FITNESS & HEALTH
Beres-beres Kamar = Self-Care? Ternyata Manfaat Decluttering Emang Real!
Yatin Suleha
Senin 20 Juli 2026 / 11:03
- Sering merasa pengap di rumah sendiri karena banyak barang menumpuk? It’s time to declutter!
- Memilah barang yang sudah gak dipakai itu enggak cuma bikin rumah makin rapi, tapi juga ampuh banget buat bikin pikiran lebih tenang dan anti-stres.
- Barang yang masih bagus? Jangan dibuang, mending didonasikan ke mereka yang butuh. Selain rumah jadi makin nyaman, self-care kamu juga jadi makin maksimal!
Jakarta: Sering merasa pengap di rumah sendiri karena banyak barang menumpuk? It’s time to declutter! Memilah barang yang sudah gak dipakai itu enggak cuma bikin rumah makin rapi, tapi juga ampuh banget buat bikin pikiran lebih tenang dan anti-stres.
Barang yang masih bagus? Jangan dibuang, mending didonasikan ke mereka yang butuh. Selain rumah jadi makin nyaman, self-care kamu juga jadi makin maksimal!
Selain menciptakan ruang yang lebih lega, kebiasaan decluttering juga membantu mengurangi stres, dan membuat suasana rumah terasa lebih nyaman.
Tumpukan barang yang berantakan dapat menjadi gangguan visual, yang membuat otak bekerja lebih keras dalam memproses informasi. Kondisi ini dapat menurunkan fokus, konsentrasi, dan produktivitas sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan, yang rapi dan terorganisir membuat seseorang lebih tenang, lebih fokus, dan lebih mudah menyelesaikan pekerjaan.
Bagi orang dengan ADHD, cedera otak, atau gangguan fungsi eksekutif, memiliki sistem penyimpanan yang teratur untuk barang-barang penting seperti kunci, ponsel, dan dompet juga dapat membantu aktivitas sehari-hari.

(Lingkungan yang rapi dan terorganisir memberikan efek visual yang tenang, sehingga membantu pikiran jadi lebih fokus dan rileks. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selain mengganggu secara fisik, tumpukan dokumen, pakaian, dan barang lainnya dapat membuat pikiran terasa penuh. Oleh karena itu, merapikan barang secara bertahap, dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang.
Dilansir dari Psychology Today, beberapa penelitian menemukan hubungan antara rumah yang berantakan dengan depresi, kecemasan, dan stres. Lingkungan yang tidak tertata, dapat memunculkan rasa frustrasi, kewalahan, bahkan perasaan tidak berdaya.
Kekacauan yang terus dibiarkan juga dapat memicu rasa malu, bersalah, dan kehilangan motivasi. Pada orang yang sudah mengalami depresi, kondisi rumah yang berantakan sering kali membuat situasi menjadi lebih sulit.
Sebaliknya, kebiasaan menyortir dan menata barang dapat meningkatkan rasa percaya diri, membangun kebiasaan positif, memperbaiki suasana hati, serta membantu tidur dan beristirahat dengan lebih nyaman.
Setiap barang yang dimiliki membutuhkan ruang, waktu, dan tenaga untuk dirawat. Semakin banyak barang yang menumpuk, semakin besar pula usaha yang diperlukan untuk membersihkan dan mengaturnya.
Lemari atau laci yang penuh sesak, juga membuat proses mencari barang menjadi lebih lama dan melelahkan.
Dengan menyingkirkan barang yang sudah tidak digunakan, rumah terasa lebih lega, lebih mudah diatur, dan energi dapat difokuskan pada hal-hal yang benar-benar penting.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Barang yang masih bagus? Jangan dibuang, mending didonasikan ke mereka yang butuh. Selain rumah jadi makin nyaman, self-care kamu juga jadi makin maksimal!
Selain menciptakan ruang yang lebih lega, kebiasaan decluttering juga membantu mengurangi stres, dan membuat suasana rumah terasa lebih nyaman.
Rumah rapi membantu pikiran lebih fokus
Tumpukan barang yang berantakan dapat menjadi gangguan visual, yang membuat otak bekerja lebih keras dalam memproses informasi. Kondisi ini dapat menurunkan fokus, konsentrasi, dan produktivitas sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan, yang rapi dan terorganisir membuat seseorang lebih tenang, lebih fokus, dan lebih mudah menyelesaikan pekerjaan.
Bagi orang dengan ADHD, cedera otak, atau gangguan fungsi eksekutif, memiliki sistem penyimpanan yang teratur untuk barang-barang penting seperti kunci, ponsel, dan dompet juga dapat membantu aktivitas sehari-hari.

(Lingkungan yang rapi dan terorganisir memberikan efek visual yang tenang, sehingga membantu pikiran jadi lebih fokus dan rileks. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selain mengganggu secara fisik, tumpukan dokumen, pakaian, dan barang lainnya dapat membuat pikiran terasa penuh. Oleh karena itu, merapikan barang secara bertahap, dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang.
Membantu menjaga kesehatan mental
Dilansir dari Psychology Today, beberapa penelitian menemukan hubungan antara rumah yang berantakan dengan depresi, kecemasan, dan stres. Lingkungan yang tidak tertata, dapat memunculkan rasa frustrasi, kewalahan, bahkan perasaan tidak berdaya.
Kekacauan yang terus dibiarkan juga dapat memicu rasa malu, bersalah, dan kehilangan motivasi. Pada orang yang sudah mengalami depresi, kondisi rumah yang berantakan sering kali membuat situasi menjadi lebih sulit.
Sebaliknya, kebiasaan menyortir dan menata barang dapat meningkatkan rasa percaya diri, membangun kebiasaan positif, memperbaiki suasana hati, serta membantu tidur dan beristirahat dengan lebih nyaman.
Lebih banyak ruang dan energi
Setiap barang yang dimiliki membutuhkan ruang, waktu, dan tenaga untuk dirawat. Semakin banyak barang yang menumpuk, semakin besar pula usaha yang diperlukan untuk membersihkan dan mengaturnya.
Lemari atau laci yang penuh sesak, juga membuat proses mencari barang menjadi lebih lama dan melelahkan.
Dengan menyingkirkan barang yang sudah tidak digunakan, rumah terasa lebih lega, lebih mudah diatur, dan energi dapat difokuskan pada hal-hal yang benar-benar penting.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)