FITNESS & HEALTH
Kesadaran Rendah, Banyak Pasien IBD Baru Terdeteksi Saat Penyakit Sudah Parah
A. Firdaus
Rabu 28 Januari 2026 / 12:16
- Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan peningkatan.
- IBD Kompleks dan Sering Tertukar dengan Infeksi.
- IBD Tak Bisa Ditangani Seragam
Jakarta: Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan peningkatan, baik secara global maupun di Indonesia. Namun demikian, tingkat kesadaran masyarakat terhada penyakit ini masih tergolong rendah, sehingga banyak pasien tidak mengenali gejalanya sejak dini dan baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.
Berangkat dari kondisi tersebut, RS Abdi Waluyo menginisiasi pertemuan ilmiah IBD Update 2026 Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease (IBD), yang mempertemukan para pakar nasional dan regional sebagai wadah pertukaran pengetahuan, guna memperkuat pemahaman dokter di Indonesia mengenai diagnosis dan tata laksana IBD yang tepat.
IBD sendiri merupakan penyakit yang kompleks dan multifaktorial, melibatkan interaksi antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tumpang tindih dengan penyakit lain. Termasuk infeksi saluran cerna dan tuberkulosis usus.
Kondisi ini membuat penegakan diagnosis IBD harus dilakukan dengan sangat teliti, melalui pendekatan komprehensif yaitu evaluasi klinis, pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya, untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan kesalahan manajemen IBD.
"Setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini. Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal," ujar Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam bidang Gastroenterologi-Hepatologi di RS Abdi Waluyo.
"Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum menentukan terapi yang paling sesuai," jelas Prof. Marcel dalam forum yang digelar RS Abdi Waluyo.
Prof. Marcel menegaskan bahwa penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam. Setelah diagnosis, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.
"Pendekatan treat-to-target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang," jelas Prof. Marcel.
Prof. Marcel juga menyoroti bahwa di negara dengan prevalensi infeksi yang masih tinggi seperti Indonesia, skrining infeksi menjadi langkah yang tidak dapat diabaikan dalam tata laksana IBD.
"Beberapa infeksi, khususnya tuberkulosis dan infeksi saluran cerna tertentu, dapat menyerupai atau memperberat perjalanan IBD. Karena itu, skrining menyeluruh sebelum memulai atau mengeskalasi terapi sangat penting untuk menghindari kesalahan diagnosis dan komplikasi yang tidak diinginkan," jelasnya.
Terkait kompleksitas IBD ini, Prof. Marcel menyampaikan bahwa RS Abdi Waluyo memandang IBD sebagai penyakit kronis yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan komprehensif.
"Oleh karena itu, kami telah mengembangkan RS Abdi Waluyo IBD Center sebagai one-stop service dengan pendekatan holistik oleh tim multidisiplin spesialis dan subspesialis, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan multidisiplin sesuai kebutuhan pasien," kata Prof. Marcel.
"RS Abdi Waluyo IBD Center merupakan pusat IBD pertama di Indonesia. Selain itu, RS Abdi Waluyo juga telah menyediakan layanan Intestinal Ultrasound (IUS) sebagai bagian dari pendekatan diagnostik dan monitoring noninvasif, yang berperan penting dalam menilai aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat dalam tata laksana pasien IBD,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Berangkat dari kondisi tersebut, RS Abdi Waluyo menginisiasi pertemuan ilmiah IBD Update 2026 Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease (IBD), yang mempertemukan para pakar nasional dan regional sebagai wadah pertukaran pengetahuan, guna memperkuat pemahaman dokter di Indonesia mengenai diagnosis dan tata laksana IBD yang tepat.
IBD sendiri merupakan penyakit yang kompleks dan multifaktorial, melibatkan interaksi antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tumpang tindih dengan penyakit lain. Termasuk infeksi saluran cerna dan tuberkulosis usus.
Kondisi ini membuat penegakan diagnosis IBD harus dilakukan dengan sangat teliti, melalui pendekatan komprehensif yaitu evaluasi klinis, pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya, untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan kesalahan manajemen IBD.
"Setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini. Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal," ujar Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam bidang Gastroenterologi-Hepatologi di RS Abdi Waluyo.
"Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum menentukan terapi yang paling sesuai," jelas Prof. Marcel dalam forum yang digelar RS Abdi Waluyo.
Prof. Marcel menegaskan bahwa penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam. Setelah diagnosis, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.
"Pendekatan treat-to-target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang," jelas Prof. Marcel.
Prof. Marcel juga menyoroti bahwa di negara dengan prevalensi infeksi yang masih tinggi seperti Indonesia, skrining infeksi menjadi langkah yang tidak dapat diabaikan dalam tata laksana IBD.
"Beberapa infeksi, khususnya tuberkulosis dan infeksi saluran cerna tertentu, dapat menyerupai atau memperberat perjalanan IBD. Karena itu, skrining menyeluruh sebelum memulai atau mengeskalasi terapi sangat penting untuk menghindari kesalahan diagnosis dan komplikasi yang tidak diinginkan," jelasnya.
Terkait kompleksitas IBD ini, Prof. Marcel menyampaikan bahwa RS Abdi Waluyo memandang IBD sebagai penyakit kronis yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan komprehensif.
"Oleh karena itu, kami telah mengembangkan RS Abdi Waluyo IBD Center sebagai one-stop service dengan pendekatan holistik oleh tim multidisiplin spesialis dan subspesialis, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan multidisiplin sesuai kebutuhan pasien," kata Prof. Marcel.
"RS Abdi Waluyo IBD Center merupakan pusat IBD pertama di Indonesia. Selain itu, RS Abdi Waluyo juga telah menyediakan layanan Intestinal Ultrasound (IUS) sebagai bagian dari pendekatan diagnostik dan monitoring noninvasif, yang berperan penting dalam menilai aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat dalam tata laksana pasien IBD,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)