FITNESS & HEALTH

CEO Moderna: Waspada, Kemungkinan 1 dari 5 Varian Covid-19 di Masa Depan akan Berbahaya

Mia Vale
Kamis 31 Maret 2022 / 08:05
Jakarta: Setelah varian Omicron dan Deltacron akankah muncul lagi varian virus korona baru yang berbahaya? CEO Moderna, Stephane Bance mengatakan kepada Bloomberg, bahwa ada kemungkinan timbul satu dari lima varian virus korona baru yang berbahaya dalam waktu dekat. Bancel melanjutkan, varian baru ini akan jauh lebih merepotkan dari varian virus korona saat ini.

Inilah mengapa Bancel berpendapat suntikan booster tahunan diperlukan. Apalagi bagi populasi yang rentan, tentu akan lebih aman bila menerima vaksinasi dan booster tahunan tersebut. 

“Saya pikir ada kemungkinan 80 persen bahwa varian yang akan kita lihat di masa depan dapat dikelola dari sudut pandang keparahan dan produksi vaksin,” jelas Bancel, seperti yang dilansir dari Deseret.


varian covid di masa depan
(CEO Moderna, Stephane Bance mengatakan bahwa diperlukan suntikan booster tahunan apalagi bagi populasi yang rentan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

 
Bancel juga melanjutkan agar kita berhati-hati karena ada kemungkinan 20 persen terjadi sesuatu di beberapa varian baru yang sangat mematikan.

Mengingat apa yang dikatakan para ilmuwan kepada Newsweek pada Agustus 2021 lalu, bahwa ada potensi 'varian covid kiamat' yang akan lebih buruk daripada varian Delta. Tidak lama kemudian, varian Omicron datang, menyebabkan kasus meluas. 

“Saya tidak akan sangat terkejut jika sesuatu yang lain datang yang bahkan lebih menular,” tandas Eric Vail, direktur patologi molekuler di Cedars-Sinai Medical Center kepada Newsweek. 

Sementara itu, Dr Mark Dybul, seorang profesor di Departemen Kedokteran Georgetown University Medical Center dan ahli imunologi, menyarankan sebelum varian Omicron muncul bahwa mutasi covid-19 yang lebih berbahaya akan muncul pada musim semi 2022. 

“Tidak mungkin kita dapat memiliki tingkat vaksinasi yang begitu rendah di seluruh dunia dengan virus ping-pong antara orang yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi. Kemungkinan kita melihat strain yang resistan terhadap vaksin sangat tinggi,” papar Dr Dybul.

(TIN)

MOST SEARCH