FITNESS & HEALTH
Asap Karhutla Masih Mengintai, Dokter Bagikan Cara Jaga Kesehatan agar Tetap Fit
A. Firdaus
Rabu 26 Agustus 2026 / 13:10
- Asap karhutla mengandung partikel PM2.5 dan berbagai zat berbahaya yang dapat memicu gangguan kesehatan. Simak tips menjaga kesehatan saat kualitas udara memburuk.
- salah satu komponen yang perlu diwaspadai dalam asap karhutla adalah PM2.5.
- Paparan asap karhutla bisa berdampak pada siapa saja.
Jakarta: Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya membuat udara terasa sesak dan jarak pandang berkurang. Paparan asap dalam jangka pendek maupun panjang juga dapat berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla dianjurkan untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengatakan menjaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko dampak paparan asap karhutla.
"Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus diterapkan agar daya tahan tubuh terjaga baik, sehingga dampak asap kebakaran hutan dapat dikendalikan dengan baik," kata Prof. Tjandra melansir Antara.
Menurut Prof. Tjandra, salah satu komponen yang perlu diwaspadai dalam asap karhutla adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga ke bagian terdalam paru-paru.
Karena ukurannya yang sangat halus, partikel ini mampu mencapai alveolus atau kantung udara paru-paru tempat pertukaran oksigen berlangsung.
"Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru dan mencetuskan terjadinya inflamasi atau peradangan," jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Tak hanya itu, asap karhutla juga mengandung berbagai zat lain yang berpotensi mengganggu kesehatan, seperti:
- Nitrogen dioksida (NO2)
- Ozon (O3)
- Hidrokarbon aromatik
- Berbagai bahan organik hasil pembakaran
Campuran berbagai senyawa tersebut dapat membentuk zat toksik yang berisiko membahayakan tubuh apabila terhirup terus-menerus.
Saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko paparan.
Menjaga daya tahan tubuh tetap optimal menjadi pertahanan pertama saat menghadapi kondisi lingkungan yang kurang sehat.
Pastikan kebutuhan istirahat tercukupi, konsumsi makanan bergizi seimbang, minum cukup air, dan tetap menjaga kebersihan diri.
Jika tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya batasi aktivitas di luar rumah saat kabut asap sedang pekat.
Mengurangi paparan langsung dapat membantu menurunkan risiko gangguan pernapasan.
Tjandra juga mengingatkan pentingnya menggunakan masker saat harus beraktivitas di area yang terdampak asap.
"Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator," ujarnya.
Masker dengan kemampuan filtrasi yang baik dapat membantu menyaring sebagian partikel berbahaya di udara.
Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan pernapasan yang lebih serius.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Batuk berkepanjangan
- Tenggorokan terasa perih
- Sesak napas
- Nyeri dada
- Mata perih dan berair
Jika gejala tersebut muncul, terutama sesak napas atau nyeri dada setelah terpapar asap, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Penanganan lebih awal dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Paparan asap karhutla bisa berdampak pada siapa saja. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, seperti:
- Anak-anak
- Lansia
- Ibu hamil
- Penderita asma
- Penderita penyakit paru kronis
- Orang dengan penyakit jantung
Bagi kelompok ini, pembatasan aktivitas di luar ruangan dan penggunaan masker menjadi semakin penting ketika kualitas udara memburuk.
(FIR)
Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla dianjurkan untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengatakan menjaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko dampak paparan asap karhutla.
"Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus diterapkan agar daya tahan tubuh terjaga baik, sehingga dampak asap kebakaran hutan dapat dikendalikan dengan baik," kata Prof. Tjandra melansir Antara.
Kenapa Asap Karhutla Berbahaya?
Menurut Prof. Tjandra, salah satu komponen yang perlu diwaspadai dalam asap karhutla adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga ke bagian terdalam paru-paru.
Karena ukurannya yang sangat halus, partikel ini mampu mencapai alveolus atau kantung udara paru-paru tempat pertukaran oksigen berlangsung.
"Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru dan mencetuskan terjadinya inflamasi atau peradangan," jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Tak hanya itu, asap karhutla juga mengandung berbagai zat lain yang berpotensi mengganggu kesehatan, seperti:
- Nitrogen dioksida (NO2)
- Ozon (O3)
- Hidrokarbon aromatik
- Berbagai bahan organik hasil pembakaran
Campuran berbagai senyawa tersebut dapat membentuk zat toksik yang berisiko membahayakan tubuh apabila terhirup terus-menerus.
Cara Sederhana Melindungi Diri dari Asap Karhutla
Saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko paparan.
1. Terapkan pola hidup bersih dan sehat
Menjaga daya tahan tubuh tetap optimal menjadi pertahanan pertama saat menghadapi kondisi lingkungan yang kurang sehat.
Pastikan kebutuhan istirahat tercukupi, konsumsi makanan bergizi seimbang, minum cukup air, dan tetap menjaga kebersihan diri.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Jika tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya batasi aktivitas di luar rumah saat kabut asap sedang pekat.
Mengurangi paparan langsung dapat membantu menurunkan risiko gangguan pernapasan.
3. Gunakan masker yang tepat
Tjandra juga mengingatkan pentingnya menggunakan masker saat harus beraktivitas di area yang terdampak asap.
"Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator," ujarnya.
Masker dengan kemampuan filtrasi yang baik dapat membantu menyaring sebagian partikel berbahaya di udara.
Jangan Abaikan Gejala yang Muncul
Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan pernapasan yang lebih serius.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Batuk berkepanjangan
- Tenggorokan terasa perih
- Sesak napas
- Nyeri dada
- Mata perih dan berair
Jika gejala tersebut muncul, terutama sesak napas atau nyeri dada setelah terpapar asap, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Penanganan lebih awal dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Kelompok Rentan Perlu Ekstra Waspada
Paparan asap karhutla bisa berdampak pada siapa saja. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, seperti:
- Anak-anak
- Lansia
- Ibu hamil
- Penderita asma
- Penderita penyakit paru kronis
- Orang dengan penyakit jantung
Bagi kelompok ini, pembatasan aktivitas di luar ruangan dan penggunaan masker menjadi semakin penting ketika kualitas udara memburuk.
(FIR)