penanaman Modal dan Pengembangan Hilir untuk mendorong investasi di Indonesia,” kata Rizka.
Fase awal transfer teknologi akan berfokus pada dua produk penting, yaitu mesin USG dan monitor pasien. Namun, Rizka menyatakan harapan bahwa Philips pada akhirnya akan melokalisasi produksi peralatan yang lebih canggih.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia. Dok. Aulia/Medcom
"Hal ini termasuk pemindai CT, laboratorium kateterisasi jantung, dan mesin MRI," tambah Rizka.
Investasi bukan hanya tentang angka finansial, tetapi juga nilai tambah. Ini termasuk transfer keterampilan kepada tenaga kerja lokal. Dengan memproduksi perangkat-perangkat ini di dalam negeri, Indonesia bertujuan untuk mencapai Tingkat Komponen Domestik (TKDN) lebih dari 50 persen.
Pergeseran ini diharapkan dapat menurunkan biaya perawatan kesehatan sekaligus menciptakan peluang bagi pekerja lokal yang sangat terampil di bidang manufaktur khusus.
Dari sisi produksi, Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan menambahkan pada tahap awal produksi akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Philips juga menyiapkan realisasi seluruh komponen pendukung, dengan rencana memulai proses produksi dalam waktu dekat.
Menurut Astri, produksi akan ditargetkan mulai pada semester pertama tahun 2026. Besaran produksi pun belum dapat diungkapkan, tetapi Astri meyakinkan untuk memaksimalkan produksi dengan pendekatan lokal untuk lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Kolaborasi ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan impor dengan melokalisasi produksi peralatan diagnostik canggih. Saat ini, sekitar 80 persen alat kesehatan berteknologi tinggi yang digunakan di rumah sakit Indonesia masih diimpor.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menekankan bahwa, membangun rantai pasokan domestik dari hulu ke hilir begitu penting untuk menghindari kekurangan selama krisis global, salah satunya pandemi.
"Dan yang terpenting, kami mendukung program Kementerian Penanaman Modal dan Pengembangan Hilir untuk mendorong investasi di Indonesia,” kata Rizka.
Fase awal transfer teknologi akan berfokus pada dua produk penting, yaitu mesin USG dan monitor pasien. Namun, Rizka menyatakan harapan bahwa Philips pada akhirnya akan melokalisasi produksi peralatan yang lebih canggih.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia. Dok. Aulia/Medcom
"Hal ini termasuk pemindai CT, laboratorium kateterisasi jantung, dan mesin MRI," tambah Rizka.
Investasi bukan hanya tentang angka finansial, tetapi juga nilai tambah. Ini termasuk transfer keterampilan kepada tenaga kerja lokal. Dengan memproduksi perangkat-perangkat ini di dalam negeri, Indonesia bertujuan untuk mencapai Tingkat Komponen Domestik (TKDN) lebih dari 50 persen.
Pergeseran ini diharapkan dapat menurunkan biaya perawatan kesehatan sekaligus menciptakan peluang bagi pekerja lokal yang sangat terampil di bidang manufaktur khusus.
Dari sisi produksi, Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan menambahkan pada tahap awal produksi akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Philips juga menyiapkan realisasi seluruh komponen pendukung, dengan rencana memulai proses produksi dalam waktu dekat.
Menurut Astri, produksi akan ditargetkan mulai pada semester pertama tahun 2026. Besaran produksi pun belum dapat diungkapkan, tetapi Astri meyakinkan untuk memaksimalkan produksi dengan pendekatan lokal untuk lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)