Ketua Divisi Program Kebencanaan Kresna Himpsi, Yuria Ekalitani. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Ketua Divisi Program Kebencanaan Kresna Himpsi, Yuria Ekalitani. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Trauma Kebakaran, Siswa SDN Kebon Kosong Belajar Mengalahkan Rasa Cemas

Ilham Pratama Putra • 31 Agustus 2026 13:19
Ringkasnya gini..
  • Anak-anak belajar mengenali dan mengendalikan rasa takut serta cemas pascakebakaran.
  • Pihak sekolah melihat siswa yang semula ramai berangsur menjadi lebih tenang.
  • Guru dan orang tua juga dibekali kemampuan mendampingi anak setelah bencana.
Jakarta: Suasana hati dan pikiran anak-anak di SDN Kebon Kosong 09, Kemayoran, Jakarta Pusat, perlahan berubah. Mereka yang sebelumnya sulit mengendalikan emosi setelah mengalami bencana kebakaran, kini mulai belajar menghadapi rasa takut dan cemas.
 
Perubahan itu terlihat setelah para siswa mendapatkan layanan dukungan psikososial dari Korps Relawan Bencana (Kresna) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi). Ketua Divisi Program Kebencanaan Kresna Himpsi, Yuria Ekalitani, mengatakan pendampingan yang telah dilakukan menunjukkan perkembangan positif pada anak-anak.
 
Salah satu perubahan paling terlihat adalah kemampuan siswa dalam mengenali dan meregulasi emosi setelah mengalami bencana. Meskipun sekolah ini, setidaknya sudah 3 kali mengalami kebakaran.

"Dari seluruh rangkaian kegiatan layanan dukungan psikososial yang sudah kami lakukan kurang lebih selama tiga minggu ini, kami melihat ada begitu banyak perubahan yang positif," kata Yuria saat ditemui di SDN Kebon Kosong 09, Senin 31 Agustus 2026.
 
Baca juga: 

Bukan Tugas yang Kebanyakan, tapi 'Maksudnya Gimana Dah?' yang Bikin Stres!


 
Menurut dia, sebelumnya tidak semua anak mampu mengendalikan emosi yang muncul setelah mengalami kebakaran. Rasa takut dan cemas menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian.
 
Melalui pendampingan tersebut, anak-anak diajak mengenali emosi dan mempelajari teknik stabilisasi ketika rasa takut atau kecemasan kembali muncul. "Anak-anak yang tadinya belum mampu meregulasi emosi mereka pasca mengalami bencana kebakaran, mereka sekarang jadi tahu bagaimana meregulasi emosi mereka," ujar Yuria.
 
Perubahan itu juga dirasakan langsung oleh Kepala SDN Kebon Kosong 09 Khairunnisa. Ia memperhatikan perilaku anak-anak selama mengikuti kegiatan pendampingan psikososial. 
 
Menurut dia, suasana para siswa berubah secara bertahap. Dari yang mudah terpicu kepanikan hingga menjadi lebih tenang. 
 
"Yang hari pertama tadinya ramai, hari kedua agak sedikit ramainya. Nah hari ketiga itu kok tenang, saya perhatikan kegiatannya. Kok tenang ya anak-anak," kata Khairunnisa.
 
Ia menduga kegiatan psikososial membantu anak-anak menjadi lebih tenang. Sebab, dampak psikologis dari sebuah bencana tidak selalu mudah dikenali secara kasatmata.
 
"Mungkin kita enggak tahu anak-anak ini trauma atau stres atau enggak," ujarnya.
 
Adapun pendampingan psikologis tersebut diberikan kepada seluruh siswa SDN Kebon Kosong 09 yang berjumlah 293 anak. Bagi pihak sekolah, pendampingan tersebut menjadi penting karena SDN Kebon Kosong 09 berada di wilayah yang memiliki risiko kebakaran berulang.
 
"Lokasi di SDN Kebon Kosong 09 ini ada di area di mana dalam satu tahun tercatat sudah tiga kali terjadi kebakaran," kata Khairunnisa.
 
Karena itu, pendampingan tidak hanya diarahkan untuk memulihkan kondisi psikologis anak setelah kebakaran. Para siswa juga dibekali kemampuan menghadapi emosi ketika berada dalam situasi yang membuat mereka takut dan cemas.
 
Di sisi lain, guru mendapat keterampilan untuk memberikan bantuan psikologis awal ketika menemukan murid yang membutuhkan pertolongan. Para orang tua juga mendapatkan psikoedukasi mengenai cara mendampingi anak-anak serta mengelola stres dalam keluarga.
 
"Guru sekarang memiliki kapasitas sebagai penolong untuk memberikan layanan dukungan psikososial tahap awal," tuturnya.
 
Bagi SDN Kebon Kosong 09, proses pemulihan pascakebakaran bukan hanya tentang kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar. Anak-anak juga perlu mendapatkan ruang untuk merasa aman, mengenali emosinya, dan belajar menghadapi ketakutan yang mungkin masih tersisa.
 
Baca juga: 

Gampang Burnout Gegara Kerja? 6 Cara Ini Ampuh Bikin Hati Happy!


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan