FITNESS & HEALTH

Food Noise Jadi Musuh Tersembunyi Diet, Dokter Ungkap Penyebab Berat Badan Sulit Turun

Elang Riki Yanuar
Jumat 08 Mei 2026 / 18:41
Ringkasnya gini..
  • Food noise jadi tantangan tersembunyi obesitas karena pikiran soal makanan muncul terus meski tubuh tidak lapar.
  • Dokter sebut obesitas bukan sekadar kurang disiplin, tapi dipengaruhi faktor biologis dan kesehatan mental.
  • Terapi GLP-1 RA dinilai mampu bantu redakan food noise dan mendukung penurunan berat badan lebih optimal.
Jakarta: Banyak orang mengira tantangan terbesar dalam menurunkan berat badan hanya soal menahan lapar atau menjaga pola makan. Namun di balik itu, ada kondisi lain yang sering dialami penderita obesitas, yaitu food noise. Istilah ini merujuk pada dorongan pikiran tentang makanan yang muncul terus-menerus, bahkan saat tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan makanan.

Fenomena food noise kini mulai menjadi perhatian dalam dunia medis karena dianggap berkaitan erat dengan mekanisme biologis obesitas. Kondisi tersebut dibahas dalam diskusi media bertajuk Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas yang digelar baru-baru ini.

Food noise berbeda dengan rasa lapar biasa. Jika lapar merupakan sinyal alami tubuh untuk membutuhkan energi, food noise lebih mengarah pada pikiran obsesif tentang makanan yang muncul secara terus-menerus dan sulit dikendalikan.

Kondisi ini dinilai dapat memicu kebiasaan makan berlebihan atau overeating. Tidak hanya berdampak pada berat badan, food noise juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang karena menimbulkan rasa bersalah, stres, hingga kecemasan akibat sulit mengontrol pola makan.

Obesitas sendiri saat ini dipahami sebagai penyakit kronis yang kompleks dan bukan sekadar akibat kurang disiplin dalam menjaga pola hidup sehat. Berdasarkan World Obesity Atlas 2022, Indonesia menempati posisi ketiga dari 10 negara di Asia Tenggara dengan prevalensi obesitas tertinggi.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Iflan Nauval, menjelaskan bahwa banyak penderita obesitas sebenarnya sudah berusaha keras menurunkan berat badan. Namun tantangannya tidak hanya berasal dari pola makan, melainkan juga faktor biologis dalam tubuh.

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks. Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi,” ujar dr. Iflan Nauval.

Ia menambahkan bahwa pendekatan penanganan obesitas kini mulai berubah. Jika sebelumnya fokus utama hanya menghitung kalori dan membatasi makanan, kini pendekatan berbasis biologi tubuh mulai lebih diperhatikan.

“Saat ini, paradigma penanganan obesitas telah bergeser dari sekadar ‘hitung kalori’ menjadi ‘perbaiki biologi’. Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi (complementary) untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja. Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien,” lanjutnya.

Dalam perkembangan dunia medis, inovasi terapi seperti GLP-1 receptor agonist atau GLP-1 RA mulai digunakan untuk membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang di otak. Terapi ini bekerja pada jalur biologis yang memengaruhi nafsu makan sehingga dinilai mampu membantu mengurangi food noise.

Pendekatan tersebut juga disebut dapat membantu pasien merasa lebih cepat kenyang, mengurangi rasa lapar, serta menurunkan keinginan makan secara berlebihan. Dengan begitu, pengaturan asupan kalori menjadi lebih terkontrol.

Secara klinis, terapi GLP-1 RA dari Novo Nordisk disebut mampu membantu penurunan berat badan secara signifikan. Bahkan, satu dari tiga pasien dilaporkan bisa kehilangan lebih dari 20 persen berat badan.

Selain menurunkan berat badan, terapi ini juga dinilai mendukung quality weight loss atau penurunan berat badan berkualitas, yaitu dengan mengurangi lemak tubuh tanpa banyak mengurangi massa otot. Risiko penyakit kardiovaskular juga disebut berpotensi turun hingga 20 persen.

Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman, menilai penting bagi masyarakat untuk memahami obesitas sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan profesional.

“Penting bagi individu dengan obesitas untuk beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional dalam mengelola berat badan. Dengan memahami bahwa obesitas adalah penyakit kompleks, kita dapat mendorong penanganan yang lebih tepat dan berbasis sains,” ujar Riyanny Meisha Tarliman.

Ia juga mengajak masyarakat mencari informasi yang akurat mengenai obesitas agar tidak terjebak dalam stigma maupun mitos yang beredar.

“Kami juga mendorong masyarakat untuk mengakses situs NovoCare.id sebagai sumber informasi yang akurat, guna membedakan mitos dan fakta seputar obesitas, sekaligus mendapatkan panduan untuk memperoleh pendampingan medis yang tepat dalam perjalanan pengelolaan berat badan,” tutupnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(ELG)

MOST SEARCH