FITNESS & HEALTH
Filantropi Kesehatan Zaman Now: Gak Cuma Pencitraan, Harus Jelas Hasilnya!
Yatin Suleha
Senin 15 Juni 2026 / 07:05
- Pentingnya kepercayaan, transparansi, dan hasil yang nyata jadi sorotan utama Kemenkes RI dalam kerja sama pendanaan filantropi kesehatan.
- Pesan ini disampaikan langsung oleh Menkes Budi G. Sadikin saat hadir di acara AVPN Southeast Asia Health Impact Leadership Forum 2026.
- Intinya, kolaborasi di sektor kesehatan nggak bisa asal jalan, harus bener-bener punya impact yang terukur biar manfaatnya sampai ke masyarakat!
Jakarta: Pentingnya kepercayaan, transparansi, dan hasil yang nyata jadi sorotan utama Kemenkes RI dalam kerja sama pendanaan filantropi kesehatan.
Pesan ini disampaikan langsung oleh Menkes Budi G. Sadikin saat hadir di acara AVPN Southeast Asia Health Impact Leadership Forum 2026 di Pullman Jakarta Thamrin CBD, Kamis (11/6) lalu.
Intinya, kolaborasi di sektor kesehatan nggak bisa asal jalan, harus bener-bener punya impact yang terukur biar manfaatnya sampai ke masyarakat!
“Bagi kami, filantropi adalah soal kepercayaan. Kepercayaan tidak bisa didapat begitu saja. Kepercayaan harus diusahakan,” kata Menkes.
Menkes Budi G. Sadikin buka pintu lebar-lebar buat para donor yang mau kasih dukungan kesehatan, mau itu lewat jalur pemerintah, organisasi masyarakat, atau swasta.
Yang penting satu: tujuannya harus nyambung sama prioritas kesehatan nasional, kayak misalnya fokus menunkan angka kematian ibu. Siapa pun bisa jadi pelaksananya, asal terkoordinasi dengan baik.
Agar transparan dan dampaknya bisa dipantau, Menkes minta semua aliran dana ini didaftarin ke Kemenkes. Cara ini enggak cuma bikin kontribusi tiap pihak bisa diukur, tapi juga tetep kasih fleksibilitas buat para donor dalam menyalurkan bantuan.
.jpg)
(Kemenkes menggarisbawahi bahwa kepercayaan, keterbukaan, serta hasil yang nyata jadi sorotan utama Kemenkes RI dalam kerja sama pendanaan filantropi kesehatan. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Menkes juga sempat kasih contoh beberapa kerja sama yang udah jalan nih, misalnya:
- Dukungan Uni Emirat Arab buat bangun RS di Solo.
- Hibah dari lembaga Jepang senilai 10 miliar yen buat RS 22 lantai.
- Bantuan jutaan tablet gizi buat ibu hamil dari Vitamin Angel.
- Kerja sama vaksinasi HPV bareng MSD dan mitra lainnya.
Intinya, kolaborasi yang terukur seperti ini jadi kunci agar program kesehatan kita makin sat-set dan tepat sasaran!
Ia menekankan setiap program memiliki perhitungan yang jelas. Menkes mencontohkan rencana vaksinasi HPV untuk 50 juta ibu di Indonesia.
Menurutnya, jika hanya mengandalkan anggaran pemerintah, program itu baru bisa selesai dalam 20 tahun.
Sementara setiap tahun sekitar 10.000 perempuan Indonesia meninggal karena infeksi HPV. Dengan dukungan pendanaan yang mempercepat vaksinasi dari 20 tahun menjadi 10 tahun, sekitar 100.000 kematian bisa dicegah.
“Anggarannya ada, kesenjangannya ada, sehingga bisa diisi. Semuanya transparan. Setelah diterima, laporannya akan ada,” ujarnya.
Sebagai informasi, Kemenkes dan AVPN telah menandatangani MoU kerja sama strategis untuk percepatan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada 13 Mei 2026.
MoU ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemenkes dan CEO AVPN. Ruang lingkupnya mencakup mobilisasi sumber daya filantropi dan investasi sosial untuk program kesehatan prioritas nasional, dukungan inovasi dan teknologi kesehatan.
Penguatan jejaring multisektor, pelaksanaan proyek percontohan SDGs di sektor kesehatan, penyebarluasan informasi keanggotaan dan layanan AVPN, serta kerja sama lain sesuai kewenangan kedua pihak.
AVPN Southeast Asia Health Impact Leadership Forum 2026 merupakan forum regional pertama AVPN di Asia Tenggara yang mempertemukan pemimpin sektor korporasi, filantropi, farmasi, life sciences, dan kebijakan publik.
1. Memperkuat ekosistem kesehatan mental anak muda
2. Mempercepat eliminasi kanker serviks
3. Memajukan gizi ibu dan anak, serta
4. Pembiayaan inovatif untuk riset dan pengembangan penyakit menular
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Pesan ini disampaikan langsung oleh Menkes Budi G. Sadikin saat hadir di acara AVPN Southeast Asia Health Impact Leadership Forum 2026 di Pullman Jakarta Thamrin CBD, Kamis (11/6) lalu.
Intinya, kolaborasi di sektor kesehatan nggak bisa asal jalan, harus bener-bener punya impact yang terukur biar manfaatnya sampai ke masyarakat!
“Bagi kami, filantropi adalah soal kepercayaan. Kepercayaan tidak bisa didapat begitu saja. Kepercayaan harus diusahakan,” kata Menkes.
Menkes Budi G. Sadikin buka pintu lebar-lebar buat para donor yang mau kasih dukungan kesehatan, mau itu lewat jalur pemerintah, organisasi masyarakat, atau swasta.
Yang penting satu: tujuannya harus nyambung sama prioritas kesehatan nasional, kayak misalnya fokus menunkan angka kematian ibu. Siapa pun bisa jadi pelaksananya, asal terkoordinasi dengan baik.
Agar transparan dan dampaknya bisa dipantau, Menkes minta semua aliran dana ini didaftarin ke Kemenkes. Cara ini enggak cuma bikin kontribusi tiap pihak bisa diukur, tapi juga tetep kasih fleksibilitas buat para donor dalam menyalurkan bantuan.
.jpg)
(Kemenkes menggarisbawahi bahwa kepercayaan, keterbukaan, serta hasil yang nyata jadi sorotan utama Kemenkes RI dalam kerja sama pendanaan filantropi kesehatan. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Menkes juga sempat kasih contoh beberapa kerja sama yang udah jalan nih, misalnya:
- Dukungan Uni Emirat Arab buat bangun RS di Solo.
- Hibah dari lembaga Jepang senilai 10 miliar yen buat RS 22 lantai.
- Bantuan jutaan tablet gizi buat ibu hamil dari Vitamin Angel.
- Kerja sama vaksinasi HPV bareng MSD dan mitra lainnya.
Intinya, kolaborasi yang terukur seperti ini jadi kunci agar program kesehatan kita makin sat-set dan tepat sasaran!
Setiap program memiliki perhitungan yang jelas
Ia menekankan setiap program memiliki perhitungan yang jelas. Menkes mencontohkan rencana vaksinasi HPV untuk 50 juta ibu di Indonesia.
Menurutnya, jika hanya mengandalkan anggaran pemerintah, program itu baru bisa selesai dalam 20 tahun.
Sementara setiap tahun sekitar 10.000 perempuan Indonesia meninggal karena infeksi HPV. Dengan dukungan pendanaan yang mempercepat vaksinasi dari 20 tahun menjadi 10 tahun, sekitar 100.000 kematian bisa dicegah.
“Anggarannya ada, kesenjangannya ada, sehingga bisa diisi. Semuanya transparan. Setelah diterima, laporannya akan ada,” ujarnya.
Sebagai informasi, Kemenkes dan AVPN telah menandatangani MoU kerja sama strategis untuk percepatan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada 13 Mei 2026.
MoU ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemenkes dan CEO AVPN. Ruang lingkupnya mencakup mobilisasi sumber daya filantropi dan investasi sosial untuk program kesehatan prioritas nasional, dukungan inovasi dan teknologi kesehatan.
Penguatan jejaring multisektor, pelaksanaan proyek percontohan SDGs di sektor kesehatan, penyebarluasan informasi keanggotaan dan layanan AVPN, serta kerja sama lain sesuai kewenangan kedua pihak.
AVPN Southeast Asia Health Impact Leadership Forum 2026 merupakan forum regional pertama AVPN di Asia Tenggara yang mempertemukan pemimpin sektor korporasi, filantropi, farmasi, life sciences, dan kebijakan publik.
Forum ini mengangkat empat fokus:
1. Memperkuat ekosistem kesehatan mental anak muda
2. Mempercepat eliminasi kanker serviks
3. Memajukan gizi ibu dan anak, serta
4. Pembiayaan inovatif untuk riset dan pengembangan penyakit menular
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)