FITNESS & HEALTH

Asap Karhutla Bikin Asma Kambuh? Ini yang Perlu Diwaspadai

A. Firdaus
Rabu 26 Agustus 2026 / 10:24
Ringkasnya gini..
  • Asap karhutla dapat memicu serangan asma akut dan gangguan pernapasan. Kenali gejalanya dan cara mengurangi risiko paparan asap.
  • Asap kebakaran hutan mengandung berbagai zat yang dapat mengganggu sistem pernapasan.
  • Masalah karhutla juga tidak berhenti pada dampak langsung terhadap kesehatan.
Jakarta: Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cuma mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari. Bagi penderita asma, paparan asap juga bisa meningkatkan risiko munculnya serangan asma akut.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan penderita asma untuk lebih waspada ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.

"Yang perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut," ujar Tjandra melansir Antara.
 

Menurutnya, penderita asma sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis dan dosis obat yang perlu disiapkan, terutama ketika berada di wilayah yang terdampak asap.
 

Jangan Lupa Obat Pengontrol Asma


Saat menghadapi paparan asap karhutla, penderita asma perlu tetap menggunakan obat inhaler controller secara rutin sesuai anjuran dokter.

Selain itu, obat reliever juga perlu digunakan sesuai petunjuk apabila gejala asma muncul, misalnya ketika mengalami sesak napas.

Penggunaan obat sebaiknya tetap mengikuti resep dan arahan dokter. Jangan mengubah dosis atau menghentikan obat pengontrol secara sepihak hanya karena gejala sedang membaik.
 

Kenapa Asap Karhutla Bisa Memicu Asma?


Asap kebakaran hutan mengandung berbagai zat yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Salah satunya adalah particulate matter (PM2.5), yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga jauh ke dalam saluran pernapasan.

Menurut Tjandra, paparan partikel tersebut dapat memicu inflamasi atau peradangan.

Asap karhutla juga dapat mengandung gas seperti nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, serta berbagai bahan organik hasil pembakaran pohon dan tanaman.

Campuran zat tersebut dapat membentuk polutan yang berpotensi membahayakan kesehatan, terutama bagi kelompok yang sensitif terhadap kualitas udara.
 

Waspadai Batuk hingga Sesak Napas


Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan pernapasan. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

- Batuk, dengan atau tanpa dahak
- Sesak napas
- Sakit atau rasa tidak nyaman di dada
- Gejala infeksi saluran pernapasan

Tjandra mengatakan dampak akut paparan asap dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dalam kondisi tertentu, paparan juga dapat memperburuk infeksi paru dan penyakit seperti asma.

Risikonya tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan. Paparan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiorespirasi, terutama pada kelompok yang rentan.

Karena itu, jangan menganggap batuk atau sesak napas saat udara dipenuhi asap sebagai keluhan sepele.
 

Dampaknya Bisa Sampai Mengganggu Akses Kesehatan


Masalah karhutla juga tidak berhenti pada dampak langsung terhadap kesehatan.

Jika kebakaran berlangsung dengan intensitas tinggi, mencakup wilayah luas, dan terjadi dalam waktu lama, aktivitas masyarakat di daerah terdampak juga dapat terganggu.

Tjandra menyebut kondisi tersebut dapat memengaruhi transportasi, ketersediaan air bersih, komunikasi, hingga sumber daya lainnya.

Situasi tersebut pada akhirnya berpotensi menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ketika membutuhkannya.
 

Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan


Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko paparan asap?

Tjandra menyarankan masyarakat menghindari area kebakaran aktif jika kondisi memungkinkan. Perjalanan yang tidak terlalu penting juga sebaiknya ditunda ketika paparan asap sedang tinggi.

Jika memang harus berada di area dekat kebakaran, gunakan masker yang sesuai dan memiliki kemampuan filtrasi yang baik. Dalam kondisi tertentu, Tjandra menyarankan penggunaan respirator.

Khusus bagi penderita asma, persiapan menjadi semakin penting. Pastikan obat tersedia dan digunakan sesuai anjuran dokter.

"Kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan, gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator," tutur Tjandra.

Pada akhirnya, menghadapi musim karhutla bukan cuma soal menjaga jarak dari api. Kualitas udara juga perlu diperhatikan, terutama bagi penderita asma, anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH