FITNESS & HEALTH

Dokter Ungkap 6 Kebiasaan Ini Ganggu Keseimbangan Hormon Stres

Fatha Annisa
Minggu 04 Januari 2026 / 17:42
Jakarta: Stres maupun rasa lelah secara emosional tidak selalu dipicu karena alasan khusus. Terkadang, kebiasaan sehari-hari lah yang justru menjadi penyebab utama kamu merasa stres.
 
Dr. Kunal Sood, seorang anestesiolog dan spesialis pengobatan nyeri membagikan enam kebiasaan sehari-hari yang secara diam-diam mengganggu keseimbangan kortisol (hormon stres) dan meningkatkan respons stres tubuh.
 
“Kortisol membantu Anda mengatasi stres, tetapi kebiasaan harian dapat membuatnya tetap tinggi atau mengganggu ritme alaminya,” ujar Dr. Kunal Sood, dikutip dari video yang diunggah di Instagram, Minggu, 4 Januari 2026.
 

Kebiasaan Sehari-hari yang Mengganggu Keseimbangan Hormon Stres

Kortisol memang penting untuk membantu merespons stres secara positif. Namun, kadar kortisol yang terlalu tinggi juga bisa menyebabkan masalah kesehatan. Oleh karenanya, hormon stres tersebut harus dijaga agar kadarnya tetap seimbang.

Sebagaimana dilansir dari lama Hindustan Times, berikut deretan kebiasaan yang mampu mengganggu keseimbangan kortisol dan membuat kamu mengalami stres:

 
Baca juga: Kenapa Leher dan Bahu Ikut Tegang Saat Stres? Ini Penjelasan Ahli

 

1. Kurang tidur

 Dr. Sood menekankan bahwa tidur yang cukup membantu menekan kadar kortisol pada malam hari. Sebaliknya, kurang tidur justru membuat hormon stres ini meningkat dan memberi beban tambahan pada tubuh.
 
“Satu malam tanpa tidur sudah bisa meningkatkan kortisol pada malam hari, sementara kurang tidur kronis membuat kortisol tetap tinggi di penghujung hari dan memperparah respons stres keesokan harinya,” jelasnya.
 

2. Olahraga Berlebihan

Olahraga yang dilakukan dengan porsi tepat memang dapat memicu kenaikan kortisol sementara, namun biasanya kadar tersebut akan kembali normal. Masalah muncul ketika olahraga dilakukan berlebihan tanpa waktu pemulihan yang cukup, sehingga kortisol tetap tinggi dan mengganggu keseimbangan stres tubuh.
 
“Olahraga memang menaikkan kortisol sesaat, lalu seharusnya kembali normal. Jika latihan melebihi kemampuan pemulihan, ritme kortisol menjadi tidak normal dan mencerminkan gangguan sumbu HPA, bukan adaptasi yang sehat,” ujar Dr. Sood.
 

3. Konsumsi kafein berlebihan

Kafein merupakan stimulan yang meningkatkan kewaspadaan dengan cara menaikkan kadar kortisol. Jika dikombinasikan dengan stres berkepanjangan, efeknya bisa saling memperkuat dan memperparah respons stres tubuh.
 
“Studi menunjukkan kortisol bisa tetap tinggi selama berjam-jam, bahkan pada peminum rutin, terutama jika dosisnya besar atau disertai stres,” kata dr. Sood.

 
Baca juga: Hati-hati! 5 Tanda Ini Tunjukkan Kadar Kortisol Kamu Naik

 

4. Stres emosional

Dr. Sood menyoroti bahwa stres psikologis yang berlangsung lama berdampak langsung dan terus-menerus pada kadar kortisol. Jika terjadi kronis, kortisol bisa terus meningkat atau menjadi tidak teratur, yang kemudian memengaruhi suasana hati, fungsi kognitif, dan keseimbangan sistem imun.
 

5. Melewatkan waktu makan

Kebiasaan melewatkan makan tidak hanya mengganggu metabolisme, tetapi juga memicu peningkatan kortisol.

“Melewatkan makan, terutama sarapan, merupakan bentuk stres metabolik. Kortisol naik untuk menjaga kadar gula darah, dan kebiasaan ini dapat mengacaukan ritme kortisol normal,” terang Dr. Sood.
 

6. Paparan layar berlebihan

Pemicu terganggunya keseimbangan kortisol yang terakhir adalah terlalu lama terpapar layar dan cahaya biru. Dr. Sood menjelaskan, waktu layar yang tinggi berkaitan dengan peningkatan kortisol di akhir hari. Sedangkan cahaya biru mengacaukan ritme sirkadian, menekan melatonin, memperburuk tidur, dan secara tidak langsung meningkatkan kortisol pada malam hari.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(PRI)

MOST SEARCH