FITNESS & HEALTH

Tak Hanya Kesehatan Mental, Pasien Skizofrenia Juga Rentan Alami Masalah Metabolik

Elang Riki Yanuar
Selasa 25 Agustus 2026 / 14:00
Ringkasnya gini..
  • Studi HISTORI menunjukkan semaglutide membantu menurunkan berat badan dan HbA1c pada pasien skizofrenia dengan obesitas dan prediabetes.
  • Pasien skizofrenia menghadapi risiko obesitas dan diabetes, sehingga kesehatan metabolik perlu menjadi bagian dari penanganan secara menyeluruh.
  • Semaglutide menurunkan berat badan rata-rata 9,21 kilogram pada pasien skizofrenia dalam studi selama 30 minggu.
Jakarta: Penanganan skizofrenia kini semakin dipandang perlu mencakup kesehatan fisik pasien secara menyeluruh. Selain mengendalikan gejala kejiwaan, risiko kelebihan berat badan, obesitas, prediabetes, dan diabetes tipe 2 juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Risiko metabolik tersebut salah satunya berkaitan dengan penggunaan obat antipsikotik generasi kedua. Obat ini memiliki peran penting dalam mengendalikan gejala skizofrenia, tetapi beberapa jenisnya dapat dikaitkan dengan peningkatan berat badan serta perubahan metabolisme glukosa.

Kondisi tersebut mendorong peneliti mengevaluasi pendekatan tambahan untuk membantu menangani persoalan metabolik pada pasien skizofrenia. Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan di JAMA Psychiatry pada September 2025 melalui studi bertajuk Semaglutide Treatment of Antipsychotic-Treated Patients With Schizophrenia, Prediabetes, and Obesity: The HISTORI Randomized Clinical Trial.

Studi HISTORI melibatkan 154 peserta berusia 18 hingga 60 tahun. Seluruh peserta merupakan pasien skizofrenia yang sedang menjalani terapi antipsikotik generasi kedua, memiliki indeks massa tubuh minimal 27, serta mengalami prediabetes.

Para peserta kemudian dibagi secara acak ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mendapatkan semaglutide sekali seminggu dengan dosis yang ditingkatkan hingga 1 miligram per minggu, sedangkan kelompok lainnya menerima plasebo.

Setelah menjalani pemantauan selama 30 minggu, kelompok yang menerima semaglutide menunjukkan perubahan pada sejumlah indikator kesehatan metabolik. Salah satunya terlihat dari kadar HbA1c yang mengalami penurunan rata-rata sebesar 0,46 persen dari kondisi awal.
HbA1c merupakan indikator yang digunakan untuk menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam rentang sekitar dua hingga tiga bulan. Dalam studi tersebut, perubahan HbA1c menjadi salah satu parameter yang diperhatikan untuk melihat respons metabolik peserta.

Perubahan juga terlihat pada berat badan. Peserta yang mendapatkan semaglutide mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 9,21 kilogram dibandingkan kelompok yang mendapatkan plasebo.

Hasil penelitian juga menunjukkan perbedaan pada jumlah peserta yang mencapai kadar HbA1c di bawah 5,7 persen. Sebanyak 81 persen peserta dari kelompok semaglutide mencapai angka tersebut, sedangkan proporsinya mencapai 19 persen pada kelompok plasebo.

Selain berat badan dan kadar gula darah, sejumlah indikator metabolik lain turut mengalami perubahan. Kadar kolesterol HDL meningkat sekitar 10,81 mg/dL, sementara kadar trigliserida mengalami penurunan. Peneliti juga mencatat adanya peningkatan kualitas hidup yang berkaitan dengan kondisi fisik.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena pasien skizofrenia memiliki tantangan kesehatan yang tidak hanya berkaitan dengan kondisi kejiwaan. Dalam publikasi penelitian, risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang berhubungan dengan obesitas disebut menjadi bagian dari persoalan yang berkontribusi terhadap risiko kematian dini pada populasi dengan skizofrenia.

Namun, penelitian tersebut juga melihat apakah perubahan kondisi metabolik akan berpengaruh terhadap gejala skizofrenia. Hasilnya, tidak ditemukan perubahan bermakna pada skor gejala skizofrenia yang diukur menggunakan Positive and Negative Syndrome Scale 6 atau PANSS-6.

Peneliti juga tidak menemukan perubahan bermakna pada kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental. Artinya, selama masa penelitian, perbaikan sejumlah parameter metabolik pada kelompok semaglutide tidak disertai bukti adanya perburukan kondisi kejiwaan.

Meski demikian, hasil penelitian tidak berarti semaglutide dapat digunakan sebagai terapi untuk mengatasi skizofrenia. Studi HISTORI secara khusus mengevaluasi penggunaannya dalam konteks pengelolaan persoalan metabolik pada pasien skizofrenia dengan prediabetes dan kelebihan berat badan atau obesitas.

Aspek keamanan juga menjadi bagian dari penelitian. Gangguan saluran cerna lebih sering dilaporkan pada peserta yang mendapatkan semaglutide. Sementara itu, secara keseluruhan tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam jumlah kejadian efek samping serius antara kelompok semaglutide dan plasebo.

Dari total 154 peserta yang menjalani randomisasi, sebanyak 141 orang atau sekitar 91,5 persen menyelesaikan penelitian. Tingkat penyelesaian tercatat sebesar 96 persen pada kelompok semaglutide dan 87 persen pada kelompok plasebo.

Penelitian ini tetap memiliki sejumlah keterbatasan. Masa pengamatan selama 30 minggu relatif singkat sehingga belum dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai manfaat maupun keamanan penggunaan semaglutide dalam jangka panjang.

Peneliti juga menyebut studi tersebut mungkin belum memiliki kekuatan statistik yang cukup untuk menemukan perubahan tertentu pada aspek kesehatan mental. Penelitian lanjutan dengan periode pemantauan lebih panjang masih diperlukan untuk mengetahui dampak penggunaan semaglutide pada kelompok pasien tersebut.

Karena itu, hasil studi HISTORI perlu dipahami dalam konteks populasi yang diteliti. Pesertanya merupakan orang dewasa dengan skizofrenia yang menggunakan antipsikotik generasi kedua, mengalami prediabetes, serta memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Temuan tersebut tidak dapat secara otomatis diterapkan kepada seluruh pasien skizofrenia atau semua orang dengan obesitas.

Studi ini juga tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi antipsikotik dalam penanganan skizofrenia. Sebaliknya, penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya memberikan perhatian bersamaan terhadap kesehatan metabolik pasien selama menjalani perawatan kejiwaan.

Pendekatan tersebut dapat melibatkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan. Psikiater dapat berkolaborasi dengan dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, serta tenaga kesehatan lain untuk memantau berat badan, kadar gula darah, dan faktor risiko metabolik sesuai kondisi pasien.

Bagi pasien dan keluarga, temuan ini juga menegaskan pentingnya tidak mengubah atau menghentikan obat antipsikotik secara mandiri. Perubahan berat badan atau kadar gula darah selama pengobatan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan agar dapat dievaluasi dan ditangani sesuai kebutuhan.

Di Indonesia, Novo Nordisk memasarkan produk berbasis semaglutide dengan indikasi yang berbeda. Ozempic dipasarkan untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2, sedangkan Wegovy digunakan untuk manajemen berat badan sesuai indikasi yang telah disetujui. Penggunaannya perlu mengikuti indikasi medis dan pengawasan tenaga kesehatan.

Dengan demikian, temuan studi HISTORI menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam merawat pasien skizofrenia. Pengendalian gejala kejiwaan tetap menjadi bagian utama, tetapi kondisi seperti obesitas, prediabetes, diabetes, dan risiko penyakit kardiovaskular juga perlu mendapat perhatian.








 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH