FITNESS & HEALTH

Bedah Robotik Makin Jadi Andalan Tangani Kanker Prostat dan Kista Ginjal

Elang Riki Yanuar
Sabtu 29 Agustus 2026 / 16:00
Ringkasnya gini..
  • Mayapada Hospital Jakarta Selatan menangani kanker prostat dan kista ginjal besar dengan teknologi bedah robotik da Vinci Xi.
  • Kolaborasi Mayapada Healthcare dan Apollo Hospitals India memperkuat layanan urologi berstandar internasional di Indonesia.
  • Bedah robotik membantu dokter melakukan operasi urologi dengan visualisasi 3D dan kontrol lebih presisi untuk mendukung pemulihan pasien.
Jakarta: Mayapada Healthcare memperkuat layanan urologi dengan memanfaatkan teknologi bedah robotik untuk menangani kasus kanker prostat dan kista ginjal berukuran besar. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan penanganan medis berstandar internasional di Indonesia.

Melalui program proctorship bersama Apollo Hospitals India, Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS) menggelar prosedur bedah robotik urologi pada 26 hingga 27 Agustus 2026. Program tersebut menjadi penyelenggaraan proctorship keempat yang dilakukan Mayapada Healthcare bersama mitra internasional.

Dalam prosedur tersebut, tim dokter MHJS yang dipimpin dr. Syamsu Hudaya, Sp.U, Subsp.Onk(K), FICRS dan dr. Stevano Lucianto Hotasi Sipahutar, Sp.U, FICRS berkolaborasi dengan Prof. (Dr.) Sanjai Kumar Addla, MRCS, MD, FRCS (Urol). Prof. Sanjai merupakan pakar bedah uro-onkologi dan bedah robotik dari Apollo Hospitals Jubilee Hills, Hyderabad, India.

Dua pasien dengan kondisi urologi berbeda mendapat penanganan menggunakan da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery. Salah satu pasien menderita kanker prostat dan menjalani prosedur radikal prostatektomi, sedangkan pasien lainnya memiliki kista ginjal berukuran besar.

Penggunaan robot dalam prosedur tersebut menjadi bagian dari pengembangan Tahir Uro-Nephrology Center di MHJS. Pusat layanan ini menangani berbagai masalah urologi, mulai dari pembesaran prostat, batu ginjal, penyakit ginjal dan saluran kemih hingga kasus uro-onkologi.

Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fiktorius Kuludong, MM, mengatakan teknologi robotik tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan fasilitas medis terbaru. Menurutnya, teknologi tersebut harus berjalan beriringan dengan kemampuan dokter dan sistem pelayanan yang kuat.

“Bagi kami, teknologi robotik bukan sekadar tentang memiliki fasilitas terbaru, tetapi sebagai bagian dari pengembangan kapabilitas klinis yang mendukung kemampuan dokter dalam memberikan penanganan yang lebih presisi, aman, dan terkontrol. Didukung da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery, kompetensi tim dokter, serta sistem rumah sakit berstandar internasional dengan akreditasi JCI1," ujar Dokter Fiktor.

"Kami optimistis dapat terus menangani kasus-kasus urologi, terutama kasus kompleks, dengan lebih presisi dan aman, dengan mengoptimalkan teknologi untuk memberikan manfaat nyata bagi pasien dan mendukung clinical outcome dan patient safety yang lebih baik melalui layanan yang berpusat pada pasien," lanjutnya.
Dr. Syamsu Hudaya selaku lead doctor bedah robotik urologi di MHJS menjelaskan bahwa sistem robotik berfungsi sebagai pendukung bagi dokter selama menjalankan operasi. Teknologi ini memungkinkan dokter memperoleh visualisasi dan kontrol yang lebih baik ketika menangani bagian tubuh dengan anatomi yang kompleks.

“Teknologi robotik tidak menggantikan peran dokter, tetapi menjadi perpanjangan tangan yang membantu meningkatkan visualisasi, kontrol, dan fleksibilitas selama tindakan. Robot membantu dokter dapat melihat area operasi dengan visualisasi 3D dan menggerakkan instrumen secara lebih presisi dan terkontrol, terutama pada area anatomi yang kompleks dan sempit, sekaligus mendukung pendekatan minimal invasif dengan sayatan yang lebih kecil," jelasnya. 

"Yang terpenting, teknologi ini harus memberikan manfaat nyata bagi pasien, seperti membantu mengurangi trauma pembedahan dan perdarahan, mendukung pemulihan yang lebih baik, hingga memungkinkan pasien kembali beraktivitas dan pulang lebih cepat sesuai kondisi klinisnya. Manfaatnya bukan hanya pada pemulihan fisik, tetapi juga kenyamanan dan kualitas hidup pasien. Pada akhirnya, teknologi dan kompetensi dokter harus berjalan bersama untuk memberikan clinical outcome yang lebih baik bagi setiap pasien," tambahnya.

Prof. Sanjai Kumar Addla yang hadir sebagai proktor dalam prosedur tersebut membawa pengalaman lebih dari 1.000 tindakan bedah robotik. Ia menilai teknologi robotik telah berkembang menjadi bagian dari praktik urologi modern di berbagai negara.

“Investasi Mayapada Healthcare dalam bedah robotik merupakan langkah yang tepat. Teknologi robotik bukan lagi standar masa depan, tetapi standar layanan saat ini, dan kini menjadi standar pelayanan di Mayapada Hospital. Mayapada Hospital telah menunjukkan penguasaan teknologi robotik dan teknik bedah berstandar internasional, kontrol teknis, dan pengambilan keputusan klinis untuk memastikan prosedur yang aman dan efektif. Saya percaya penerapan teknologi robotik di Mayapada Hospital menjadi langkah penting dalam pengembangan layanan urologi di Indonesia sekaligus memberikan pasien akses terhadap teknologi medis dan pilihan terapi berstandar global di dalam negeri,” ujar Prof. Sanjai.

Chief Medical Officer Mayapada Healthcare, dr. Dini Handayani, MARS, FISQua, FIPC, turut menekankan pentingnya pengembangan kompetensi dalam penerapan teknologi medis. Kolaborasi dengan dokter dan ahli internasional dinilai menjadi salah satu cara untuk memperkuat kemampuan klinis tenaga kesehatan di Mayapada Hospital.

“Bagi kami, continuous improvement berlandaskan tiga pilar: people, process, dan technology. Teknologi robotik saja tidak cukup; teknologi harus didukung kompetensi dokter, pelatihan terstruktur, kolaborasi multidisiplin, dan standar internasional. Dari sisi process, kami mengembangkan protokol ERAS (Enhanced Recovery After Surgery) untuk mendukung pemulihan lebih cepat dan memperluas penerapannya dari ortopedi ke bidang lain, termasuk urologi. Pengembangan kapabilitas klinis melalui kolaborasi internasional menjadi katalis bagi kami dalam mendorong clinical outcome dan pengalaman pasien yang lebih baik dengan layanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care),” tutup dr. Dini.





 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH