FITNESS & HEALTH

Membangun Negara dari Dalam Rahim, Stunting sebagai Ujian Peradaban dan Masa Depan Bangsa

Yatin Suleha
Senin 26 Januari 2026 / 16:25
Jakarta: Selama ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital. 

Semua itu penting, tetapi ada satu fondasi yang sering luput dari kesadaran kolektif kita, yang menentukan kualitas seluruh pembangunan berikutnya, yaitu manusia itu sendiri. 

Dari bagaimana manusia dibentuk sejak awal kehidupannya bahkan sejak masih berada dalam kandungan. Di titik inilah stunting harus dipahami bukan sebagai isu gizi semata, melainkan sebagai isu kenegaraan.

Ketika hampir satu dari lima anak Indonesia tumbuh dalam kondisi stunting, itu bukan sekadar angka statistik kesehatan. Itu adalah sinyal bahwa sistem kehidupan kita belum sepenuhnya mampu menciptakan lingkungan yang sehat, adil, dan layak bagi tumbuh kembang manusia.
   

Stunting bukan kegagalan individu




(DR. Cashtry Meher, Board of Experts Prasasti Center. Foto: Dok. Istimewa)

Stunting sering kali disederhanakan sebagai persoalan pola asuh, pengetahuan ibu, atau kebiasaan keluarga. Cara pandang ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya, karena mengaburkan akar masalah yang sesungguhnya. 

Ibu dan keluarga tidak hidup dalam ruang hampa. Mereka hidup dalam sistem sosial, ekonomi, dan kebijakan publik.

Di banyak wilayah dengan angka stunting tinggi seperti sebagian wilayah di Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan kawasan 3T lainnya kita melihat pola yang berulang, yaitu keterbatasan akses pangan bergizi, sanitasi yang buruk, air bersih yang terbatas, layanan kesehatan yang jauh, kemiskinan struktural, serta lemahnya integrasi layanan publik.

Dalam konteks ini, stunting tidak lahir dari kelalaian individu, melainkan dari ketidakhadiran sistem yang melindungi kehidupan. Menyalahkan keluarga tanpa memperbaiki sistem adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab negara.
 

Data sebagai cermin desain kebijakan


Secara nasional, prevalensi stunting Indonesia memang menunjukkan tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Angkanya kini berada di kisaran ±19 – 20 persen, yang berarti sekitar 1 dari 5 anak Indonesia masih tumbuh dengan hambatan perkembangan biologis dan kognitif.

Namun data agregat nasional ini menyimpan realitas yang lebih dalam, yaitu ketimpangan wilayah yang tajam. Di sejumlah provinsi dan wilayah tertentu, stunting bukan sekadar masalah individual, tetapi menjadi fenomena struktural. 


(Kondisi stunting terjadi akibat asupan gizi tidak memadai dalam jangka waktu lama, sering kali dimulai sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan). Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Fakta ini menunjukkan bahwa stunting di Indonesia bukan hanya persoalan nasional, tetapi persoalan ketidakmerataan kualitas hidup dan layanan dasar antarwilayah.

Negara tidak dibangun oleh rata-rata statistik, tetapi oleh kualitas kehidupan nyata warganya di setiap daerah. 

Selama masih ada wilayah yang secara sistemik menghasilkan generasi dengan hambatan perkembangan sejak awal kehidupan, maka pembangunan manusia belum bisa disebut berhasil.
 

1000 Hari Pertama: Fondasi peradaban


Fase 1000 hari pertama kehidupan, dari kehamilan hingga usia 2 tahun merupakan fase paling menentukan dalam pembentukan manusia. 

Pada fase inilah struktur otak, sistem metabolisme, imunitas tubuh, dan kapasitas kognitif manusia dibangun. 
Kekurangan gizi, infeksi berulang, sanitasi buruk, dan lingkungan tidak sehat pada fase ini akan meninggalkan dampak jangka panjang yang sebagian tidak dapat diperbaiki sepenuhnya.

Inilah sebabnya mengapa daerah dengan stunting tinggi hampir selalu berkorelasi dengan rendahnya kualitas pendidikan, rendahnya produktivitas ekonomi, dan tingginya kemiskinan antargenerasi. 

Karenanya, 1000 hari pertama kehidupan bukan sekadar fase medis melainkan fase strategis pembangunan negara.
 

Stunting sebagai persoalan arsitektur negara



(Pencegahan stunting dilakukan melalui pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil, ASI eksklusif, MPASI bergizi, dan imunisasi lengkap. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Stunting tidak bisa diselesaikan dengan program sektoral jangka pendek. Penanganan bencana senyap ini hanya bisa diselesaikan dengan arsitektur kebijakan negara. Artinya, negara harus membangun sistem kehidupan yang sehat melalui:

- Lapisan biologis: perlindungan gizi ibu dan anak, layanan kesehatan berkualitas, sanitasi dan air bersih.

- Lapisan sosial: sistem pangan sehat yang terjangkau, perlindungan keluarga risiko, edukasi gizi berbasis komunitas.

- Lapisan sistemik: anggaran terintegrasi lintas sektor, tata kelola konvergen, data terpusat, dan kepemimpinan kebijakan yang kuat.

Tanpa integrasi ini, stunting akan terus direproduksi oleh sistem itu sendiri. Jika kita sungguh ingin membangun Indonesia sebagai bangsa besar, maka pembangunan manusia harus dimulai dari fase paling awal kehidupan. 

Bukan di bangku kuliah. Bukan di dunia kerja. Bukan di pusat industri. Tetapi dari dalam rahim. Di sanalah fondasi biologis, intelektual, dan sosial manusia Indonesia dibentuk.
 
Negara yang besar bukan hanya membangun gedung tinggi, tetapi negara yang membangun manusia sejak awal kehidupannya. 

Stunting adalah ujian visi negara. Ujian kepemimpinan negara. Dan ujian moral negara. Sekaligus ujian peradaban sebuah bangsa. Karena negara bukan hanya mengelola wilayah, tetapi mengelola kehidupan.


Oleh: DR. dr. Cashtry Meher, M.Kes., M.Ked(KK), Sp.DVE., MH.Kes., FINSDV
Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies





(DR. Cashtri Meher-Board of Experts Prasasti Center. Video: Instagram Cashtri Meher/@cashtri_meher)


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH